1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. HOT NEWS
Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Asal Tanjung Baringin yang Lulus S2 di Columbia University

Penulis : Kang Aladin

12 Januari 2019 13:25

Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Asal Tanjung Baringin yang Lulus S2 di Columbia University

"Hasil tak akan pernah mengkhianati usaha". Yusp, mungkin pepatah ini sangat tepat untuk menggambarkan perjuangan seorang anak dari keluarga petani asal Tanjung Beringin, Dairi, Sumatera Utara untuk meraih gelar pendidikan S2 di Universitas ternama di Amerika Serikat.
Robinson Sinurat atau yang akrab disapa Obin berhasil membuktikan pada semua orang bahwa anak seorang petani seperti dirinya juga bisa meraih pendidikan tinggi bahkan lulusan dari Universitas Prestisius Columbia, di New York, Amerika Serikat.

Perjuangan Obin demi pendidikan

Meski Obin hanyalah anak dari seorang petani kopi dan sayur, namun berkat semangat dari kedua orang tua dan tekad yang kuat dalam dirinya, ia berhasil mewujudkan impian yang dianggap orang disekitarnya tidak mungkin.

Perjuangan obin untuk mendapatkan gelar S2 pun tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Ada banyak perjuangan dan rintangan yang ia harus lewati.

Selama bersekolah pun, Obin selalu punya keinginan untuk bisa masuk ke sekolah bonafit seperti sekolah swasta berfasilitas lengkap.

Akan tetapi, mengingat kedua orang tua Obin hanyalah seorang petani dengan pendapatan yang tidak seberapa dan itupun sudah habis untuk biaya sekolah kakak-kakaknya, maka impian tersebut pun sepertinya hanyalah sekedah impian.

Namun, Obin percaya bahwa rezeki masing-masing pasti berbeda dan memiliki moto hidup “Be honest. Be brave. Be willing” yang selalu ia tanamkan dalam dirinya.

Ketika di giliran akun mau masuk ke sekolah, contohnya mau masuk SMP, mau masuk SMA, selalu terkendalam dengan keungan." Ujar Obin saat dihubungi VOA Indonesia belum lama ini.

"Jadi mereka selalu bilang coba ke negeri dulu aja, kalau masuk negeri keungan kita bisa mencukupi."

Saat Obin duduk di bangku SMP di Medan, ia juga sempat tinggal bersama orang tua dan mengurus adik-adainya yang masih SD.

Belajar, memasak, dan mencuci bahu merupakan tugas sehari-harinya. Hingga akhirnya orang tua Obin memituskan untuk memindahkan adik-adiknya Obin ke tempat kakanya di pulau Jawa.

Mengikuti keinginan Bapak dan Mamak, begitulah Obin memanggil Orangtuanya, ia selalu semangan untuk belajar hingga menjadi juara. Saat kelas 3 SMA, Bapak dan Mamak berpesan padanya.

"Kalo kamu enggak masuk kuliah negeri, kita enggak sanggup biayain. Jadi kamu harus masuk kuliah negeri. Kalang enggak ya belajar setaun lagi." Kenangnya.

Pesan inilah yang menjadi semangat baru baginya untuk berjuang masuk ke Universitas negeri. Ia mengikuti ujian SMBPTN dan mendaftar ke Universitas Padjajaran, Bandung dan Universitas Sriwijaya, Palembang.

Awalnya, ia mengira akan berakhir di Bandung. Namun, akhirnya ia diteri di Universitas Sriwijaya si Palembang, dengan jurusan Fisika. Dimana jurusan tersebut bukanlah jurusan yang ia inginkan.

Perjuangan Obin tidak berhenti saat itu, ketika ia sudah diterima, ia kembali menghadapi kendala biaya.

Orang tua Obin mengatakan tidak ada biaya dan mengajurkannnya untuk mencoba lagi tahun depan.mengingat banyak anak-anak indonesia yang memiliki cita-cita masuk kep perguruan tinggi negeri tetapi tidak lolos, Obin pun menganggap ini merupakan suatu kesempatan berharga baginya.

Ia pun memutuskan untuk meminjam uang sebanyak 3 juta rupiah pada seorang teman dekatnya. Ini Obin lakukan untuk membayar uang pendaftaran sekitar 2.4 juta rupiah dan tiket naik bisa dari Bandung ke Ppalembang.

Awal baru di Universitas Sriwijaya

Setibanya di kampus Universitas Sriwijaya, Obin pun harus memilikirkan bagaimana cara untuk membayar tempat tinggal (kos) dengan sisa uang yang tinggal 250 ribu rupiah.

Namun siapa yang menyangka, ketika menemani temannya mencari tempat tinggal (kos-an), ia pun turut ditawari untuk tinggal bersama salah satu penjaga kos yang mereka datangi.

"Kalau memang kamu mau, kamu tinggal sama saya aja, tapi ya namanya juga kamar penjaga kos-an ya, enggak ada apa-apa, dan sempit."

"Nanti kamu bayarnya terserang aja berapa dan kapan. Kalau kamu ada uang aja dibayar, tapi kalau uang listrik bayarlah ya, maksudnya paling cuma 10 apa 20 puluh ribu per bulan gitu." Ujarnya

Saat masalah tempat tinggal selesai, ia pun kembali memikirkan uang untuk membayar buku praktikum dan biaya hidup sehari-hari, khususnya makan.

Untuk menyiasati hal ini, Obin membuat strategi hanya makan satu kali dalam sehari di kantin kampus di waktu sore hari, agar bisa mengganjal rasa lapar hingga keesokan harinya.

Untuk sepiring nasi serta lauknya, ia harus membayar sekitar Rp 6000 sampa Rp 7000.

Agar bisa meneruskan kuliah, Obin lalu disarankan oleh dosen pembimbing dan sekan untuk mendaftar beasiswa dari PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) dan BBM (Bantuan Belajar Siswa).

Mengingat nilainya yang selalu bagus sejak SMA serta adanya doa dari orang tua, Obin pun mendapatkan beasiswa di semester dua hingga lulus.

Sedangkan untuk bertahan hidup, ia pun mencari peruntungan kerja dengan mengajar pelajaran fisika di sekolah bimbingan belajar di pusat kota Palembang yang berjarak sekitar satu jam dari kampusnya.

Terjun ke bidang sosial di Palembang

Minat Obin di bidang sosial tumbuh saat tinggal di Palembang. Ia dikenal aktif dalam berorganisasi, salah satunya tergabung di Youth Interfaith Community, American Association of Petroleum Geologist, dengan jabatan sebagai ketua perkumpulan warga Batak. Dan mendirikan organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Geofisika.

Setelah lulus, Obin pun pindah ke Jakarta untuk menerima tawaran kerja sebagai koordinator program di bidang kepemudaan di Global Peace Foundation.

Saat di Jakarta, ia juga pernah bekerja di kementerian PU (Pekerjaan Umum) sebagai seorang konsultan.





  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : kang-aladin-1023720

KOMENTAR ANDA

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam