1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. HOT NEWS
Merasa cukup tahu masalah Asmat lewat buku dan media, ini tulisan Guru Muda untuk Ketua BEM UI

Penulis : Queen

9 Februari 2018 11:54

Nama Zaadit Taqwa, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas indonesia (BEM UI) kini menjadi sorotan usai meniup peluit sembari menunjukkan kartu kuning layaknya wasit sepakbola pada Presiden Joko Widodo. Peristiwa itu terjadi saat keduanya menghadiri Diesnatalis kampus UI, Jumat (2/2/2018) kemarin. Aksi tak biasa Zaadit berhasil terekam kamera dan beredar luas di media sosial dan menjadi viral.
Rabu (7/2/2018) malam, Zaadit Taqwa juga hadir dalam acara talkshow Mata Najwa, bersama beberapa ketua BEM dari Universitas ternama lainnya. Dalam acara ini, para ketua BEM ini dipertemukan dengan beberapa petinggi negeri.

Salah satu yang hadir dan memberikan kritikan atas aksi Zaadit adalah Adian Napitupulu, anggota DPR sekaligus mantan aktivis mahasiswa. Ia menyarankan para mahasiswa terjun ke lapangan langsung sebelum mengkritisi pemerintahan sekarang.

Menanggapi hal itu, Zaadit menjawab bahwa berita-berita yang ada sudah cukup menjelaskan bagaimana kondisi tanah air saat ini. Jadi, tanpa turun langsung, agaknya kondisi sudah terlihat jelas di berita-berita yang beredar.

Jika sebelumnya aksi Zaadit ini menarik perhatian seorang dokter yang bertugas di wilayah Asmat, dr Yafet Yanri Sirumpang. Kini, giliran guru bernama Sigit Arifian yang mengeluarkan curahan hatinya. 

Sigit merupakan salah satu guru yang ditugaskan di Papua. Ia juga pernah bertugas di daerah Asmat, salah satu daerah yang disebutkan oleh Zaadit. Melalui akun Instagram @sigit.arifian, pria berkacamata itu seolah menuliskan kalimat panjang yang merespon pernyataan Zaadit.
Berikut ini isi curhatan Sigit, guru yang bertugas di Papua.
"Biar aku saja yang ke Papua, kau tak akan kuat.
Pertama aku ingin titip pesan buat adik2 mahasiswa jangan berkoar-koar secara berlebihan tanpa mengetahui fakta di lapangan apalagi cara penyampaiannya tidak pada tempatnya, ga beretika menurutku.
Oia, aku sudah setahun tinggal di pedalaman Papua, hidup menyatu bersama masyarakat jadi bolehlah aku sedikit memberikan gambaran mengenai kondisi sesungguhnya di pedalaman papua.
Salah satu persoalan yang sedang heboh saat ini adalah mengenai gizi buruk di asmat. Aku bukan orang kesehatan tapi aku meyakini gizi buruk itu bukan semata masalah kurangnya tenaga kesehatan melainkan efek dari kemiskinan dan pendidikan rendah.
Kenapa sih masalah kemiskinan dan rendahnya kualitas pendidikan masih belum teratasi hingga saat ini, apa kendalanya.
Kendala pertama di papua adalah kondisi medan dan geografisnya.
Untuk menjangkau masyarakat di kampung-kampung sangat sulit sekali, dimana harus melewati gunung-lembah, melintasi laut, sungai bahkan rawa-rawa.
Makanya pemerintah saat ini mengenjot pembangunan infrastruktur guna membuka akses daerah sulit, bandara-bandara dan pelabuhan yang terus dibangun dan diperbesar,
harga bbm satu harga (udah jalan kebijakannya meski di lapangan ada “seseuatu” yang mengganjal), hal yang langsung kurasakan adalah menyaksikan pembangunan di distrik tempatku mengajar, distrikku berada di perbatasan Papua Nugini,
saat ini sudah di bangun puskesmas, tower telekomunikasi meski belum beroperasi dan sedang dalam proses survey untuk pembangkit tenaga surya).
Namun itu semua hanyalah bangunan kosong tanpa SDM yang menjalankan, Nah kendala kedua ya itu SDM, Papua sangat kurang SDM mulai dari tenaga kesehatan, insinyur, guru.
Mengabdi di Papua itu sulit jika tidak pake hati apalagi hanya mengejar uang.
Bagi tenaga medis yang melayani dipedalaman-pedalaman terpencil Papua, mereka harus menempuh perjalanan yang jauh, harus berjalan kaki berjam-jam hingga berhari-hari sambil memikul obat dan perlengkapan medis lainnya.
Bagi guru yang mengajar di pedalaman harus hidup dengan ketiadaan akses sinyal, tanpa listrik PLN, transportasi ke kota yang sulit, biaya hidup mahal karena bbm aja bisa 50-70rb
jadi jangan kaget di pedalaman papua, mata uang paling kecil itu 5rb, akses air bersih yang sulit karena di sebagian daerah hanya mengandalkan air hujan, bisa tidak mandi berhari-hari saat kemarau, bahkan di beberapa wilayah nyawa taruhannya.
Makanya banyak pegawai-pegawai yang tidak betah untuk bekerja dan memilih untuk secepatnya pulang,
Jadi pesanku yang kedua, kalau memang peduli dengan papua, kuliah dulu lah yang benar jadilah orang yang ahli dibidangmu, pas udah lulus ajak teman-temenmu ramai2 datang ke papua dan tunjukkan secara nyata kontribusi kalian sesuai kompetensi yang dimiliki.
FYI, aku udah balik ke Jakarta barangkali ada yang mau ngobrol2 sharing pengalamanku satu tahun mengajar di papua, sambil liat foto"
Postingan yang baru diunggah pada hari Rabu (7/2/2018) tersebut sudah disukai lebih dari 5.500 kali. Tak heran jika banyak netizen yang memuji aksi guru muda tersebut.

2 dari 6 halaman
  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : queen

KOMENTAR ANDA

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam