1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. SEHAT
Pandangan Pelecehan Seksual dalam Perspektif Psikologi dan Islam

Penulis : Mega Kartika Kirana_357

16 Juni 2021 15:51

Di masa sekarang, jumlah kejahatan sesual meningkat setiap tahunnya dan selalu saja korban yang paling banyak menerima pelecehan seksual adalah perempuan. Bukan hanya dari kalangan dewasa saja tetapi sudah merambah ke remaja, anak-anak, bahkan balita. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, pelaku dari pelecehan seksual itu adalah kebanyakan berasal dari lingkungan sekitarnya, antaranya lingkungan rumah, sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial anak.

Sebelum itu, apa sih pelecehan atau kekerasan seksual? Bagaimana pandangan pelecehan seksual dalam perspektif psikologi dan Islam? Lalu, apa aja sih faktor yang dapat memicu kekerasan seksual tersebut? Bagaimana cara untuk mengatasinya? Simak penjelasan dibawah ini, yuk!

Menurut Ricard J. Gelles (Noviana, 2015), kekerasan terhadap anak merupakan perbuatan yang disengaja dan dapat menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak baik secara fisik maupun emosional. Kekerasan seksual merupakan istilah yang menunjukan pada perilaku hubungan seksual yang menyimpang dan dapat merugikan pihak korban dan merusak ketenangan dalam masyarakat dan dapat memunculkan depresi tersendiri bagi korban kekerasan seksual.

Bentuk-bentuk pelecehan seksual

1.   Pada tingkatan pertama yaitu Gender Harassment.
Gender Harassment merupakan pernyataan tingkah laku yang bersifat merendahkan seseorang berdasarkan jenis kelamin (sexist).
Misalnya seperti, cerita porno atau gurauan yang mengganggu; kata-kata seksual yang kasar, kata-kata rayuan tentang penampilan seseorang, tubuh, ataupun kehidupan seseorang; memandang secara terus menerus, mengerlingkan mata ataupun melirik dengan cara yang tak pantas; memperlihatkan, memakai, atau mengunakkan benda-benda yang tidak pantas seperti, gambar, video porno, memberlakukan seseorang dengan cara berbeda karena berjenis kelamin  tertentu; dan kalimat-kalimat yang merendahkan tentang pilihan karir perempuan.

2.  Pada tingkatan kedua yaitu Seduction Behavior.
Seduction Behavior merupakan rayuan atau permintaan yang tidak senonoh bersifat seksual atau bersifat merendahkan tanpa adanya suatu ancaman.
Misalnya seperti, pembicaraan mengenai hal-hal yang bersifat pribadi; tindakan merayu seseorang; ajakan untuk berbuat tidak senonoh atau asusila; mengganggu privasi seseorang secara sengaja, serta mengganggu seseorang berupa menyebar gosip seksual seseorang.

3.  Pada tingkatan ketiga yaitu Sexsual Bribery.
Sexsual Bribery merupakan ajakan melakukan hal-hal yang berkenaan dengan perhatian seksual disertai dengan janji untuk mendapatkan imbalan-imbalan tertentu (hadiah kenaikan gaji atau jabatan).
Misalnya seperti, secara halus menyuap seseorang dengan gaji atau imbalan tertentu untuk melakukan tindakan-tindakan seksual (dipeluk, diraba, dicium, dibelai).

4.   Pada tingkatan keempat yaitu Sexual Coercion atau Threat.
Sexual Coercion atau Threat merupakan tekanan untuk melakukan hal-hal bersifat seksual dengan disertai ancaman baik secara halus maupun langsung.
Misalnya seperti, ancaman secara halus dengan pemberian hukuman karena menolak keinginan seksual seseorang, ancaman secara langsung atau terang-terangan dengan harapan seseorang mau melakukan tindakan seksual meskipun tindakan tersebut belum terjadi.

5.  Pada tingkatan kelima yaitu Sexual Imposition.
Sexual Imposition yang serangan atau paksaan bersifat seksual dan dilakukan secara kasar dan terang-terangan.
Misalnya seperti, menyentuh anggota tubuh yang vital dan sebagainya serta dengan sengaja memaksa untuk melakukan hubungan seksual.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Pelecehan Seksual

1.      Dominasi hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang.
2.      Perempuan di pandang sebagai objek pelampiasan seksual.
3.      Rasa iseng yang disebabkan oleh kurangnya etika dan moral yang kurang baik.

Dampak yang Dapat Ditimbulkan Akibat Pelecehan Seksual

Dilansir oleh Halodoc bahwa dampak pelecehan seksual memiliki trauma yang mendalam terhadap psikis korbannya dan tak jarang juga yang mengalami penurunan prestasi akademik maupun pekerjaan. Adapun beberapa dampak yang terjadi seperti, udah marah, merasa selalu tidak aman, mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, syok, frustasi, stress, dan bahkan korban selalu menyalahkan ataupun mengisolasi dirinya.

Tindakan pelecehan seksual memberikan resiko biologis terhadap korban seperti, sebelum pubertas organ-organ vital anak belum disiapkan untuk menerima hubungan intim. Apalagi untuk organ yang memang tidak ditujukan untuk berhubungan intim. Jika hal itu tetap dipaksakan, akan dapat merusak jaringan pada organ. Lalu contoh lainya, apabila korban memiliki tekanan mental yang memicu stress berat akan bisa menimbulkan beragam gejala pada fisik. Misalnya timbulnya masalah pada fungsi kardiovaskular, metabolisme dan sebagainya.

Selain hal itu, kebanyakan anak yang telah mengalami kekerasan seksual akan merasakan kriteria psychological dirsorder (PTSD), yang memiliki gejala berupa ketakutan yang intens terjadi, kecemasan yang tinggi, dan emosi yang kaku setelah peristiwa yang tidak senonoh tersebut.

Pandangan Pelecehan Seksual dalam Perspektif Islam.

Dalam agama Islam, perbuatan pelecehan seksual adalah perbuatan yang dangat tidak terpuji karena agama islam telah mengajarkan kepada setiap umat-Nya untuk saling menghormati kepada siapapun tanpa melihat posisi jabatan. Pelecehan seksual (bisa disebut dengan zina) menurut pandangan Islam merupakan perbuatan dosa yang mendapatkan sangsi tegas yang telat ditentukan baik didalam Al-Quran atupun sunnah. Adapun dalil yang mengatakan bahwa “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Q.S. Al-Israa’ ayat 32).
Maka dari itu, kita sebagai umat muslim setidaknya harus menjaga agar terhindar dari perbuatan zina tersebut.

Cara Menghindari Pelecehan Seksual

Dilansir oleh Klikdokter bahwa pelecehan seksual memberikan dampak yang buruk bagi keseharian korbanya. Setidaknya kita harus selalu waspada dan membentengi diri dari perilaku yang tidak patut tersebut. Adapun beberapa cara yang dapat digunakan untuk menjauh kan diri dari pelecehan seksual, seperti :

1.   Jaga penampilan
Hal ini perlu diperhatikan dikarenakan untuk mengindari pelecehan seksual harus dengan menjaga penampilan, khusunya perempuan. Hindari mengenakan pakaian berbahan minim ataupu terlalu ketat.

2.  Jangan mudah percaya.
Sebagai manusia yang dikatakan makhluk sosial, memang kita harus saling membantu dan saling membutuhkan satu sama lain. Tetapi tidak berarti kita bisa memberikan kepercayaan penuh kepada orang yang baru. Jadi, untuk menghindari pelecehan seksual setidaknya kita sedikit menjaga jarak dengan orang baru yang bukan keluarga atau teman yang dekat.

3.  Hindari obrolan berbau porno.
Obrolan berbau porno dapat menjadi awal topik untuk memulai perilaku pelecehan seksual. Dikarenakan obrolan semacam ini bisa membuat lawan bicara berfikir bahwa membuka diri ataupun terbiasa dengan hal yang berbau seksual. Maka, sebaiknya kita menghindari obrolan yang menjerumus ke topik tersebut apalagi ke orang yang baru dikenal.

4.  Berani bersikap tegas.
Kita tidak dilarang untuk bersikap ramah kepada siapapun. Tetapi kita harus menjaga image diri agar tidak dicap sebagai orang yang selalu memiliki fikiran dan bersikap terbuka terhadap apapun. Jika kita mendapatkan perilaku yang tidak senonoh di luar dugaan, segeralah ambil tindakan seperti lapor atau ceritakan ke anggota keluarga dan kerabat dekat terpecaya.

REFERENSI

Budhi, Nur. (Oktober, 2018). 4 Tips Sederhana untuk Hindari Pelecehan Seksual. Klikdokter. Bisa diakses dari https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3616246/4-tips-sederhana-untuk-hindari-pelecehan-seksual 

Fadli, Dr. Rizal. (Juli, 2020). Hati-Hati, Ini Dampak Pelecehan Seksual pada Psikis dan Fisik. Halodoc. Bisa diakses dari https://www.halodoc.com/artikel/hati-hati-ini-dampak-pelecehan-seksual-pada-psikis-dan-fisik

Noviana, Ivo. (2015). Kekerasan Seksual terhadap Anak : Dampak dan Penanganannya. Sosio Informa. Vol 1, No 1.

Ramadyan, Yahya. (2010). Pelecehan Seksual. (Tesis tidak terpublikasikasi). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.

  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : mega-kartika-kirana

KOMENTAR ANDA

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Artikel Lainnya