1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. HOT NEWS
PANCASILA SEBAGAI PEDOMAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL

Penulis : Rajulan L. Midran

8 Januari 2019 17:22

#Rajulan L. Midran

Jakarta. Merdeka.Com. Pendidikan adalah suatu usaha untuk mempengaruhi manusia, agar ia bersedia dan mampu mewujudkan apa yang ia pandang sebagai makna eksitensi manusia di dunia ini.

     Manusia itu satu-satunya makhluk Tuhan yang berbudi dan bermasyarakat. Karena budi ini manusia membudayakan masyarakatnya. Dengan demikian terbina budi pekerti atau cara hidup pribadi orang seorang dan kebudayaan atau cara hidup masyarakat.

      Makna eksistensi manusia di dunia ini adalah membina budi pekerti seperti yang di amanatkan di ideology pancasila dan turut membina kebudayaan sesamanya demi kebaikan pribadi sekeluarga, kebaikan sesame bangsa, dan sesame manusia.

Pendidikan Nasional

      Yang dimaksudkan dengan pendidikan nasional ialah pendidikan yang khusus ditunjukan kepada warga Negara “Nasion” dalam arti bangsa bernegara dan berdaulat, maka eksistensi warga Negara (Nasion) adalah turut serta mewujudkan apa yang menjadi cita-cita bersama sebagai nasion.

      Dan cita-cita ini bagi kita sebagai nasion Indonesi ialah kebudayaan nasional yang memungkinkan terwujudnya masyarakat tertip dan damai, adil dan makmur yang dijiwai nilai-nilai hidup yang bersumber pada pancasila.

      Untuk mewujudkan ini diperlukan pengetahuan dan ketrampilan, ilmu dan teknologi di samping moral pancasila yang terinci sekali.

Seumur Hidup

    Moral pancasila sebaiknya dapat dihayati dalam kenyataan hidup sehari-hari melalui suasana pendidikan, baik di  dalam lingkungan keluarga, maupun didalam lingkungan perguruan ataupun di dalam lingkungan masyarakat ramai. sedangkan pengetahuan dan ketrampilan, ilmu dan teknologi tidak hanya dapat di peroleh secara normal di dalam perguruan, akan tetapi juga secara nonformal melalui kursus atau cara-cara lain.

     Ini berarti bahwa pendidikan nasional harus berlangsung seumur hidup, dan tidak terbatas pada lingkungan pendidikan formal di perguruan kita.

      Serupa dengan pendidikan agama, maka pendidikan moral pancasila harus di laksanakan dari lahir samapi mati serta diadakan di lingkungan keluarga, perguruan, dan masyarakat ramai. Sedangkan penghayatan dan peresepan kebenaran dan keadilan nilai-nilai hidup pancasila ini hanya dapat berlangsung secara wajar, bila suasana pendidikan bersifat persuasive dan edukatif.

Among

     Persuasive dalam arti melalui pembuktian yang nyata dalam perbuatan dan teladan, dan edukatif dalam arti dengan penuh kasih saying dan perhatian, pengertian dan kesabaran.

     Suasana persuasif dan edukatif ini oleh Ki Hadjar Dewantara disebut suasana pendidikan Among Yang dirumuskan dengan:

     Tutwuri handayani

     Ing madya mangun karsa

     Ing ngarsa sung tuladha

Cara mendidik yang bersifaf paksaan dan ancaman, bujukan dan rayuan ataupun yang menggunakan bahan moral pancasila sebagai bahan hafalan untuk naik kelas atau lulus ujian hanya akan menghasilkan pengabdi pancila dalam bibir dan semboyan saja, dan hanya akan memupuk semangat mumpung, penjilat, dan adilan moral pancasila pun, belum pula dapat menjamin bahwa kita yang menghayati dan meresapinya akan mampu untuk setia secara konsisten kepada moral pancasila.

    Untuk benar-benar menjadi manusia yang takwa, yakni yang setia secara konsisten kepada apa yang diyakini benar dan adil, tidak hanya diperlukan penghayatan  dan peresapan, akan tetapi juga kemampuan untuk mencegah, untuk  menanggung dan untuk mencegah, untuk menanggung dan untuk mengatasi penderitaan yang menjadi akibat dari kesetiaan kita kepada keadilan dan kebenaran.  Karena pengkhianatan dan penyelewengan dari apa yang kita yakini benar dan adil, sering disebabkan oleh ketakutan dan ketidak tahanan kita. Untuk menderita.

Kedewasaan Mental

 Untuk dapat mencegah, menaggung, dan mengatasi penderitaan, diperlukan kedewasaan mental yang memungkinkan kita mengatur kehidupan kita serta bersikap terhadap kenyataan hidup sedemikian rupa sehingga kita dalam keadaan apapun dapat memelihara kedamaian dan ketentraman jiwa kita, kedaulatan pribadi, dan rasa harga diri kita, serta rasa solidaritas dengan sesame warga masyarakat dan rasa turut bertanggung jawab atas nasib mereka.

    Ciri orang yang bermental dewasa ialah di samping kemampuan untuk mandireng pribadi di dalam memenuhi kebutuhan hidup pribadi sekeluarga juga kemampuan untuk menghadapi dan menanggapi kenyataan hidup secara otonom dan sukarela. Kritis, objektif, aktif, kreatif, rendah hati dan terbuka serta dapat menerima kenyataan secara ikhlas dan penuh rasa tanggung jawab pribadi.

     Manusia Merdeka Lahir dan Batin

 Jelaslah, bahwa manusia yang bermental dewasa mampu untuk secara konsisten menjadi pengabdi kepada apa yang ia yakini benar dan adil.

     Oleh karena itu, pendidikan nasional kita yang mencita-citakan terwujudnya manusia dan masyarakat pancasila bertugas untuk mendewasakan mental manusia Indonesia.

      Bagi Ki Hadjar Dewantara, manusia bermental dewasa ini adalah manusia yang yang merdeka lahir dan batin, yakni manusia yang mampu untuk membina kehidupa pribadi yang salam dan bahagia, dan turut membina kehidupan masyarakat tertib dan damai. Tidakklah rasa mampu itu rasa merdeka? Dan tidak pula rasa salam dan bahagia, serta rasa tertip damai itu, rasa merdeka, bebas dari rasa menderita dan rasa dipaksa?

 

                                                                                   Jakarta, 5 Januari 1978

  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : rajulan-l-midran

KOMENTAR ANDA

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam