BRIN Ajak Masyarakat Jaga Lintasan Ikan di Sungai: Riset Sosial Jadi Kunci
BRIN mendorong peran aktif masyarakat dalam membangun dan menjaga lintasan ikan di sungai melalui riset sosial untuk keberhasilan konservasi dan keamanan pangan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam pembangunan dan pelestarian lintasan ikan di sungai-sungai Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Konservasi Sumber Daya Laut dan Perairan Darat BRIN, Arif Wibowo, di Jakarta pada Senin, 24 Februari 2024. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan migrasi ikan tetap lancar, melewati berbagai bangunan melintang sungai seperti bendungan, demi menjaga keberlanjutan ekosistem perairan dan ketahanan pangan.
Selama ini, riset mengenai lintasan ikan (fish passage/fishway) lebih berfokus pada aspek biologi, seperti keanekaragaman hayati ikan di sekitar bendungan. Namun, BRIN menyadari pentingnya pelibatan masyarakat dalam keberhasilan proyek ini. Arif Wibowo menekankan perlunya riset sosial untuk memahami persepsi dan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian lintasan ikan tersebut.
Menurut Arif Wibowo, "Masyarakat sangat penting dalam menjaga lintasan ikan. Sehingga, kita perlu riset-riset sosial untuk meningkatkan persepsi masyarakat pentingnya lintasan ikan ini." Pemahaman masyarakat akan dampak positif keberadaan lintasan ikan, baik bagi lingkungan maupun perekonomian, menjadi kunci keberhasilan upaya konservasi ini.
Memahami Peran Masyarakat dalam Pembangunan Lintasan Ikan
Pelibatan masyarakat tidak hanya sebatas partisipasi fisik dalam pembangunan, tetapi juga pemahaman mendalam mengenai aspek teknis lintasan ikan. Arif menjelaskan, aspek turbulensi, ketinggian/lereng (slope), dan arus air sangat mempengaruhi efektifitas lintasan ikan. Riset sosial akan membantu peneliti dan pemangku kepentingan memahami bagaimana masyarakat dapat berkontribusi dalam aspek-aspek teknis ini.
Lebih lanjut, riset sosial diharapkan dapat memberikan valuasi terhadap pentingnya keberadaan ikan di sungai bagi masyarakat. Hal ini penting untuk mengukur dampak sosial dan ekonomi dari keberadaan lintasan ikan, terutama bagi komunitas yang bergantung pada sumber daya perikanan. Dengan demikian, manfaat pembangunan lintasan ikan tidak hanya dilihat dari sisi ekologis, tetapi juga dari sisi sosial ekonomi.
Arif menambahkan, "Dengan penelitian sosial, peneliti dan pemangku kepentingan dapat memperoleh pemahaman keterkaitan antara pembangunan lintasan ikan untuk keamanan pangan, keamanan energi, sekaligus ketersediaan protein dan nutrien untuk masyarakat." Penelitian ini akan membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat dan terukur dalam pembangunan dan pengelolaan lintasan ikan.
Metode Ilmiah dalam Riset Sosial Konservasi Ikan
BRIN juga menekankan pentingnya penggunaan metode ilmiah dalam penelitian sosial terkait konservasi ikan. Arif Wibowo menjelaskan bahwa setiap penelitian ilmu alam, termasuk riset lintasan ikan, harus dipadukan dengan riset sosial. Hal ini untuk memastikan bahwa upaya konservasi tersebut sesuai dengan konteks sosial dan budaya masyarakat setempat.
"Setiap penelitian ilmu alam pasti melibatkan ilmu sosial. Dengan ilmu sosial, kita akan mengetahui bagaimana persepsi masyarakat tentang konservasi ikan. Tidak hanya kepada masyarakat lokal, tetapi juga berbagai pemangku kepentingan," jelas Arif. Dengan demikian, riset sosial akan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan konservasi ikan.
Pemahaman yang komprehensif ini akan membantu para peneliti dan pemangku kepentingan dalam merancang strategi konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Hal ini akan memastikan bahwa upaya konservasi ikan tidak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat.
Lintasan Ikan di Indonesia
Saat ini, sejumlah lintasan ikan telah dibangun di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa di antaranya terletak di Bendungan Perjaya (Sumatera Selatan), Sungai Batanghari (Jambi), Sungai Sei Ular (Sumatera Utara), Sungai Opak (Yogyakarta), Sungai Citatih (Jawa Barat), dan Bendungan PLTA Poso (Sulawesi Tengah). Keberhasilan proyek-proyek ini diharapkan dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi pembangunan lintasan ikan di wilayah lain di Indonesia.
Dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam pembangunan dan pengelolaan lintasan ikan, BRIN berharap dapat mencapai keberhasilan yang lebih optimal dalam upaya konservasi ikan di Indonesia. Hal ini akan berkontribusi pada ketahanan pangan, pelestarian keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan masyarakat.