1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. METRO
Kesedihan Ayah Seorang Pemuda di Bogor, Anaknya Meninggal Terperosok 7 Meter Saat Jadi Imam Salat

Penulis : Queen

3 Desember 2019 12:36

Ijul meninggal dunia saat jadi imam salat Isya

Planet Merdeka - Pemuda asal Kabupaten Bogor meninggal dunia saat menjadi imam salat. Pemuda itu bernama Muhammad Sirajul Milal (22) atau kerap disapa Ijul. Ijul meninggal dunia pada Sabtu (30/11/2019) kemarin.

Ijul yang merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini meninggal dunia saat menjadi imam salat isya di musala Pesantren Ilmu Giri, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogori, Bantul.

Keluarga juga terkejut mendengar kabar Ijul meninggal dunia saat menjadi imam salat. Bahkan, keluarga sempat tak percaya saat mendapat kabar Ijul meninggal dunia.

2 dari 11 halaman

Keterangan pihak polisi

Ayah Ijul, Dede Setiadi (47) menuturkan, ia mendapat kabar Ijul meninggal dunia Sabtu malam sekitar pukul 21.00 WIB. Dede Setiadi mendapat kabar Ijul meninggal dunia dari Bulek (tante).

Untuk diketahui bahwa selama kuliah di UIN Sunan Kalijaga, Ijul memang tinggal di tantenya di Yogyakarta.

"Cuman kabar itu gak jelas, dari telepon HP itu karena sambil panik, nangis-nangis, neleponnya cuma, ijul, ijul om, cepet pulang, akhirnya mungkin karena itu sudah di rumah sakit, HP-nya dikasih ke polisi kemudian menjelaskan bahwa (Ijul) sudah di rumah sakit, sudah dinyatakan meninggal."

3 dari 11 halaman

Mushola amblas


"Katanya lagi imam, mesjidnya ambruk. Itu kan saya belum tahu posisinya seperti apa, kronologisnya, sempet pikir ini mau nipu apa bukan sih, soalnya malem-malem," kata Dede Setiadi di kediamannya, Senin (2/12/2019).

Dede mengaku bahwa kabar itu datang dari temannya sendiri yang mengirimkan foto KTP almarhum. Orang tersebut mendapat sebaran via WhatsApp kemudian pesan itu diteruskan ke Dede.

"Dia nge-share, ini kayaknya kenal. Ini anak saya, saya bilang. Di-share kabarnya ke saya," kata Dede.

Dede lalu disuruh ke Bogor oleh tante korban untuk ke Yogyakarta. Dede mengaku sempat berangkat dari Bogor sekitar pukul 22.00 WIB malam. Namun setelah sampai di Jakarta, perjalananannya dibatalkan karena Dede mendapat kabar dari keluarga di Yogyakarta bahwa jenazah segera dikirim ke Bogor malam itu juga.

4 dari 11 halaman

Ayah Ijul kaget saat dengar sosok anaknya

Pada Minggu (1/12/2019) sekitar pukul 01.30 WIB, almarhum diberangkatkan menggunakan ambulans dari Yogyakarta dan tiba di Bogor sekitar pukul 10.00 WIB pagi. Kekagetan ayah dengar cerita tentang sosok anaknya.

Dede mengaku lebih kaget lagi saat mendengar cerita tentang sosok almarhum yang tak diketahuinya semasa hidup. Cerita itu ia dengar dari para pelayat yang datang saat almarhum dikebumikan pada Minggu (1/12/2019) tak jauh dari rumahnya di Gunungputri. Dede menjelaskan bahwa anak pertama dari dua bersaudara itu jarang menjadi imam di kampungnya sendiri di Bogor. Termasuk enggan saat disuruh untuk memberikan kultum atau tausiyah.

"Kalau pulang disini di mesjid disuruh imamin, gak mau. Jul, ayo imamin, siapa yang nerusin papa nanti ?, Ah gak berani, katanya. Kalau disuruh kultum di sini juga gak mau, gemeteran katanya, suka grogi.

Tetapi sudah meninggal, orang-orang cerita bahwa dia sering ngimamin dimana-mana, suka ngasih tausyah. Saya kaget sama sekali, masya Allah. Ternyata anak saya ada kegiatan soleh yang saya tidak tahu dari dia, dia nutupin dari saya. Saya tahunya dari pelayat-pelayat itu," ungkap Dede.
5 dari 11 halaman

Kesedihan ayah Ijul


Dede juga mengaku bahwa saat itu perasaannya campur aduk antara rasa sedih tapi juga bangga. Sebab anaknya yang diyakini meninggal dalam keadaan syahid yakni saat mendirikan salat.

"Sedih, bangga pokoknya campur aduk. Cuman kalau melihat fotonya, barang-barang dia, suka sedih lagi. Wajar lah manusiawi ya, yang penting kita harus sadar memang itu takdirnya di situ, meninggal saat melaksanakan salat, saat bersuci. Itu cukup bagi saya menyatakan anak saya syahid menurut Islam. Saya aja akhir hayat saya belum tentu bisa begitu," kata Dede.
6 dari 11 halaman

Kronologi kejadian

Ijul merupakan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat memimpin salat Isya, Ijul tiba-tiba saja terperosok sumur sedalam 7 meter pada Sabtu (30/11/2019). Nyawanya tak terselamatkan. Ijul saat itu sedang melakukan makrab bersama sekitar 100 mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ketika malam mereka menggelar salat Isya berjamaah. Ijul yang ditunjuk untuk menjadi imam salat Isya berjamaah. Ketika sujud di rakaat ketiga, lantai mushala tempat M Sirajul Milail berdiri tiba-tiba saja ambruk. Sedangkan di bawah lantai tersebut ada sumur sedalam 7 meter.
7 dari 11 halaman

Keterangan saksi


Imam salat Isya itu terperosok ke dalam sumur yang berisi air dengan kedalaman tiga meter. Teman-teman korban tentu saja berteriak meminta tolong pada warga sekitar.

Seorang warga yang mendengar teriakan minta tolong, Wardoyo mencoba menolong. Wardoyo yang mengaku tidak bisa berenang nekat turun ke dalam sumur.

"Saya itu tidak bisa berenang, tetapi karena niate (ingin) menolong."

"Kepikiran cuma satu pakai selang air tak tarik, lalu saya turun. Korban sudah tidak kelihatan," jelasnya dikutip dari Kompas.com.
8 dari 11 halaman

Tubuh korban berada di dasar sumur


Setelah beberapa kali menyelam ke dalam air sumur yang dingin sambil tetap berpegangan kepada tali dan selang, akhirnya Wardoyo dapat meraih tubuh korban yang sudah berada di dasar sumur.

"Posisi saya sudah menyentuh (korban) (bagian) seperti kain gitu, saya keinginan, sudah sesak nafas. Masnya (teman korban) turun dan mengangkat (korban)," lanjut Wardoyo.
9 dari 11 halaman

Tak ada kecurigaan bangunan akan ambrol

Korban langsung dilarikan ke RSUD Panembahan Senopati Bantul. Sementara  Wardoyo yang sudah sangat kelelahan dibawa ke Rumah Sakit Nur Hidayah untuk mendapatkan perawatan. Wardoyo bercerita sumur itu dibangun sekitar tahun 2005. Sementara bangunan mushalanya baru dibangun sekitar 2,5 tahun lalu.

Bangunan mushala sendiri terbuat dari kayu. Mulai dari lantai, atap hingga bagian atap yang dibuat dari bambu dan kayu. Wardoyo juga tidak menduga hal ini akan terjadi terlebih sebelum kejadian dia sempat membersihkan musala dan melihat kondisi lantainya masih kokoh.

"Saya ke sana paginya, sebelum kejadian itu. Di tempat ambrol itu tidak ada kecurigaan (tanda) rusak," terang Wardoyo.
10 dari 11 halaman

Kondisi Musala


Namun memang bangunan di area Pesantren Ilmu Giri memang tidak rutin digunakan. Bangunan di area itu hanya digunakan ketika bertepatan dengan kegiatan mahasiswa baru.

"Digunakan musiman kalau pas momen mahasiswa baru. Digunakan untuk acara-acara saja," terang Wardoyo.

"Termasuk musala. Warga setempat biasanya menggunakan untuk salat dan mujahadah namun tidak rutin."

"Hanya Selasa Pon saja," lanjut Wardoyo.

Musala Pesantren Ilmu Giri sendiri berbentuk panggung dan beralaskan bambu dengan luas 7 x 7 meter persegi. Kini tempat pengimaman di mana korban terjatuh itu sepi dan sudah ditutup papan.
11 dari 11 halaman

Kejadian murni kecelakaan


Kegiatan makrab yang dilakukan oleh sekitar seratus orang mahawasiswa UIN Sunan Kalijaya Yogyakarta itu pun telah dihentikan. Sementara itu, Kapolsek Imogiri, Kompol Anton Nugroho sudah membenarkan kejadian tersebut.

"Korban terperosok. Saat rakaat ketiga saat melaksanakan sujud, tiba-tiba jatuh terperosok," terangnya.

"Murni (kecelakaan) Mas, sudah ada visum dan penyelidikan dari Infis Polres Bantul tadi malam," tambahnya.
  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : queen

KOMENTAR ANDA

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam