1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. LIFESTYLE
Sadari Perilaku Catcalling Pada Ruang Publik

Penulis : Adllyn Rizky Raisha

17 Juni 2021 06:45

Apa itu perilaku Catcalling ?

Planet Merdeka - Banyak kegiatan yang secara tidak sadar telah kita lakukan dalam ruang publik. Kegiatan tersebut tidak hanya kegiatan yang positif, tetapi juga kegiatan negatif. Ruang publik memang memiliki arti yang luas. Dengan adanya ruang yang diberikan oleh publik maka secara tidak sadar akan menimbulkan kominukasi. Kegiatan komunikasi terjadi apabila terdapat dua arah komunikasi pada kedua belah pihak. Setelah komunikasi terjadi maka kedua belah pihak akan mendapatkan sebuah informasi.

Sangat disayangkan kegiatan komunikasi terkadang dilakukan tidak pada fungsinya. Hal ini karena komunikasi yang dilakukan hanya satu arah atau hanya satu pihak saja. Sehingga akan menyebabkan komunikasi menjadi tidak nyaman dan tidak menarik. Selain itu secara tidak sadar komunikasi itu kan menjadi sebuah kriminalitas. Bagaimana bisa komunikasi bisa menjadi sebuah kriminalitas ? mari simak penjelasan berikut.

            Kriminalitas bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Berbagai kegiatan kriminalitas terjadi setiap harinya tanpa kita sadari dalam ruang publik. Salah satu contohnya adalah pelecehan seksual. Ruang publik merupakan sasaran empuk untuk pelaku melakukan pelecehan seksual . Kegiatan ini tidak hanya dapat dilakukan secara fisik tetapi juga secara verbal. Kegiatan ini biasa dinamakan dengan istilah catcalling. Istilah catcalling sudah tidak asing didengar oleh telinga kita, terutama pada kota-kota besar. Saat ini perilaku tersebut sudah berkembang dan menjadi sebuah fenomena di ruang publik. Catcalling adalah tindakan yang dilakukan perorangan atau bergrombol dengan melontarkan perkataan kasar kepada lawan jenis. Kegiatan ini dapat berupa siulan, sapaan, atau bahkan komentar yang bersifat menggoda. Catcalling bahkan dapat menurunkan martabat dan harkat korban. Kegiatan ini bisa terjadi oleh siapa saja tidak hanya pada wanita tetapi dapat juga terjadi pada laki-laki. Kegiatan catcalling masih sering dianggap hal yang ringan karena tidak ada kerugian fisik, tetapi hal ini tetaplah bentuk pelecehan seksual meskipun dilakukan dalam bentuk verbal.

            Kegiatan pelecehan secara verbal ini biasanya terjadi pada wanita tetapi tidak jarang kegiatan ini terjadi pada laki-laki. Perbedaan kegiatan catcalling yang terjadi pada laki-laki dan wanita hanya terdapat pada perbedaan lokasi. Wanita biasanya merasakan catcalling pada ruang publik, sedangkan laki-laki biasanya merasakanya pada dunia virtual (sosial media). Ketika seseorang terus menerus dilecehkan di tempat umum, hal tersebut dapat berdampak pada psikis korban. Bukan hanya pada psikis korban tetapi juga beberapa aspek kehidupan korban. Penyebab lain adalah pakaian yang digunakan oleh wanita atau laki-laki tersebut dirasa kurang pantas. Korban wanita kerap kali menyalahkan diri sendiri dan mengalami penurunan tingkat percaya diri atas apa yang telah terjadi. Sedangkan pada laki-laki banyak yang beranggapan bahwa perilaku catcalling sebagai bentuk pujian terhadap dirinya, walaupun terkadang terdapat orang yang tidak menerima perilaku catcalling.

  • Bentuk perilaku catcalling yang sering terjadi

            Meski banyak yang mengatakan bahwa catcalling adalah bentuk pujian, namun faktanya banyak perempuan yang merasa tidak aman dengan hal tersebut. Pada sudut pandang psikoligi wujud pelecehan seksual secara verbal dilakukan dengan wujud ucapan/perkataan yang yang ditujukan pada orang lain dan mengaruh pada konotasi negatif.

Berdasarkan jurnal yang berjudul “PENGARUH KOMUNIKASI VERBAL CATCALLING TERHADAP RASA TAKUT PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK (Studi Pada Siswi SMA Swasta Al Kautsar Bandarlampung)” menjelaskan pelecehan dapat berwujud sebagai berikut:

1. Bercandaan

            Menggoda lawan jenis atau sejenis dengan niat sebuah candaan. Mengajukan pertanyaan seputar seksual dalam diskusi atau obrolan yang sedang tidak membahas seksualitas.

2. Bersiul

            Melakukan siulan kecil kepada lawan jenis atau sesama jenis. Hal ini merupakan sebuah pelecehan seksual. kegiatan ini sering terjadi sehingga membuat orang yang dituju merasa tidak nyaman.

3. Menyampaikan keinginan

            Menyampaikan keinginan dalam kegiatan catcalling bukanlah merujuk pada hal yang positif, melainkan merujuk pada hal negatif. Menyampaikan keinginan pada orang yang tidak dikenal secara seksual merupakn hal yang tidak sopan. Karena dapat menggangu kenyamanan seseorang.

4. Berkomentar atau mengkritik

            Mengomentari bentuk fisik seseorang dan mengarah pada bagian-bagian seksual. Contohnya membicarakan bentuk lekuk tubuh seorang perempuan atau ukuran alat kelamin laki-laki.

Dalam ruang publik perilaku catcalling biasa terjadi antar individu dan individu, individu dan kelompok, dan yang terakhir kelompok dan kelompok. Komunikasi yang dilakukan saat melakukan catcalling berbeda dari komunikasi biasanya. Karena efek yang disebabkan dari catcalling adalah korban terasa tertekan, takut atau bahkan merasa terintimidasi.
  • Penyebab terjadinya Catcalling menurut pandangan Biopsikologi


            Tidak jarang laki-laki melakukan catcalling pada lawan jenisnya karena beranggapan bahwa itu merupakan salah satu cara untuk “menempatkan perempuan pada tempatnya”. Mereka merasa percaya diri dan merasa dirinya lebih dominan dari lawan jenisnya. Laki-laki melakukan catcalling untuk mendapatkan interaksi dengan lawan jenis yang ia anggap menarik dan layak mendapat perhatian. Walaupun tujuan melakukan catcalling tidak membahayakan fisik dan tidak berniat untuk merendahkan korban, perilaku ini masih tetap menjadi isu sosial karena sebagia korban tetap merasa dilecehkan secara verbal dan tidak nyaman dengan hal tersebut.

            Setiap individu memiliki perbedaan dalam aktifitas seksualnya. Mulai dari frekuensi aktivitas seksual, preferesi tipe aktivitas seksual, dan orientasi seksual. Perilaku catcalling yang sering terjadi ini pastilah memiliki sebab. Menurut pandangan psikologis hal ini terjadi karena laki-laki dapat menikmati kenikmatan seksual yaitu pada sekitar umur 15-25 tahun. Kenikmatan seksual pada laki-laki terjadi pada testosteron berada pada level maksimal. Tidak menutup kemungkinan perilaku catcalling merupakan sebuah aktivitas seksual pada beberapa individu. Hal ini mungkin dikarenakan ketertatikan terhadap banyak pasangan pada laki-laki. Tidak semua orang menyadari hal tersebut, akan tetapi perilaku ini memang terjadi. Perilaku dapat mempengaruhi sekresi hormon. Walaupun tidak ada kasus yang memperlihatkan hormon dapat menimbulkan perilaku seksual, tetapi hormon merubah cara otak merespon beragam stimulus. Bukan hanya itu , hormon dapat mengubah sensitivitas pada penis,vagina, dan serviks (Etgen, Chu, Fiber, Karkanias, & Morales, 1999).

  • Cara agar tidak menjadi korban catcalling

            Perilaku catcalling pada ruang publik memang tidak bisa kita hindari. Tetapi terdapat beberapa cara agar kita tidak menjadi korban perilaku tersebut, yaitu salah satunya dengan tetap diam. Dalam Psikologis manusia mengatakan perilaku catcalling dapat menyenangkan pikiran, menghibur diri, dan menyegarkan pandangan. Tetapi dalam agama Islam dapat kita hindari dengan cara menjaga pandangan. Terkadang menjaga pandangan dialihkan dengan mengatakan “cuci mata”. Dalam ruang publik semua bebas melakukan hal apapun. Bukan berarti hal ini dapat dilakukan secara sepihak sehingga dapat menimbulkan perilaku catcalling. Perintah untuk menjaga pandangan yaitu adalah menundukkan pandangan (ghadhdhul bashar), sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Nur, ayat 30-31. Yang artinya berbunyi:

 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat (30).

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung (31).”


Menundukkan pandangan bukan berarti kita harus memejamkan mata atau mengarahkan pandangan mata menghadap tanah, tetapi kita memandang seseorang tidak disertai dengan syahwat. Orang tersebut harus mengarahkan atau mengendalikan pandangan apa yang ia lihat. Mengarahkan pandangan diarahkan pada sesuatu yang diperbolehkan pada agama. Maka jika seseorang tersebut tidak sengaja melihat kepada sesuatu yang dilarang, hendaknya mengalihkan atau berpaling dan diam.

            Namun jika kita tertarik pada orang tersebut berusahalah untuk tidak melakukan catcalling. Cara lain agar tidak melakukan perilaku tersebut adalah dengan cara mendekati dan memberi pernyataan positif dengan sopan pada orang yang dituju. Berkenalan dengan orang yang dituju juga merukapan cara untuk menghindari perilaku catalling.

Referensi


Etgen, A. M., Chu, H.-P., Fiber, J. M., Karkanias, G. B., & Morales, J. M. (1999). Hormonal integration of neurochemical and sensory signals governing female re- productive behavior. Behavioral Brain Research, 105, 93-103. (11)

Hidayat, A., & Setyanto, Y. (2019). Fenomena Catcalling sebagai Bentuk Pelecehan Seksual secara Verbal terhadap Perempuan di Jakarta. Koneksi, 3(2), 485-492.

Nirwana, D. (2019). Menjaga Pandangan Dalam Islam. https://www.uin-antasari.ac.id/menjaga-pandangan-dalam-islam/ (Diakses pada 14 Juni 2021)

Pratama, D. W. (2020). PENGARUH KOMUNIKASI VERBAL CATCALLING TERHADAP RASA TAKUT PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK (Studi Pada Siswi SMA Swasta Al Kautsar Bandarlampung).

Syifa, N. (2021). HUBUNGAN KONDISI PSIKOLOGIS DENGAN PERILAKU   CATCALLING PADA REMAJA PUTRI DI KELURAHAN SUNGAI BESAR TAHUN 2020 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Kalimantan MAB).

Zulfi, F.(2021). Catcalling: Sejarah, Penyebab, dan Akibat pada Korban. https://www.orami.co.id/magazine/catcalling-sejarah-penyebab-dan-akibat-pada-korban/ (Diakses pada 14 Juni 2021)
 

  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : adllyn-rizky-raisha

KOMENTAR ANDA

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Artikel Lainnya