1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. HOT NEWS
Surat terbuka dari mahasiswa di Jepang untuk Ketua BEM UI, Halus tapi menohok

Penulis : Queen

9 Februari 2018 08:56

mahasiswa lulusan Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan itu mengomentari keputusan Zaadit yang memberikan 'kartu kuning' pada Jokowi.

Planet Merdeka - Setelah surat terbuka dari dokter dan guru di Papua, Zaadit Taqwa kembali dapat surat serupa dari mahasiswa di Jepang. Zaadit Taqwa adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas indonesia (BEM UI) sedang menjadi sorotan.
Nama Zaadit sendiri pertama kali mencuat setelah dirinya meniup peluit sambil menunjukkan kartu kuning layaknya wasit sepakbola pada Presiden Joko Widodo. Peristiwa itu terjadi saat keduanya menghadiri Diesnatalis kampus UI, Jumat (2/2/2018) kemarin. Aksi Zaadit berhasil terekam kamera dan beredar luas di media sosial.

Sebelumnya, aksi Zaadit ini menarik perhatian seorang dokter dan guru yang bertugas di wilayah Asmat, dr Yafer Yanri Sirumpang dan Sigit Arifian. Keduanya memberikan surat terbuka Zaadit.

Kini, giliran mantan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) bernama Endro Rianto yang mengeluarkan pendapatnya. Melalui akun Facebook @EndroKakachui, mahasiswa lulusan Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan itu mengomentari keputusan Zaadit yang memberikan 'kartu kuning' pada Jokowi.

Berikut ini isi surat terbuka Endro untuk Zaadit.

"Kartu kuning untuk Jokowi
President BEM UI mengatakan bahwa belum pernah ke suku asmat, tetapi dengan melihat berita yang ada di media kita bisa tahu segimana penderitaan masyarakat Papua.
duh dek, media mana yang adek baca? sudah diklarifikasi kebenarannya belum?
oke mari kita bantu untuk cari solusi jika memang tujuannya adalah membantu suku asmat.
1. klarifikasi apakah berita itu benar atau tidak? kalau adek belum bisa ke sana, adek kan presiden BEM.
setahu saya presiden seluruh BEM indonesia pasti ada forumnya, jadi cara klarifikasinya adek kontek aja presiden BEM paling dekat dengan suku asmat, Presiden BEM universitas Cendrawasih Contohnya. atau justru ada dari mahasiswa di universitas Cendrawasih itu dekat dari suku asmat malah sangat membantu. pokoknya cari sumbernya yang terpercaya. Tabayun.
2. Jika benar adanya rakyat suku asmat masih menderita, trus apa yang bisa kita lakukan sebagai seorang mahasiswa.
OK pertama berorasi agar pemerintah cepat menyelesaikan masalah, apakah ada solusi yang ditawarkan? nah kalau belum, diskusikan sebelum berorasi, jadi memberi kritikan dengan solusi.
contohnya : karena di sana belum banyak puskesmas jadi tingkat kesehatan rendah, kami meminta bantu pemerintah untuk membuatkan puskesmas atau menambah armada kesehatan ke sana karena jumlah tenaga dengan jumlah penduduk yang sakit tidak seimbang, - tentu bawa data bukan hanya omogngan.... dan solusi-solusi lainnya.
3. kalau sudah orasi dan punya solusi tapi tidak digubris pemerintah, kan BEM punya ikatan seluruh mahasiswa yang seindonesia tadi, buat kegiatan bhakti di sana, kumpulin dan musywarahkan dengan BEM seluruh Indonesia. tapi kan uangnya gk ada, trus waktunya juga untuk kuliah?
oke saya tahun 2013 mengikuti kegiatan pramuka perguruan tinggi se-Indonesia, kita hidup bareng bahkan mandi di sungai bersama masyarakat dan itu biaya nya dapat dari DIKTI waktu itu. Masak jaman now gak ada biaya untuk kegiatan sekelas BEM dari Dikti. kalau memang tidak ada mungkin karena kegiatannya justru kurang menarik. Kalau masalah waktu, meninggalkan kuliah seminggu katakanlah pas libur semester bukannya lebih abdol, trus caranya bagaimana panitianya bagaiamana ngaturnya? itu lah tempat kita belajar.
4. Adek dan Pak Jokowi kan sama-sama seorang presiden.
Pertanyaannya seberapa banyak yang sudah adek sumbangkan ke Indonesia dibanding Pak Jokowi? Saya bukan berarti membela pemerintah, tapi kalau melihat adek memberi kritik tanpa ada solusi, apalagi tak mengerti kondisi di sana itu justru merepotkan diri. Bagusan mana mengkritik tanpa henti atau memberi solusi tanpa henti. Tentunya sambil memberdoa buat kemajuan negeri. Jadi aktivis itu perlu, tapi jadi mahasiswa solutif itu lebih bermutu.
salam Mahasiwa, dari mantan mahasiswa.
Jepang, 8 Feb 2018,"

Surat dari Jepang untuk Zaadit Taqwa

Sayangnya, sekarang postingan tersebut sudah tidak ada di wall Endro Kakachui. Meski begitu, unggahan itu sempat viral dan jadi perbincangan netizen.

2 dari 2 halaman
  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : queen

KOMENTAR ANDA

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam