ALFI Jatim Desak Peremajaan Peralatan Bongkar Muat Pelabuhan Tanjung Perak
ALFI Jatim mendesak pengelola Pelabuhan Tanjung Perak untuk segera melakukan peremajaan peralatan bongkar muat guna meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya logistik.

Surabaya, 27 Maret 2024 (ANTARA) - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur meminta pengelola Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya untuk segera melakukan peremajaan peralatan bongkar muat kapal. Ketua DPW ALFI Jatim, Sebastian Wibisono, menyatakan hal ini krusial untuk mengatasi lambatnya penanganan peti kemas yang berdampak pada peningkatan biaya logistik.
Permintaan ini muncul di tengah peningkatan volume kedatangan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak. Wibisono menjelaskan, lambatnya proses bongkar muat menyebabkan peningkatan dwelling time dan port stay, serta menghambat distribusi barang. "Yang dibutuhkan adanya peremajaan peralatan di terminal karena pelambatan bongkar muat dan arus barang dari terminal keluar menjadi salah satu penyebab. Ini perlu ada peremajaan alat," tegasnya dalam pernyataan di Surabaya, Kamis.
Ketidakefisienan ini, menurut Wibisono, berdampak buruk pada seluruh rantai pasok. Meningkatnya biaya operasional akan menjadi beban bagi pengguna jasa, termasuk perusahaan pelayaran, forwarder, dan pedagang. Ia menekankan perlunya solusi cepat untuk mengatasi masalah ini.
Meningkatnya Biaya Logistik dan Waktu Tunggu
Wibisono memaparkan, peremajaan alat bongkar muat sangat penting untuk mengurangi waktu tunggu. Peralatan yang rusak atau usang membutuhkan waktu perbaikan yang signifikan, memperlambat proses bongkar muat. "Menurutnya, peremajaan alat dapat membuat masa tunggu berkurang karena dalam proses bongkar muat perlu alat yang sehat mengingat apabila saat bongkar kapal terdapat kerusakan maka membutuhkan waktu untuk perbaikan," jelasnya.
Dengan peralatan baru, efisiensi akan meningkat drastis. Sebagai contoh, jika biasanya satu jam hanya mampu membongkar 20-25 kontainer, dengan alat baru, kapasitas bisa meningkat hingga 35 kontainer per jam. Hal ini akan berdampak pada pengurangan waktu tunggu dan biaya operasional.
Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DPC Surabaya, I Wayan Sumadita, menambahkan bahwa terbatasnya kapasitas alat di pelabuhan dapat menyebabkan waktu tunggu bongkar muat mencapai 14 jam. Kondisi ini tentunya sangat merugikan para pelaku usaha.
Solusi Kolaboratif untuk Pelabuhan Tanjung Perak
Kepala Bidang Lalu lintas Angkutan Laut, Operasi dan Usaha Kepelabuhanan KSOP Kelas Utama Tanjung Perak Surabaya, Nanang Affandy, menyatakan komitmen untuk menjaga kualitas pelayanan di pelabuhan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengelola pelabuhan, dan perusahaan pelayaran untuk meningkatkan layanan dan mengatasi kendala yang ada.
Nanang menambahkan bahwa pihaknya akan selalu menerima masukan untuk perbaikan berkelanjutan. "Kami terus berupaya untuk menjaga kualitas pelayanan di pelabuhan Tanjung Perak dan segala masukan akan selalu kami terima dengan baik untuk perbaikan yang berkelanjutan," ujarnya.
Peremajaan peralatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak bukan hanya sekadar peningkatan infrastruktur, tetapi juga investasi untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Efisiensi operasional yang lebih baik akan berdampak positif pada seluruh rantai pasok, mengurangi biaya logistik, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Oleh karena itu, dukungan dari semua pihak sangat penting untuk mewujudkan hal ini.
Potensi Kenaikan Biaya Logistik
Potensi kenaikan biaya logistik menjadi perhatian utama. Lambatnya bongkar muat dan kerusakan alat berdampak langsung pada peningkatan biaya operasional yang ditanggung oleh pengguna jasa. Hal ini perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak terkait.