Dilema Generasi Z: Gaya Hidup Instan vs. Stabilitas Keuangan Jangka Panjang
Generasi Z dihadapkan pada dilema antara gaya hidup instan yang ditunjang oleh kemudahan akses keuangan digital dan pentingnya stabilitas keuangan jangka panjang; bagaimana mereka dapat menyeimbangkannya?

Di tengah hiruk pikuk perkotaan Jakarta, dua sahabat, Prista dan Miralda (24 tahun), mewakili dilema yang dihadapi banyak anak muda Generasi Z. Ajakan Prista untuk menghabiskan waktu di kafe hits di Blok M, yang dibayar dengan paylater, dan ajakan Miralda untuk menonton konser band internasional dengan metode pembayaran yang sama, menggambarkan gaya hidup instan yang begitu mudah diakses oleh generasi ini. Mereka, seperti banyak Gen Z lainnya, tumbuh di era digital dengan kemudahan akses layanan keuangan berbasis digital, termasuk pinjaman daring dan paylater, yang secara signifikan membentuk perilaku keuangan mereka.
Miralda mengakui, gaya hidup Gen Z ditandai dengan self-reward, healing, dan konsumsi yang tinggi, yang kemudian dibayar dengan sistem cicilan. Hal ini mencerminkan kesadaran akan kesehatan mental, tetapi juga menunjukkan kecenderungan untuk mengutamakan kepuasan sesaat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap keuangan. Studi Populix dalam laporan Indonesia Digital Economic and Financial Outlook 2024 pun menguatkan hal ini, menggambarkan Gen Z sebagai generasi dengan gaya belanja dan manajemen keuangan yang impulsif, seringkali tanpa pendapatan tetap yang stabil.
Perilaku konsumtif ini diperkuat oleh teknologi dan media sosial yang menciptakan fear of missing out (FOMO). Kemudahan akses layanan keuangan digital, seperti yang diteliti oleh Katadata Insight Center pada 2022, turut mendorong impulsive buying. Akibatnya, Gen Z mendominasi pinjaman di sektor teknologi finansial, dengan data OJK Maret 2025 yang menunjukkan anak muda usia 19-34 tahun menguasai 51,25 persen outstanding pinjaman, mencapai Rp37,19 triliun. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana generasi Z dapat menyeimbangkan gaya hidup mereka dengan stabilitas keuangan jangka panjang.
Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Johan Kesuma Harsa, Head Wealth Management Distribution Maybank Indonesia, menekankan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan bersifat primer dan harus diprioritaskan, sedangkan keinginan dapat ditunda. Pinjaman daring dan paylater dapat menjadi solusi untuk kebutuhan mendesak, tetapi harus disertai dengan rencana pembayaran yang disiplin. Generasi muda, menurut Johan, perlu belajar perencanaan keuangan yang efektif.
Beruntungnya, literasi keuangan kini lebih mudah diakses, dengan banyaknya influencer yang mempromosikan pentingnya perencanaan keuangan. Perencanaan keuangan yang baik meliputi pengelolaan pendapatan, pengeluaran, investasi, dan tabungan untuk mencapai tujuan finansial jangka pendek, menengah, dan panjang. Tujuan jangka pendek misalnya menabung untuk liburan, jangka menengah untuk membeli kendaraan, dan jangka panjang untuk persiapan pensiun.
Langkah awal yang krusial adalah melakukan penilaian situasi keuangan pribadi, meliputi pendapatan, pengeluaran, dan aset. Selanjutnya, buatlah anggaran bulanan dan catat arus kas untuk mengidentifikasi pengeluaran yang dapat dikurangi atau dioptimalkan. Metode 50/30/20 (50 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, 20 persen untuk tabungan/investasi) dapat menjadi panduan yang praktis.
Manfaatkan aplikasi keuangan untuk pencatatan dan evaluasi. Jangan lupa untuk menyiapkan dana darurat, idealnya 3-6 kali pengeluaran bulanan, untuk menghadapi situasi tak terduga. Dana darurat sebaiknya disimpan di rekening yang mudah diakses namun tetap memberikan bunga optimal.
Investasi vs. Menabung: Strategi untuk Masa Depan
Johan juga menjelaskan perbedaan menabung dan investasi. Menabung menawarkan risiko rendah dan pertumbuhan lambat, sedangkan investasi memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi tetapi dengan risiko tertentu. Instrumen investasi beragam, mulai dari saham (berisiko tinggi, potensi keuntungan tinggi), obligasi (risiko rendah), reksadana (diversifikasi, dikelola profesional), hingga emas dan deposito (risiko rendah, stabil).
Pengelolaan utang juga penting. Hindari utang konsumtif dan pastikan rasio utang tidak melebihi 30 persen dari penghasilan. Strategi pelunasan utang, seperti debt snowball (melunasi utang terkecil dulu) atau debt avalanche (melunasi utang berbunga tinggi dulu), dapat membantu.
Investasi bukan hal instan, melainkan jangka panjang. Sebelum berinvestasi, siapkan dana darurat terlebih dahulu. Hindari pengaruh negatif dari media sosial dan lawan FOMO dengan JOMO (joy of missing out), dengan memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan sesaat.
M2U ID App: Solusi Terintegrasi untuk Generasi Z
Maybank Indonesia mengembangkan aplikasi M2U ID App untuk membantu pengelolaan keuangan dan investasi. Aplikasi ini menyediakan akses terintegrasi ke berbagai instrumen keuangan, termasuk reksadana, deposito, SBN, dan tabungan emas, untuk membantu mencapai tujuan keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang. Aplikasi ini dirancang untuk membantu Generasi Z mencapai stabilitas finansial dengan bijak.
Generasi Z memiliki potensi besar untuk mencapai stabilitas finansial jika mampu mengelola keuangan dengan bijak. Dengan memanfaatkan teknologi secara cerdas, mereka dapat menghindari jebakan konsumtif dan membangun masa depan keuangan yang lebih aman dan sejahtera.