1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. SEHAT
Apakah Siklus Menstruasi Mempengaruhi Suasana Hati ?

Penulis : Silvia Ramadhani

14 Desember 2020 10:41

Menstruasi bikin unmood

Planet Merdeka - Kalian tau gak sih ? Sebagian besar wanita ketika PMS merasa terjadi peningkatan emosional, sering merasa kelelahan, mengalami sakit kepala, perasaan mudah tersinggung, depresi, dan lain sebagainya. Apakah pernyataan tersebut benar ?

Tidak heran jika mendengar pernyataan wanita seperti ini “Saya merasa ‘unmood’ dikarenakan sedang PMS”. Ketika simton fisik dan emosional samar yang terjadi beberapa hari sebelum menstruasi dikategorikan bersama dan dilabeli dengan istilah “Premenstrual syndrome” PMS (Parlee,1994). Menurut kalian, apakah asumsi tersebut wajar untuk diterima?

Budaya dan PMS

Cerita mengenai PMS menggambarkan interkoneksi yang erat di antara perubahan fisik dan norma-norma kebudayaan, yang membantu menentukan bagaimana simton-simton fisik seseorang dilabeli dan diinterpretasikan (Chrisler & Caplan, 2002). Ketika wanita mengalami PMS sebagian menunjukan terjadinya perubahan simtom fisik seperti keram, payudara yang melembut, dan retensi air. Sehingga hal tersebut yang membuat wanita mencomel dan dijadikan kebudayaan bahwa PMS dapat membuat perubahan pada dirinya. Perlu diketahui bahwa yang merubah proses internal dan pergeseran kepribadian diri kita yaitu hormon yang terjadi pada wanita & pria. Ketika terjadinya perubahan hormon dapat menyebabkan seseorang tiba-tiba merasa depresi, lesu, mudah tersinggung, bahkan bukan dirinya.

Mengapa banyak wanita berpikir PMS ?

Kalian harus tau, wanita ketika mengalami penurunan suasana hati & peningkatan emosi berpendapat bahwa PMS menjadi pemicunya. Mayoritas periode pramenstruasi diabaikan atau memberi label simtom yang terjadi sebelum periode mesntruasi, seperti pendapat ini “ Saya mudah sekali tersinggung dan marah-marah, pasti sebentar lagi saya memasuki periode menstruasi” sebenarnya sikap wanita seperti ini dipengaruhi oleh sikap budaya dan mitos-mitos mengenai menstruasi. Sesungguhnya wanita tidak mengalami simtom yang pada umumnya berhubungan dengan “PMS”, bahkan ketika mereka sangat yakin bahwa mereka mengalaminya ( Hardie, 1997; McFarlane & Williams, 1994). Pemikiran simtom yang selalu berulang disebabkan pengaruh ekspetasi, kebudayaan, dan kepercyaan (Wade,2014).

Apakah fase Menstruasi Mempengaruhi Proses Berpikir ?

Ketika menstruasi sebagian besar wanita merasa mengalami penurunan berpikir, penurunan konsentrasi, tidak dapat bekerja dengan baik, dan tidak dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna. Bahkan saya pun pernah mengalaminya ketika mendapatkan nilai yang minimum dan berpikir bahwa “wajar saja sedang PMS, jadi tidak fokus “. Akan tetapi, fase siklus menstruasi tidak berhubungan dengan efisiensi kerja, penyelesaian masalah, peringkat, nilai ujian perguruan tinggi, kreativitas, atau perilaku sehari-hari lain yang penting (Earl-Novell & Jessop, 2005 ; Golub, 1992 ; Richardshon, 1992).

Nyatanya buah pikir negatif tentang perubahan emosi bukan berasal dari PMS, akan tetapi berasal dari hormon yang dapat membuat wanita berpikir bahwa “bukan dirinya” dan praduga yang di alami selama ini merupakan pengaruh kebudayaan, ekspetasi, dan kepercayaan. Sesungguhnya opini kita tergantung proses budaya yang membentuk (Garry, 2014).

Referensi:
· Garry, W.T.(2014).Psikologi. Jakarta:Erlangga

· Ramadani, Premenstual Syndrom, 2012

  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : silvia-ramadhani

KOMENTAR ANDA

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Artikel Lainnya