Takbir: Simbol Persatuan Bangsa Indonesia di Hari Raya Idul Fitri
Khatib Shalat Idul Fitri di Lebak, KH Pupu Mahpudin, menekankan kalimat takbir 'Allah Akbar' sebagai penguat persatuan Indonesia, seraya mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersinergi mewujudkan kesejahteraan.

Lebak, 31 Maret 2024 - KH Pupu Mahpudin, khatib Shalat Idul Fitri 1446 H di Alun-alun Rangkasbitung, Lebak, menyampaikan pesan penting tentang makna persatuan dan kesatuan bangsa dalam konteks Hari Raya Idul Fitri. Beliau menjelaskan bahwa lantunan takbir "Allah Akbar" yang menggema di seluruh Indonesia bukan hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan juga simbol penguat persatuan dan kesatuan bangsa. Pernyataan ini disampaikan di hadapan ribuan jamaah yang hadir pada Senin pagi.
Dalam khotbahnya, KH Pupu Mahpudin menghubungkan gema takbir "Allah Akbar" dengan semangat juang para pahlawan Indonesia. Beliau mencontohkan pertempuran heroik di Surabaya pada 10 November 1945 sebagai bukti nyata bagaimana semangat persatuan mampu mengalahkan penjajah. Kekuatan kalimat takbir, menurut beliau, begitu dahsyat sehingga mampu mempersatukan bangsa Indonesia dalam keberagamannya.
Indonesia, dengan keragaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang dimilikinya, justru menjadikan persatuan sebagai kekuatan. Perbedaan-perbedaan tersebut, bukannya menjadi penghalang, melainkan justru menjadi perekat yang memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang sejahtera.
Empat Pilar Kesejahteraan Bangsa
KH Pupu Mahpudin lebih lanjut menjelaskan bahwa terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia membutuhkan sinergi empat pilar utama: pemerintah, ulama, pengusaha, dan rakyat. Keempat pilar ini memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing yang saling berkaitan dan harus dijalankan secara optimal.
Peran pemerintah, menurut beliau, adalah menciptakan kebijakan yang pro-rakyat. Ulama memiliki tugas memberikan masukan positif untuk membentuk karakter bangsa yang berintegritas dan menghindari korupsi. Pengusaha, khususnya yang terlibat dalam proyek pembangunan infrastruktur, wajib melaksanakan pekerjaan sesuai ketentuan yang berlaku. Pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai ketentuan, selain berdampak negatif, juga berhadapan dengan hukum.
Rakyat juga memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan yang aman dan damai. Sinergi keempat pilar ini, menurut Ketua MUI Lebak tersebut, merupakan kunci utama untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa. "Kita meyakini pembangunan akan sejahtera jika peran pemerintah, ulama, pengusaha dan rakyat bersinergi," tegas KH Pupu Mahpudin.
Zakat dan Kepedulian Sosial
Dalam konteks Hari Raya Idul Fitri, KH Pupu Mahpudin juga menekankan pentingnya zakat dan kepedulian sosial. Beliau mengajak umat Muslim yang mampu untuk berbagi rezeki dengan masyarakat kurang mampu, khususnya anak yatim, piatu, janda, dan fakir miskin. Sikap dermawan ini, menurut beliau, merupakan perintah Allah SWT dan dapat meringankan beban ekonomi masyarakat serta membawa kebahagiaan.
Beliau juga menghimbau agar perayaan Idul Fitri dirayakan dengan sederhana dan tetap menjaga kesucian hati setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan. "Jangan sampai umat Muslim pada Lebaran ini berlebihan dengan membeli pakaian, makanan hingga perhiasan. Kita sambut Lebaran itu dengan sederhana dan menjaga kesucian setelah satu bulan melaksanakan puasa Ramadhan," pesannya.
Sebagai penutup, KH Pupu Mahpudin kembali menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Kalimat takbir "Allah Akbar" yang dikumandangkan oleh umat Muslim di seluruh Indonesia menjadi simbol kuat dari persatuan tersebut. Semoga semangat persatuan ini terus terjaga dan menjadi landasan bagi pembangunan bangsa Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.