Flexing: Perilaku Pamer yang Hambat Perkembangan Diri
Psikolog ungkap perilaku flexing atau pamer kekayaan justru menghambat perkembangan diri karena fokus pada persepsi orang lain, bukan pengembangan potensi.

Jakarta, 28 Maret 2024 (ANTARA) - Sebuah penelitian terbaru mengungkap sisi negatif dari perilaku flexing atau pamer kekayaan. Psikolog keluarga lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Sani B. Hermawan, S.Psi., menjelaskan bahwa kebiasaan ini dapat menghambat perkembangan diri seseorang. Perilaku flexing, yang marak di era digital saat ini, ternyata berdampak buruk bagi individu yang melakukannya.
Menurut Sani, individu yang gemar flexing cenderung terlalu fokus pada persepsi orang lain terhadap dirinya. Mereka lebih mementingkan bagaimana orang lain memandang mereka daripada fokus pada pengembangan diri dan pencapaian potensi optimal. "Orang seperti ini akan sulit berkembang, karena akan selalu fokus pada apa yang orang lakukan terhadap dirinya, bukan sebenarnya hal-hal yang optimal yang efektif yang bisa dia lakukan untuk dirinya," ujar Sani dalam wawancara dengan ANTARA.
Flexing seringkali dikaitkan dengan keinginan untuk terlihat sukses dan mendapatkan pengakuan sosial. Hal ini mendorong individu untuk memamerkan barang-barang mewah, seperti tas, mobil, atau gawai canggih, meskipun belum tentu mampu membelinya. Praktik menyewa barang-barang mewah untuk keperluan flexing pun semakin umum terjadi.
Dampak Negatif Flexing
Sani menekankan bahwa perilaku flexing dapat merugikan diri sendiri, baik secara finansial maupun psikologis. Mengeluarkan uang untuk menyewa barang-barang mewah yang sebenarnya tidak dibutuhkan merupakan pemborosan yang signifikan. Lebih jauh lagi, flexing dianggap sebagai bentuk pembohongan diri sendiri, karena menciptakan citra yang tidak sesuai dengan realita.
"Ini menurut saya hal yang membohongi diri sendiri karena sebenarnya apa yang dia lakukan itu, walaupun boleh-boleh saja, tapi, itu membohongi kenyataannya, begitu," tegas Sani. Kebiasaan ini juga dapat memicu kecemburuan sosial di lingkungan sekitar, terutama dalam keluarga.
Selain itu, flexing dapat menampilkan sisi arogansi seseorang. Memamerkan kekayaan secara berlebihan bisa menciptakan jarak dan kesenjangan dalam hubungan sosial. Sikap ini justru kontraproduktif terhadap pembentukan hubungan yang sehat dan harmonis.
Solusi Mengatasi Perilaku Flexing
Sani menyarankan agar individu yang memiliki barang-barang mewah tidak perlu memamerkannya secara berlebihan. Sikap rendah hati dan tidak perlu flexing akan lebih membangun hubungan yang positif dengan orang lain. "Kalaupun itu punyanya, dia tidak perlu flexing, tidak perlu memamerkan, nanti akan menjadi kecemburuan sosial, juga bisa membuat ada kesenjangan hubungan interaksi antarmanusia dan dia jadi (menunjukkan) banyak faktor arogansinya sebenarnya dibanding (sikap) down to earth (rendah hati)," jelas Sani.
Lebih lanjut, Sani menyarankan agar fokus pada pengembangan diri dan pencapaian potensi optimal. Alih-alih mencari validasi dari orang lain melalui barang-barang materi, lebih baik berinvestasi pada pengembangan skill, pendidikan, atau pengalaman yang bermakna. Hal ini akan membawa kepuasan dan kebahagiaan yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan kepuasan sesaat dari flexing.
Kesimpulannya, perilaku flexing, meskipun terlihat menarik di permukaan, sebenarnya dapat menghambat perkembangan diri dan berdampak negatif pada hubungan sosial. Fokus pada pengembangan diri dan penerimaan diri yang autentik jauh lebih penting daripada mencari validasi melalui pamer kekayaan.