1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. METRO
Sedang Menunggu Kedatangan Ibunya, Seorang Santri di Kota Cirebon Ditusuk Orang Tak Dikenal Hingga Tewas

Penulis : Moana

9 September 2019 11:20

Seorang santri jadi korban penusukan

Aksi penusukan kembali terjadi. Kali ini yang menjadi korban adalah seorang santri Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kabupaten Kuningan. Peristiwa ini terjadi pada Jumat (06/09/2019) lalu. Rozian meninggal usai ia ditusuk oleh orang tak dikenal. Rozian ditusuk di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Pelaku penusukan Rozian diketahui memiliki tato di beberapa bagian tubuhnya. Usai ditusuk oleh pelaku, Rozian kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunung Jati. Namun, nahas, nyawa Rozian tak bisa tertolong dan ia pun meninggal dunia.

2 dari 21 halaman

Didatangi orang tak dikenal

Sementara itu, terkait hal tersebut, Kapolres Cirebon Kota, Roland Ronaldy mengatakan bahwa dari keterangan saksi diketahui jika peristiwa ini bermula saat Rozian hendak bertemu dengan ibunya yang datang dari Kalimantan. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 20.30 WIB pada Jumat malam lalu. 

Saat itu, Rozian tak sendirian, ia bersama rekannya QG (17). Mereka menunggu di seberang Toko Buku Gramedia di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon. Namun, tiba-tiba ada orang tak dikenal yang menghampiri dua remaja tersebut. Orang tak dikenal itu menuding korban telah memukul temannya. Rozian pun membantah tuduhan tersebut. 
3 dari 21 halaman

Teman korban mencari pertolongan

Rozian mengaku bahwa dirinya tak tahu apa-apa tentang kejadian tersebut. Rozian pun mengatakan bahwa dirinya tak melakukan pemukulan. Sementra itu, QG langsung berlari meminta tolong warga ketika ia melihat bahwa pelaku membawa senjata tajam. 

"Seorang yang datang kemudian menanyakan, apakah yang bersangkutan (korban) memukuli temannya (pelaku). Setelah itu baru yang bersangkutan melakukan tindakan penusukan," kata Roland. 
4 dari 21 halaman

Sudah tergeletak bersimbah darah

Namun, saat QG kembali, Rozian sudah tergeletak dan ia menderita luka tusuk di dadanya. Bukan hanya itu, mulut korban juga mengeluarkan darah. Tak lama setelah kejadian itu, ibu korban pun tiba bersama QG. 

Saat itu, sang ibu langsung mengenali anaknya yang bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Didampingi ibunya, Rozian pun dibawa ke RSUD Gunung Jati untuk mendapatkan pertolongan. Namun, sayangnya, Rozian meninggal dunia. Rozian dimakamkan di kampung halamannya Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
5 dari 21 halaman

Awalnya diduga salah sasaran

Dari percakapan antara pelaku dan korban yang disampaikan oleh saksi, pihak kepolisian awalnya menduga bahwa Rozian merupakan korban salah sasaran. 

"Kemungkinan salah sasaran, cuman masih dalam penyelidikan," kata Roland.

Namun, Roland dan pihaknya langsung melakukan pendalaman atas kasus tersebut. Sejak mendengar kejadian, sejumlah petugas diterjunkan untuk memburu pelaku. Mereka langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi mata yang ada di lokasi kejadian.
6 dari 21 halaman

Pelaku miliki sejumlah tato

Roland juga mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah kamera pemantau di sekitar lokasi untuk membantu proses pengungkapan kasus tersebut.

Roland pun mengaku bahwa pihaknya telah berhasil mengantongi ciri-ciri pelaku. Menurut Roland dari hasil penyelidikannya, pelaku memiliki sejumlah tato di tubuhnya. 
7 dari 21 halaman

Pelaku ditangkap

Sementara itu, setelah dilakukan pendalaman terkuaklah sosok pelaku. Hal tersebut disampaikan oleh Satuan Reskrim Polres Cirebon Kota Jawa Barat pada Minggu (08/09/2019).

Pihak Polres Cirebon Kota telah mengamankan 2 orang pelaku. Pelaku berinisial YS dan RM. Keduanya masih berusia 19 tahun. 
8 dari 21 halaman

Amankan sejumlah barang bukti

Dalam gelar perkara di ruang Aula Tribata kantor Polres Cirebon Kota Minggu siang, pihak kepolisian pun menunjukan barang bukti senjata tajam yang menyerupai badik yang digunakan para pelaku untuk menusuk Rozian. Polisi juga sudah mengamankan sepeda motor yang dikendarai kedua pelaku saat melakukan aksi kekerasan itu. 

Di sisi lain, Kompol Marwan Wakapolres Cirebon Kota menerangkan babwa pelaku YS berperan sebagai eksekutor yang menusuk Rozian sedangkan pelaku RM bertindak sebagai pengendara sepeda motor.
9 dari 21 halaman

Korban diminta serahkan ponselnya

Saat melakukan aksinya, YS menuduh Rozian telah memukuli temannya. YS kemudian meminta ponsel milik Rozian. Namun, permintaan itu ditolah oleh Rozian. Pasalnya, ponsel itu ia gunakan untuk berkomunikasi dengan sang ibu yang tengah menuju ke Kota Cirebon dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

"Sistemnya acak. Menggunakan bahasa bahwa yang menjadi korban ini sudah memukul rekan dari tersangka dan diajak pergi. Itu korban pertama (Rozian) tidak mau dibawa, akhirnya terjadi penikaman," kata Marwan dalam gelar perkara.
10 dari 21 halaman

Pelaku YS menusuk korban dan mencari korban lain

Rozian menolak karena sedang menunggu kedatangan ibunya. Tanpa pikir panjang, YS pun kemudian menusukan senjata tajam yang yang dibawanya ke dada sebelah kanan Rozian. Rozian pun tergeletak dan bersimbah darah hingga akhirnya meninggal dunia. 

Tak dapat hasil, YS dan RM kembali mencari korban lain dengan modus yang sama, berpura-pura temannya telah dipukuli korban. YS mendapatkan dua korban ZM dan ZF, kemudian diminta naik motor. Karena diancam akan dibunuh, kedua korban kemudian menuruti perintah YS dengan naik satu motor diisi empat orang.
11 dari 21 halaman

Menguras barang korban

Marwan juga menuturkan bahwa pelaku membawa kedua korbannya itu ke kawasan Pesisir di Jalan Samadikun, Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon. Di lokasi tersebut, para pelaku kemudian menurunkan korban. Mereka juga menguras seluruh barang milik korbannya. Barang-barang korban yang diambil pelaku diantaranya dompet yang berisi ATM dan uang tunai. 

"Hasil penyelidikan anggota reskrim, pelaku dalam satu hari itu melakukan dua tindak pidana, yang pertama kasus pembunuhan, yang kedua pencurian dengan pemerasan dengan pemberatan atau penodongan,” jelas Marwan.
12 dari 21 halaman

Polisi memburu pelaku

Berbekal laporan korban yang kedua, polisi berhasil mengungkap dan memburu pelaku. Pasalnya, pihak kepolisian melihat adanya kemiripan kesaksian antara ZM dan ZF serta rekan Rozian.

Polisi kemudian memperlihatkan foto sejumlah residivis hingga ZM dan ZF mengenali wajah pelaku berinisial YS. Pelaku kemudian langsung diburu ke rumahnya, tetapi pihak kepolisian tak berhasil menemukan pelaku. Pihak keluarga pelaku pun menyebut bahwa pelaku sudah lama tak pulang ke rumahnya. Polisi pun terus mencari ke sejumlah tempat lain hingga akhirnya ditemukan.
13 dari 21 halaman

Pelaku YS baru bebas satu bulan lalu

Marwan pun membeberkan bahwa pelaku YS merupakan residivis kasus yang sama. Pelaku baru keluar dari penjara satu bulan yang lalu. Pelaku sebelumnya dihukum 2 tahun penjara atas kasus serupa. 

"YS residivis dan baru keluar penjara satu bulan lalu, setelah menjalani hukuman dua tahun dengan kasus yang sama, pemerasan. YS tertangkap di Cangkol berikut senjata tajam di dalam jok motor, dan RM di Cangkol Selatan,” tambahnya.
14 dari 21 halaman

Konsumsi obat-obatan terlarang

Pihak kepolisian pun terpaksa menembak kaki kedua pelaku karena pelaku berusaha melarikan diri ketika akan diamankan. Kedua pelaku juga telah mengakui penusukan yang mereka lakukan pada Rozian.

Kedua pelaku berdalih melakukan aksi penusukan dan pemerasan itu karena faktor ekonomi. Barang hasil pemerasan dijual dan uangnya untuk membeli obat-obatan terlarang. Bahkan saat penusukan, keduanya sedang mengonsumsi obat-obatan terlarang. 
15 dari 21 halaman

Dijerat pasal 338 dan 365 KUHP

Atas perbuatannya, YS dan MR yang masih berusia 19 tahun terancam pasal berlapis, yaitu Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman 15 tahun penjara dan Pasal 365 KUHP tentang pemerasan dengan ancaman 9 tahun penjara.

Meski kedua pelaku sudah ditangkap, namun pihak kepolisian hingga kini masih melakukan pendalaman atas dugaan pelaku terkait dengan geng motor atau jaringan lainnya. 
16 dari 21 halaman

Pihak pondok pesantren sampaikan bela sungkawa

Kepala Divisi Humas Pondok Pesantren Husnul Khatimah Kabupaten Kuningan, Sanwani menyampaikan, keluarga besar pondok pesantren mengungkapkan rasa bela sungkawa mendalam atas kejadian yang menimpa salah seorang santrinya tersebut. Mereka juga mendoakan agar Rozian berpulang dengan husnul khatimah.

“Insya Allah mati syahid. Sebab Rasulullah bersabda: barangsiapa keluar dari rumahnya dalam rangka mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah. HR Turmudzi. Ananda MR sedang menuntut ilmu di HK (Husnul Khatimah)," kata Sanwani. 
17 dari 21 halaman

Dikenal sebagai sosok yang berprestasi

Jenazah Rozian tiba di Pondok Pesantren Husnul Khotimah pada Sabtu (07/09/2019) dini hari, pukul 03.00 WIB. Kedatangan jenazah Rozian disambut oleh seluruh santri dengan penuh rasa duka. Mereka juga turut menyolatkan jenazah Rozian. 

Rozian ternyata sudah berada di pondok pesantren tersebut sejak lima hingga enam tahun lalu. Selama ini, Rozian dikenal sebagai sosok yang berprestasi. Santri yang duduk di bangku kelas XII IPA ini disebut menonjol di bidang seni design grafis. 
18 dari 21 halaman

Paling rajin

Salah satu hasil karyanya adalah saat mengikuti Event Ajang Remaja Berprestasi. Acara tersebut adalah acara tahunan tingkat nasional dengan panitia organisasi santri Husnul Khotimah. Sanwani menambahkan, tak hanya berprestasi, Rozian juga merupakan salah satu santri yang patuh dan selalu berangkat paling awal.

"Sejak dari MTs (Madrasah Tsanawiyah setingkat SMP) di Husnul Khotimah. Anaknya patuh dan nurut banget. Dia selalu berangkat sekolah paling awal," tambah Sanwani.
19 dari 21 halaman

Minta sang ibu lakukan hal ini

Sebelum kejadian, Rozian juga telah meminta sang ibu untuk membelikan oleh-oleh untuk teman yang ada di pondok pesantren tersebut. 

"Subhanallah, walau dalam kondisi duka yang mendalam, ibunda Rozian masih sempat menitipkan permintaan terakhir putranya," ujar Sanwani.
20 dari 21 halaman

Berikan oleh-oleh untuk teman sekamarnya

Oleh-oleh itu adalah hadiah terakhir yang diberikan Rozian untuk teman-teman kamarnya yang selama ini bersamanya di pondok pesantren tersebut. 

"Bingkisan (oleh-oleh) untuk dibagikan ke teman-teman kamar Rozian, dan ternyata itu adalah oleh-oleh terakhir dari Rozian buat teman-temannya," ujar Sanwani.
21 dari 21 halaman

Harapan Sanwani

Sanwani pun berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah setempat. Pemerintah perlu meningkatkan kembali tingkat keamanan dan kenyamanan agar tidak ada lagi korban berikutnya.

"Pelajaran buat pemerintah daerah untuk menjaga keamanan wilayahnya sebab tugas pemerintah daerah adalah menjaga keamanan dan kenyamanan warganya," kata Sanwani.
  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : moana

KOMENTAR ANDA

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam