Respons Bijak Indonesia Hadapi Tarif Resiprokal AS: Negosiasi dan Diversifikasi Ekspor
Ekonom Indef menilai langkah Indonesia menghadapi tarif resiprokal AS dengan negosiasi dan diversifikasi ekspor sebagai strategi tepat, sekaligus menyoroti pentingnya menjaga ketahanan ekonomi domestik.

Jakarta, 4 April 2024 - Amerika Serikat (AS) memberlakukan kebijakan tarif resiprokal, dan Indonesia meresponnya dengan langkah diplomasi dan strategi ekonomi. Langkah ini dinilai positif oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhil Hasan. Pemerintah Indonesia, bukannya langsung melakukan retaliasi, memilih untuk mempelajari dampak kebijakan AS, membuka dialog, dan bahkan mengirimkan delegasi ke Washington DC untuk bernegosiasi.
Keputusan ini dinilai tepat oleh Fadhil Hasan. Ia menekankan pentingnya analisis mendalam sebelum mengambil tindakan balasan. "Pemerintah Indonesia...tidak mengambil suatu kebijakan yang bersifat retaliasi, tapi menganalisis dulu dengan mendalam, kemudian juga melakukan dialog. Saya kira ini suatu yang baik untuk dilakukan," ujarnya dalam Diskusi Publik "Waspada Genderang Perang Dagang" yang digelar Indef di Jakarta.
Selain negosiasi, Indonesia juga mempersiapkan langkah strategis untuk menghadapi potensi dampak negatif dari kebijakan AS. Langkah-langkah ini meliputi diversifikasi pasar ekspor dan penguatan ketahanan ekonomi domestik untuk mengurangi ketergantungan pada AS.
Diversifikasi Pasar Ekspor dan Penguatan Ekonomi Domestik
Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada AS sebagai pasar ekspor. Strategi yang disiapkan meliputi diversifikasi negara tujuan ekspor ke negara-negara lain yang memiliki hubungan baik dan terbuka dengan Indonesia. Hal ini akan memaksimalkan hubungan dagang Indonesia di tingkat multilateral.
Selain itu, pemerintah juga harus menjaga ketahanan ekonomi domestik. Langkah ini penting untuk memitigasi dampak potensial dari depresiasi nilai tukar rupiah. Fadhil Hasan menyoroti pentingnya evaluasi program-program pemerintah, seperti MBG (Makan Bergizi Gratis), Danantara, dan Koperasi Merah Putih, untuk memastikan keberlanjutan fiskal dan meyakinkan pasar.
"Kekhawatiran-kekhawatiran yang seperti itu harus ditangkap oleh pemerintah dan melakukan evaluasi berbagai program-program tersebut agar bisa meyakinkan publik dan pasar itu bahwa ini bisa secara fiskalnya itu tetap sustain, artinya bisa membiayai itu dengan baik," jelas Fadhil.
Retaliasi Terarah sebagai Opsi
Meskipun menekankan pentingnya dialog dan diversifikasi, Fadhil Hasan juga menyarankan opsi retaliasi terarah. Sebagai contoh, Indonesia dapat mengenakan tarif tambahan pada produk-produk AS tertentu, seperti kedelai. Kedelai merupakan komoditas impor terbesar Indonesia dari AS dan sangat sensitif karena menyangkut kepentingan petani AS yang memiliki pengaruh politik yang kuat.
"Kedelai ini agriculture product yang sangat penting bagi ekspor Amerika dan juga sensitif karena ini menyangkut kehidupan petani yang sangat memiliki suatu lobby politik yang kuat di Amerika. Jadi, kalau misalnya mereka terganggu ekspornya itu, juga mungkin karena misalnya kita mengenakan tarif tambahan yang sepertinya halnya mereka melakukan itu, itu mungkin akan lebih diperhatikan oleh pemerintah Amerika itu," papar Fadhil.
Secara keseluruhan, strategi Indonesia dalam menghadapi tarif resiprokal AS menunjukkan pendekatan yang berimbang. Prioritas diberikan pada negosiasi dan diversifikasi ekspor, dengan retaliasi terarah sebagai opsi terakhir. Pentingnya menjaga ketahanan ekonomi domestik juga menjadi fokus utama dalam menghadapi tantangan ini.