Seni Memaafkan: Jalan Menuju Kedamaian Jiwa dan Tubuh
Memaafkan, meskipun sulit, merupakan proses penyembuhan diri yang membawa kedamaian jiwa dan kesehatan fisik, terutama di momen Idul Fitri.

Jakarta, 30 Maret (ANTARA) - Bait puisi "Ke Kota Tua naik delman, Lihat gedung tua berbaris rapi, Hari Lebaran penuh maaf-maafan, Lupakan salah, mari silaturahim" menggambarkan indahnya tradisi saling memaafkan, terutama saat Idul Fitri. Namun, kenyataannya, memaafkan kesalahan orang lain bukanlah hal mudah. Psikolog klinis dewasa dari Ikatan Psikolog Klinis wilayah Banten, Mega Tala Harimukthi, menjelaskan bahwa ini merupakan hal yang manusiawi.
Kesulitan dalam memaafkan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kepribadian individu dan tingkat kesalahan yang dilakukan orang lain. Seberapa kuat dorongan internal untuk memaafkan, melepaskan, dan berpikir positif, serta bagaimana seseorang memproses pikiran dan emosinya, turut menentukan keputusan dan proses memaafkan. Sebagian orang mungkin masih mempertimbangkan keuntungan dari memaafkan, terutama mereka yang sering dikecewakan dan mengalami konflik, sehingga sulit untuk melupakan kesalahan.
Pengalaman buruk berulang juga dapat menyebabkan masalah kepercayaan (trust issue) dengan orang lain. Mega menjelaskan bahwa secara teoritis, memaafkan adalah proses tanpa paksaan untuk mengubah perasaan, perilaku, dan pikiran terhadap seseorang atau kejadian yang menyakitkan, bergeser dari amarah menuju welas asih dan upaya mencegah masalah serupa di masa depan. Dengan memaafkan secara sadar, tanpa paksaan, seseorang sebenarnya sedang menolong dirinya sendiri. Pikiran dan perasaan yang lebih positif setelah memaafkan akan berdampak pada perilaku, menciptakan ketenangan dan kesehatan jiwa serta raga.
Memaafkan: Kunci Kesehatan Jiwa dan Raga
Psikolog Meriyati MPsi mengamini hal tersebut. Berdasarkan berbagai penelitian, memaafkan terbukti meningkatkan ketenangan, kebahagiaan, dan hubungan sosial yang lebih sehat. Manfaat lainnya termasuk pengurangan stres dan peningkatan kesehatan jantung. Studi menunjukkan bahwa individu yang mudah memaafkan cenderung memiliki tekanan darah lebih stabil dan risiko penyakit jantung lebih rendah.
Sebaliknya, menyimpan amarah dapat menimbulkan keresahan, pikiran negatif, dan kecemasan, yang meningkatkan tekanan darah dan risiko sakit kepala. Hal ini disebabkan pelepasan hormon stres seperti kortisol saat menyimpan amarah atau dendam. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan kecemasan, serta masalah kesehatan lain seperti gangguan pencernaan dan penurunan daya tahan tubuh. Lebih lanjut, menyimpan amarah juga menurunkan kualitas hubungan sosial karena individu yang sulit memaafkan cenderung memiliki hubungan yang lebih konfliktual dan kurang bahagia.
Memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan, melainkan melepaskan beban emosional untuk mencapai kedamaian. Otak memiliki mekanisme perlindungan diri, namun setelah terluka, memaafkan menjadi pilihan untuk merasa lebih baik.
Langkah Awal Menuju Pemaafan
Mega menyarankan untuk memulai dengan menyadari bahwa kita semua adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Sebelum menyimpan dendam, lakukan evaluasi dan refleksi diri. Pertimbangkan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu dan bagaimana cara memproses pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Dengan berpikir objektif, rasa welas asih akan muncul dan mempermudah proses memaafkan.
Meriyati menambahkan, memahami alasan di balik tindakan orang lain dapat membantu. Ini bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memahami konteks dan situasi yang mungkin mempengaruhi perilaku mereka. Memahami hal tersebut dapat memperluas perspektif dan meningkatkan empati. Bertanya pada diri sendiri, "Jika saya berada di posisi mereka, apakah saya juga dapat melakukan kesalahan yang sama?", dapat membantu proses ini.
Idul Fitri: Momentum Memaafkan
Ajaran Islam mendorong umat muslim untuk saling memaafkan. Surat An-Nisa ayat 149 dan Al-A'raf ayat 199 menekankan pentingnya pemaafan. Muslim yang tidak saling bertegur sapa akan ditangguhkan ampunan dosanya. Hadits Rasulullah SAW juga menyebutkan pentingnya saling berbaikan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Idul Fitri menjadi momen tepat untuk saling meminta dan memberi maaf.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Adib, mengingatkan pentingnya saling memaafkan untuk mencapai kesucian lahir batin. Ia menambahkan bahwa orang yang bermartabat di hadapan Allah SWT adalah mereka yang mampu mengendalikan dendam dan memaafkan. Bulan Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momentum untuk melapangkan hati dan meminta maaf. Makna "Fitri" yang berarti suci, menunjukkan bahwa seseorang yang menyimpan dendam belum sepenuhnya suci. Memaafkan, meskipun sulit, memiliki ganjaran pahala yang besar, seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Meskipun marah dan kecewa adalah hal yang manusiawi, memaafkan adalah pilihan untuk mencapai kedamaian jiwa dan raga. Di momen Idul Fitri ini, marilah kita berusaha untuk menjadi pribadi yang pemaaf.