1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. METRO
Pamit Bertemu Teman Usaha di Cafe Penjara, Seorang Wanita di Gresik Ditemukan Tewas

Penulis : Moana

11 September 2019 16:37

Seorang wanita ditemukan tewas

Aksi pembunuhan yang menggegerkan warga kembali terjadi. Seorang wanita bernama Hadryil Choirun Nisa'a (25) dibunuh oleh temannya dari kecil. Nisa merupakan warga Dusun Ngering RT 2/RW I Desa Sukoanyar, Kecamatan Cerme, Gresik.

Nisa dibunuh oleh temannya yang bernama Sholahudin Alayubi atau Ayub. Ayub tega membunuh Hadryil lantaran ia terlilit utang. Usai menghabisi nyawa Nisa, Ayub membawa kabur barang-barang berharga milik korban.

2 dari 13 halaman

Janjian ketemuan

Kerjadian pembunuhan itu bermula ketika Nisa dan Ayu janji bertemu di Cafe Penjara Cerme Gresik pada Selasa (10/09/2019) sekitar pukul 18.00 WIB. 

Sepulang dari kerja, Nisa pun pamit ke orang tuanya hendak menemui Ayub. Nisa menuju ke Cafe Penjara Cerme mengendarai sepeda motornya seorang diri. 
3 dari 13 halaman

Pelaku memancing dengan kucing

Mengetahui korban sudah tiba di Cafe Penjara Cerme, Ayub yang sudah berada di dalam, memancing korban dengan kucing. Ayub sengaja membawa kucing karena ia tahu tentang hewan kesukaan Nisa.

Setelah Nisa masuk ke dalam kafe, pelaku pun menutup pintu gerbang dan kemudian memeluk korban dari belakang. Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Gresik, AKBP Wahyu S Bintoro dengan didampingi Kapolsek Cerme, AKP Iwan Hari Poerwanto pada Rabu (11/09/2019).

"Kucing ini untuk memancing korban masuk ke dalam kafe. Setelah korban masuk, pelaku langsung menutup pintu gerbang. Setelah itu, pelaku memeluk tubuh korban dari belakang," kata Wahyu. 
4 dari 13 halaman

Pelaku membekap dan mencekik korban

Saat itu, Nisa sempat berteriak untuk meminta tolong. Namun, kondisi kafe ternyata sudah sepi karena beberapa bulan terakhir sudah tutup. Mengetahui Nisa berteriak, Ayub pun langsung membekap mulut korban. Bukan hanya membekap mulutnya, Ayub juga mencekik leher Nisa hingga pingsan. 

"Karena korban masih gerak-gerak, kemudian dilanjutkan membekap dan mencekik kedua kalinya sampai korban meninggal dunia. Setelah itu, korban dilucuti celana dan perhiasannya," imbuhnya.
5 dari 13 halaman

Pelaku pulang

Setelah itu, Ayub kabur dengan membawa tas beserta perhiasan korban ke rumah yang lokasinya ternyata tak jauh dari Cafe Penjara Cerme.

Tiba di rumahnya, Ayub kemudian mandi. Setelah itu, Ayub pergi ngopi ke warung kopi yang ada di sekitar tempat tinggalnya. 
6 dari 13 halaman

Warga curiga

Aksi pembunuhan itu terungkap ketika ada warga yang curiga usai melihat dua orang yang masuk Cafe Penjara Cerme, namun yang keluar hanya satu orang. Hingga akhirnya, pihak kepolisian memanggil pengelola kafe tersebut. 

"Dari kecurigaan itu, warga akhirnya melaporkan ke Polsek. Setelah itu, anggota ke lokasi sambil memanggil pengelola kafe," imbuhnya.
7 dari 13 halaman

Mayat korban ditemukan tergeletak

Polisi akhirnya menemukan mayat Nisa di area Cafe Penjara Cerme tersebut. Saat itu mayat Nisa tergeletak di pos penjagaan. Ia berada di dalam karung. 

"Korban digeletakkan di pos penjagaan samping pintu gerbang dalam karung sak sambil dibubuhi serbuk kopi. Kemudian akan dikubur di area kafe itu, tapi terburu tertangkap," kata Wahyu.
8 dari 13 halaman

Pelaku ditangkap

Saat penggeledahan, polisi menemukan perhiasan, ponsel dan barang-barang milik korban ada di dalam jok motor milik Ayub. Bukan hanya itu, pihak kepolisian juga menyita kandang kucing serta cangkul untuk dijadikan sebagai barang bukti. 

"Akhirnya, pelaku langsung ditangkap di rumahnya tanpa ada perlawanan. Tidak sampai tiga jam sudah tertangkap," imbuhnya.
9 dari 13 halaman

Mengincar barang berharga korban

Sementara itu, Ayub mengaku nekat merampas perhiasan Nisa'a karena terbelit utang sekitar Rp 5 juta. Ayub pun mengaku dirinya hanya mengincar perhiasan dan hanphone milik korban. 

"Saya hanya mengincar perhiasannya dan HP-nya (telepon selulernya). Ternyata dia memberontak. Saya langsung menyekapnya. Tidak ada niatan untuk membunuhnya," kata Ayub.
10 dari 13 halaman

Kenal sejak kecil

Ayub juga mengakui sudah mengenal korban sejak kecil. Menurut Ayub, kala itu, Nisa memberontak ketika ia meminta perhiasan wanita tersebut. 

"Sudah kenal sejak kecil dengan Nisa, sehingga karena saat minta perhiasannya memberontak, langsung saya bekap. Ternyata sampai meninggal dunia," imbuhnya.
11 dari 13 halaman

Cerita ibu korban

Sementara itu, ibunda Nisa mengatakan bahwa putrinya pamit dari rumah usai magrib. Dan ibu korban menuturkan bahwa Nisa pamit untuk bertemu teman usahanya. Namun, hingga malam hari, Nisa tak kunjung pulang dan ketika dihubungi tak bisa. 

"Anaknya masih pakai seragam kerja. Habis magrib keluar rumah untuk menemui teman usahanya. Ternyata, sampai malam hari saya WA (WhatsApp) hanya centang," kata ibu korban. 
12 dari 13 halaman

Diberitahu sang anak kecelakaan

Lantaran tak kunjung mendapat balasan dari Nisa, keluarga pun mencoba untuk mencari keberadaannya. Hingga akhirnya, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Ibu Nisa mendapat informasi bahwa sang putri kecelakaan. 

"Saya sekitar pukul 00.30 WIB dijemput pak lurah untuk diajak ke rumah sakit. Infonya, anak saya kecelakaan," imbuhnya.
13 dari 13 halaman

Tak menyangka pelaku membunuh korban

Tangis ibu korban pun pecah setelah melihat anaknya terbaring tak bernyawa. Ibu korban tak menyangka bahwa anaknya menjadi korban pembunuhan temannya sendiri.

"Kok tega sekali pelakunya. Padahal juga teman dan saya anggap keluarga sendiri pelakunya itu. Orang tuanya juga baik dan pernah usaha bersama dengan almarhum ayahnya," imbuhnya sambil menatap kain yang menutup wajah anaknya.
  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : moana

KOMENTAR ANDA

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam