1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. LIFESTYLE
Kurangnya Komunikasi menyebabkan Keretakan Keluarga

Penulis : Fi Na

6 Juli 2021 16:10

Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Keluarga adalah sistem terkecil dalam kehidupan sosial. Dimana setiap individu di dalam keluarga belajar berinteraksi dan bermasyarakat. Keluarga yang harmonis merupakan impian setiap insan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Suasana hubungan yang baik dapat terwujud dalam suasana yang hangat, penuh pengertian, penuh kasih sayang satu dengan lainnya sehingga dapat menimbulkan suasana yang akrab dan ceria. Terciptanya hubungan yang harmonis ini adalah terciptanya komunikasi yang efektif, sehingga untuk membentuk suatu pernikahan yang harmonis antara suami dan istri perlu adanya hubungan interpersonal yang baik antara suami dan istri dengan menciptakan komunikasi yang efektif. 

Nyatanya, individu yang membentuk sebuah keluarga tidak ada yang sempurna sehingga menyebabkan perbedaan pendapat dan beberapa perdebatan yang tentunya sudah lazim adanya. Tidak dapat di pungkiri memang sebuah komunikasi yang baik dapat menjadi dasar berkeluarga dan menciptakan keluarga yang harmonis.

Keluarga adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga. Menurut Suprajitno, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

Disharmoni keluarga terjadi karena dalam sebuah rumah tangga atau keluarga tidak ada lagi keselarasan arah dan tujuan oleh masingmasing anggota, terutama adalah pemegang pilar keluarga yaitu suami dan istri. Pemenuhan kasih sayang dan cinta tidak akan terpenuhi jika di dalamnya mengalami pertengkaran atau perselisihan, sehingga keharmonisan tidak terjalin.

Di era global kini, banyak sekali terjadi disharmonisasi keluarga yang berujung pada perceraian atau perpecahan keluarga. Kurangnya komunikasi antara suami dan istri dapat menimbulkan rasa tidak percaya dan pikiran-pikiran negatif sehingga sering terjadi kesalahpahaman yang dapat menimbulkan konflik. Konflik yang berlarut larut membuat hubungan suami istri menjadi renggang dan menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif sehingga pernikahan menjadi tidak harmonis. Banyak contoh disekeliling kita yang menjadi korban dari disharmonisasi keluarga.

Alvin Faiz merupakan anak dari seorang ulama terkenal di Indonesia yaitu alm. KH. Ilham Arifin, Alvin yang menikah pada usia 19 tahun dengan seorang muallaf Cina berusia 21 tahun berujung kandas. Usut punya usut hal ini terjadi karena banyaknya kesalahpahaman komunikasi yang diterapkan dalam rumah tangga.

Anak akhirnya sering kali menjadi korban. Perceraian sering kali menyebabkan tugas-tugas dan tanggung jawab yang seharusnya bisa dipikul antara suami dan isteri akhirnya hanya dilakukan oleh salah satu di antaranya. Fenomena menjadi orang tua tunggal di jaman sekarang ini sering kita jumpai. Menjadi orangtua tunggal tentunya bukan sesuatu yang ideal untuk perkembangan dan pertumbuhan anak di mana anak-anak masih membutuhkan kehangatan kasih sayang dari kedua orangtua secara maksimal. Lebih dari itu, anak-anak juga masih membutuhkan model peranan kedua orangtua untuk diikuti oleh si anak.

  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : fi-na

KOMENTAR ANDA

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Artikel Lainnya