Gedung Parlemen Hokkaido: Intip Demokrasi Jepang yang Terbuka dan Ramah
Bangunan Parlemen Prefektur Hokkaido di Sapporo, Jepang, menjadi sorotan karena desainnya yang unik, akses mudah bagi publik, dan proses demokrasi yang transparan.

Gedung Parlemen Prefektur Hokkaido di Sapporo, Jepang, menarik perhatian karena desainnya yang unik dan aksesibilitasnya yang tinggi bagi publik. Berbeda dengan gedung pemerintahan di Indonesia, gedung ini mudah diakses, tanpa pagar pembatas, dan terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung, baik untuk sekadar melihat-lihat, berdiskusi, maupun menyaksikan proses pengambilan keputusan. Bangunan berwarna abu-abu ini berseberangan dengan Red Brick House, bekas kantor Pemerintah Hokkaido yang bergaya arsitektur neo-baroque Amerika.
Lembaga legislatif Hokkaido, yang berdiri sejak 1901, telah lama menjalankan roda demokrasi di Jepang. Gedung parlemen ini dirancang dengan banyak fasad kaca, membuat interiornya terang benderang di siang hari dan menawarkan pemandangan indah Red Brick House serta Gunung Okura. Pengunjung dapat menikmati pemandangan tersebut sambil bersantai di kursi-kursi yang tersedia di lorong-lorong dekat jendela.
Desain gedung parlemen ini mencerminkan komitmen terhadap transparansi dan keramahan. Keterbukaan gedung ini memungkinkan masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses demokrasi, menyaksikan jalannya sidang, dan memahami bagaimana keputusan-keputusan penting diambil. Hal ini menunjukkan perbedaan signifikan dengan beberapa gedung pemerintahan di negara lain yang cenderung lebih tertutup.
Arsitektur Unik dan Ramah Lingkungan
Gedung parlemen Hokkaido memiliki 12 ruang pertemuan dengan desain yang beragam. Salah satu ruang pertemuan menampilkan desain salju beku yang tergantung di atap, merepresentasikan musim dingin di Hokkaido. Ruang sidang utama, sebaliknya, didominasi oleh kayu berwarna terang dari Hokkaido, menciptakan suasana musim panas yang hangat. Kepala Pengawas Sekretariat Parlemen Hokkaido, Yoshida Norihito, menjelaskan bahwa penggunaan kayu lokal ini bertujuan untuk menekan biaya pembangunan.
Lantai ruangan sidang utama berwarna hijau, menyerupai hamparan rumput di ladang-ladang Hokkaido. Kursi-kursi di dalam ruangan memiliki warna yang beragam, merepresentasikan kekayaan alam Hokkaido. Kursi anggota parlemen berwarna seperti tanah, kursi untuk masyarakat berwarna ungu seperti lavender, dan kursi untuk tamu dari luar negeri berwarna kuning, melambangkan jagung sebagai produk pertanian unggulan Hokkaido. Kesederhanaan desain kursi ini juga merupakan upaya untuk menekan biaya dan menghindari protes dari warga.
Tersedia pula ruang kaca kedap suara bagi pengunjung yang membawa bayi atau anak-anak, sehingga mereka tetap dapat mengikuti jalannya sidang tanpa khawatir mengganggu ketertiban. Yoshida Norihito bahkan berkelakar bahwa ruangan tersebut begitu kedap suara, hingga suara karaoke pun tidak akan terdengar dari luar. Langit-langit ruangan yang tidak rata melambangkan keberagaman pandangan masyarakat Hokkaido, mencerminkan komitmen parlemen untuk mengakomodasi berbagai ide dan aspirasi warga.
Di tengah ruangan terdapat batu marmer putih dari Yunani yang melambangkan awan, menjadi latar belakang mimbar ketua parlemen. Mimbar ini juga dilengkapi akses untuk kursi roda, menunjukkan komitmen terhadap aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Ruang sidang utama berbentuk tapal kuda, desain yang unik dan satu-satunya di Jepang, menurut Yoshida Norihito.
Aturan dan Tata Tertib di Parlemen Hokkaido
Parlemen Hokkaido memiliki aturan main yang ketat, baik untuk anggota parlemen maupun pengunjung. Tempat duduk anggota parlemen diatur berdasarkan senioritas dan afiliasi partai. Anggota dari fraksi terbesar duduk di sebelah kiri, anggota baru di depan, dan anggota dengan masa jabatan terpanjang di belakang. Yoshida Norihito menyebutkan anggota parlemen dengan masa jabatan terpanjang telah terpilih sebanyak 10 kali, setara dengan empat dekade.
Sidang parlemen dilakukan selama 88 hari dalam setahun, terbagi dalam empat masa sidang. Sidang dimulai pukul 10.00 dan berakhir pukul 17.00 waktu setempat, tetapi dapat diperpanjang jika diperlukan. Isu-isu penting yang dibahas pada tahun 2024 antara lain alokasi dana penanggulangan pandemi, solusi kenaikan harga barang, dan pemindahan pembangkit listrik tenaga nuklir. Banyak isu berasal dari usulan masyarakat dan aspirasi langsung kepada anggota parlemen.
Sidang harus dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah anggota parlemen (saat ini 100 orang). Kehadiran anggota parlemen biasanya sangat tinggi, lebih dari 90 persen. Saat berbicara, anggota parlemen harus maju ke mimbar, dan anggota lain wajib menyimak dengan tertib. Desain akustik ruangan yang sangat baik memungkinkan suara, bahkan bisikan, terdengar dengan jelas di seluruh ruangan. Keunikan ini bahkan pernah dimanfaatkan untuk konser musik sebanyak dua kali.
Transparansi dan akuntabilitas diutamakan. Sidang disiarkan langsung melalui kanal parlemen, dan garis besar pembahasan serta anggaran dipublikasikan melalui surat kabar. Anggaran parlemen Hokkaido pada tahun 2025 adalah tiga triliun yen, turun dibandingkan masa pandemi. Aturan untuk pengunjung juga cukup ketat, termasuk larangan memakai topi dan jaket tebal, minum, tidur, dan membaca komik selama sidang.
Yoshida Norihito menegaskan bahwa anggota parlemen pun tidak tidur selama sidang. Jika ada anggota yang terlihat menunduk, kemungkinan besar mereka sedang berpikir serius tentang isu yang dibahas. Perbandingan antara gedung parlemen Hokkaido dan gedung pemerintahan di Indonesia menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam hal aksesibilitas, transparansi, dan keterlibatan publik dalam proses demokrasi.