1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. BOLARIA
Piala Dunia 2018 Pecahkan Rekor Penonton Live Streaming

Penulis : Mulyono Sri Hutomo

3 Juli 2018 12:02

Piala Dunia tahun ini, telah memecahkan rekor pemirsa streaming dengan 7,7 juta pemirsa dari Asia, Eropa dan Amerika Utara.

Merdeka.com - Perusahaan analisa data Conviva, merilis data tentang Piala Dunia 2018 yang berlangsung di Rusia. Piala Dunia tahun ini, telah memecahkan rekor pemirsa streaming dengan 7,7 juta pemirsa dari Asia, Eropa dan Amerika Utara. Rekor ini dipecahkan dalam pertandingan antara Argentina-Islandia. Sebagai perbandingan, Piala Dunia 2014 tertinggi penonton live streaming hanya 3,2 juta penonton, dan Piala Dunia 2010 hanya 1,5 juta.

Kegiatan musiman seperti Piala Dunia dan Lebaran membutuhkan penyediaan layanan konektifitas yang dinamis dan berkinerja tinggi yang dapat ditingkatkan sewaktu-waktu. Seringkali penyedia layanan telekomunikasi kesulitan untuk memberikan pelayanan musiman pada saat dibutuhkan.

Untuk mengatasi tantangan ini dan juga tantangan perkembangan kebutuhan telekomunikasi terkini, pada tanggal 26-27 Juni 2018, lebih dari 450 penyedia layanan telekomunikasi dari 45 negara yang tergabung dalam Global Carrier Community (GCC) berkumpul di Intercontinental Hotel, Singapura.

“Kebutuhan konektifitas saat ini membutuhkan layanan cerdas yang mensinergikan kebutuhan aplikasi dan kemampuan infrastuktur secara terintegrasi,” demikian disampaikan CEO Esri Indonesia, Dr A. Istamar salah satu panelis utama dalam forum ini.

“Bukan saatnya lagi penyedia infrastruktur hanya memberikan layanan jaringan dan perangkat saja, namun juga harus memiliki kemampuan mengintegrasikan dinamika kebutuhan aplikasi dengan kebutuhan layanan konektifitas secara otomatis,” lanjutnya.

Menurut data, di Indonesia, terjadi juga lonjakan penggunaan jaringan telekomunikasi pada saat Lebaran. Indosat Ooredoo mencatat peningkatan traffic tertinggi adalah pada puncak arus mudik H-3 Lebaran naik 49,70% dibandingkan pada hari biasa. Hal tersebut sejalan dengan tren penggunaan media sosial yang semakin meningkat, baik sebagai hiburan maupun untuk berkomunikasi dengan kerabat.

Istamar menambahkan,teknologi yang dibutuhkan adalah Software Defined Network (SDN) yang memiliki kemampuan kecerdasan integrasi secara dinamis antara aplikasi dan jaringan infrastruktur.

Dengan kecerdasan ini, sebagai contoh aplikasi streaming dapat dengan sendirinya meningkatkan kapasitas jaringan dan secara cerdas memprioritaskan video streaming dibanding lalu lintas data lainnya.

Lebih lanjut lagi menurut Istamar, apabila dibutuhkan penambahan peladen (server) maka dengan sendirinya pengendali cerdas akan menciptakan peladen-peladen tambahan sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan. Apabila peladen utama mengalami gangguan, maka pengendali cerdas akan menciptakan peladen cadangan yang identik dengan peladen utama sehingga layanan tidak terhenti. Teknologi SDN memungkinkan proses ini dapat dilakukan secara transparan tanpa intervensi manual pengguna dan penyedia jasa (operator).

Hadir pula sebagai panelis dalam forum Peering Advisor dari London Internet Exchange, Vice President British Telecom dan Chief Commercial Officer Epsilon. Disampaikan oleh para panelis bahwa tantangan dalam adopsi teknologi baru di konektifitas adalah interoperabilitas antar perangkat dan peningkatan keamanan.

Merespon ini Istamar mengatakan bahwa concern tersebut benar, namun yang sering dilupakan adalah kemampuan operator jaringan dalam mendorong terciptanya aplikasi akhir yang akan digunakan pelanggan.

“Untuk dapat bersaing, operator harus bertransisi menjadi penyedia layanan inovatif yang merupakan penggabungan infrastruktur, jasa dan aplikasi secara terintegrasi ” demikian papar Istamar.

Dalam forum yang dibuka oleh Vice President Singtel ini, panelis dari Indonesia lainnya Agus Laksono, Digital Service TELKOM, menyampaikan trend business model yang senada. “Arah pengembangan jasa telekomunikasi kedepan tidak lagi berfokus pada infrastruktur saja, namun pada sinergi dengan aplikasi, informasi dan content”.

Karena segmentasi pelanggan yang lebih luas, maka sistem pengelolaan big data berbasis geografis penting dalam model bisnis baru ini, dalam peningkatan akurasi pelayanan yang lebih cepat dan tepat, ujar Agus Laksono.

Adapun forum ini diadakan oleh Global Carrier Community yang memiliki lebih dari 600 anggota dari 45 negara yang terdiri dari operator Telepon, Data, SMS, ellular, OTT, VAS, Kabel, Satelit, Pusat Data, dan penyedia telekomunikasi lainnya.

  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : mulyono-sri-hutomo

KOMENTAR ANDA

Artikel Lainnya

Mengapa anda tidak ingin melihat berita ini ?

X
  • Ini mengganggu dan atau tidak etis
  • Tak seharusnya ada di Planet Merdeka
  • Spam