1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. INSPIRA
Viral Foto Bocah 5 Tahun Mengintip Anak-anak Seumurannya Sekolah

Penulis : Moana

20 November 2019 14:14

Viral foto seorang bocah mengintip dari balik pintu

Dunia tengah dihebohkan dengan sebuah foto yang viral yang terjadi di selatan Kota Hyderabad, India. Dalam foto yang viral tersebut nampak seorang bocah yang berusia 5 tahun tengah mengintip ke ruangan kelas yang didalamnya terdapat anak-anak yang sedang belajar.

Bocah tersebut diketahui bernama Divya. Divya tinggal di lingkungan kumuh di daerah tersebut. Bocah pemalu itu kini tengah menjadi selebritas di wilayah tempat tinggalnya setelah fotonya viral.

2 dari 13 halaman

Diterbitkan sebuah harian

Dalam foto tersebut, Divya nampak memegangi sebuah mangkung alumunium seraya mengintip dari balik pintu ke ruangan kelas sekolah negeri yang ada di sekitar tempat tinggalnya. 

Foto menyentuh ini pertama kali diterbitkan oleh salah satu harian Telugu. Foto itu diterbitkan pada 7 November 2019 lalu dengan judul “Tatapan Lapar”. Dalam waktu yang sangat cepat, foto tersebut pun kemudian menarik perhatian banyak orang yang melihatnya. 
3 dari 13 halaman

Ayah Divya merasa sedih

Bahkan seorang pegiat hak-hak anak pun membagikan foto tersebut di media sosial Facebook. Dalam postingan tersebut ditulis bahwa “seorang bocah kembali ditolak haknya atas makanan dan pendidikan”. Hal itupun langsung berdampak baik. Pimpinan sekolah tersebut kemudian mendaftarkan Divya sebagai siswa barunya pada keesokan harinya. 

Ayah Divya, M Lakshman justru mengaku bahwa foto dan kegaduhan yang muncul tersebut dirasanya tak adil. Bukan hanya untuknya tetapi juga sang istri, Yashoda yang sehari-hari mereka bekerja sebagai tukang sapu. Lakshman pun mengaku sedih melihat foto tersebut. 

"Saya merasa sedih ketika melihat foto itu," katanya. 
4 dari 13 halaman

Digambarkan sebagai anak yatim

Dilansir dari BBC, Lakshman mengaku bahwa dirinya dan sang istri akan bekerja keras untuk masa depan sang anak. Namun, dalam foto itu Divya justru digambarkan sebagai anak yatim yang kelaparan. 

"Divya memiliki orang tua dan kami bekerja keras untuk memberinya masa depan yang baik - tetapi dia digambarkan sebagai anak yatim yang kelaparan,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Lakshman pun mengatakan bahwa dirinya menunggu Divya berusia 6 tahun untuk kemudian mendaftarkan putrinya itu ke sekolah negeri yang dilengkapi dengan asrama. Menurut Lakshman, kedua putrinya juga kini tengah belajar di sana. 

Pasangan ini juga memiliki seorang putra, yang telah menyelesaikan sekolah dan saat ini mendaftar ke perguruan tinggi sambil membantu ayahnya, yang bekerja sebagai tukang sapu.
5 dari 13 halaman

Menunggu usia Divya 6 tahun

Lebih lanjut, Lakshman pun mengatakan bahwa dirinya menunggu Divya berusia 6 tahun untuk kemudian mendaftarkan putrinya itu ke sekolah negeri yang dilengkapi dengan asrama. Menurut Lakshman, kedua putrinya juga kini tengah belajar di sana. 

Pasangan ini juga memiliki seorang putra, yang telah menyelesaikan sekolah dan saat ini mendaftar ke perguruan tinggi sambil membantu ayahnya, yang bekerja sebagai tukang sapu.

6 dari 13 halaman

Pendapatannya cukup besar

Divya dan orang tuanya tinggal di sebuah gubuk satu kamar yang berada di kawasan kumuh Kota Hyderabad. Kawasan tersebut berada sekitar 100 meter dari sekolahan negeri tempat Divya dipotret. Sebagian besar dari 300 keluarga yang tinggal di kawasan tersebut adalah pekerja harian dan anak-anak mereka bersekolah di dekat situ. Di depan rumahnya nampak timbunan plastik dan gelas yang siap dijual dan didaur ulang. 

Lebih lanjut, Lakshman mengatakan, bahwa penghasilannya dengan sang istrinya setiap bulannya sekitar 10.000 rupee atau hampir Rp 2 juta. Pendapatan sebesar itu kemudian mereka gunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya ditanggung oleh negara atau gratis. Lakshman tahu apa artinya berjuang: dia sendiri tumbuh tanpa orang tua dan selalu membanting tulang untuk mencari nafkah yang layak.

"Saya tidak pernah menginginkan anak-anak saya memiliki kehidupan seperti saya. Jadi, saya harus memastikan bahwa mereka bersekolah,” ujarnya. 
7 dari 13 halaman

Ikut merawat anak-anak adiknya

Foto tersebut, menurut Lakshman sangat menyakitkan bagina. Karena dirinya juga harus membesarkan lima anak dari saudara laki-lakinya. Lakshman pun mendaftarkan para keponakannya tersebut ke sekolah serta ikut merawat mereka. 

"Adik dan ipar saya meninggal beberapa waktu yang lalu. Saya tidak ingin lima anak mereka tumbuh sebagai anak yatim. Jadi, saya mendaftarkan semuanya di asrama dan merawat mereka," ujarnya. 
8 dari 13 halaman

Divya ke sekolah untuk mengambil makan siang

Ketika ditanya mengapa Divya pergi ke sekolah negeri dengan mangkuk di tangan, Lakshman menjelaskan bahwa di lingkungan tempat tinggalnya banyak anak-anak dari kawasan kumuh pergi ke sana saat waktu makan siang untuk mendapat makan siang gratis. Mereka mengetahui ada makan siang gratis di sekolah itu lantaran kakak dan adik mereka juga terdaftar di sana. Dan diakui oleh Lakshman sebenarnya Divya tak pergi ke sekolah tersebut setiap hari. Namun, di hari itu, ternyata ada orang yang memotretnya. 

"Divya tidak pergi setiap hari, tetapi dia kebetulan pergi pada hari itu dan seseorang memotretnya," jelasnya.
9 dari 13 halaman

Penuturan guru sekolahan tersebut

Dilansir dari BBC, sejumlah guru di sekolah tersebut mengatakan bahwa sejumlah siswa membawa makan siang dari rumah, sehingga sisa makanan dari layanan makan gratis akan diberikan kepada anak-anak yang belum bergabung. 

"Anak-anak adalah anak-anak. Lantaran tak ada pusat penitipan anak, banyak anak-anak bermain di pelataran sekolah," kata seorang guru, yang tak ingin namanya disebutkan. 
10 dari 13 halaman

Tak ada tempat penitipan anak

Sementara itu, Lakshman dan tetangganya mengakui kurangnya anganwadi atau pusat penitipan anak yang disponsori pemerintah, di lingkungan mereka. Sehingga hal tersebut menjadi sebuah persoalan yang besar di kawasannya. Pasalnya, banyak orang tua yang tak memiliki tempat untuk meninggalkan anak-anak mereka ketika tengah bekerja. 

Terkait hal ini, Kepala sekolah negeri setempat, SU Shivram Prasad, mengatakan bahwa dirinya berharap perhatian yang dihasilkan oleh kehadiran foto Divya tersebut bisa mempercepat proses pendirian pusat penitipan anak di kawasan tersebut. 

"Keberadaan pusat penitipan yang disponsori pemerintah itu akan membantu orang tua dan anak-anak agar mendapat makanan bergizi," tambahnya.
11 dari 13 halaman

Berharap bisa diperhatikan

Para guru di sekolah itu juga berharap bahwa sorotan media terhadap Divya tersebut bisa berdampak pula pada peningkatan perbaikan fasilitas sekolah. Para guru di sekolah tersebut juga mengatakan bahwa saat ini, pihaknya kekurangan staf.

Bukan hanya itu mereka juga mengatakan bahwa bahan ajarnya selama ini amburadul. Dan sekolah itu bahkan tidak memiliki pagar pembatas, sehingga mereka harus terus-menerus mengawasi anak-anak selama jam istirahat.
12 dari 13 halaman

Divya nampak senang

Meski demikian, Divya nampak begitu bersemangat untuk pergi ke sekolah. Divya nampak berkeras untuk membawa tas sekolahnya ke mana-mana, bahkan ke taman bermain. Lakshman pun mengatakan bahwa putrinya merupakan sosok yang sangat tenang. 

"Dia anak yang sangat tenang," kata Lakshman, ketika putrinya memegang tangannya dan menciumnya.

13 dari 13 halaman

Lakshman merasa bahagia

Bukan hanya itu, Lakshman pun mengatakan bahwa terlepas dari segala persoalannya, foto Divya tersebut telah memberikan banyak manfaat bagi dirinya dan kelaurganya. 

"Sekarang anak-anak lain yang seusia Divya juga mendaftar di sekolah. Jadi itu membuatku bahagia,” pungkasnya. 

  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : moana

KOMENTAR ANDA

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam