Hitung-hitungannya: BEV Lebih Hemat dari ICE? Ini Penjelasannya!
Pakar ITB ungkap perbandingan biaya operasional BEV dan ICE, menunjukkan penghematan signifikan hingga 80% pada BEV, meskipun harga beli awal lebih tinggi.

Jakarta, 27 Februari 2024 (ANTARA) - Pertanyaan mengenai efisiensi dan biaya operasional kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) dan kendaraan berbahan bakar fosil (ICE) terus menjadi perdebatan. Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), memberikan penjelasan rinci mengenai perbandingan keduanya, mengungkapkan fakta menarik mengenai penghematan yang signifikan dari penggunaan BEV.
Menurut Yannes, dalam wawancara dengan ANTARA, BEV jauh lebih efisien dalam mengubah energi menjadi tenaga. BEV mampu mengubah sekitar 85-90 persen energi listrik menjadi tenaga penggerak, sementara ICE hanya mampu mengubah 20-30 persen energi bahan bakar menjadi tenaga. Sisanya terbuang sebagai panas. Perbedaan efisiensi ini berdampak langsung pada biaya operasional kendaraan.
Lebih lanjut, Yannes memberikan perhitungan biaya untuk jarak tempuh 100 kilometer. Untuk BEV, konsumsi energi rata-rata sekitar 15 kWh. Dengan asumsi tarif listrik Rp1.500/kWh, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp22.500. Sebaliknya, kendaraan ICE dengan konsumsi bahan bakar 8 liter per 100 km (untuk mobil yang efisien) membutuhkan biaya sekitar Rp120.000, dengan harga bensin Rp15.000 per liter. Banyak mobil ICE bahkan membutuhkan lebih dari 8 liter per 100 km.
Efisiensi Biaya dan Perawatan BEV
Berdasarkan perhitungan tersebut, Yannes menyimpulkan bahwa penghematan penggunaan BEV dapat mencapai 80 persen dibandingkan ICE untuk jarak tempuh yang sama. Keunggulan BEV tidak hanya berhenti pada konsumsi energi. Biaya perawatan BEV juga jauh lebih rendah. Dengan komponen bergerak yang lebih sedikit, BEV tidak memerlukan penggantian oli, busi, atau filter udara secara berkala, seperti pada ICE.
Perawatan utama BEV berfokus pada sistem pendingin baterai dan rem. Sementara itu, kendaraan ICE membutuhkan perawatan yang lebih kompleks, meliputi mesin, transmisi, dan sistem pembuangan. Hal ini membuat biaya perawatan tahunan BEV diperkirakan 30-50 persen lebih murah daripada ICE. "Secara signifikan, BEV lebih hemat dalam jangka panjang, terutama dengan kenaikan harga BBM dan insentif pemerintah untuk kendaraan ramah lingkungan," tambah Yannes.
Meskipun demikian, Yannes juga mengakui tantangan utama BEV saat ini, yaitu harga beli yang lebih tinggi dan keterbatasan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Namun, ia optimis dengan perkembangan teknologi dan pasar otomotif.
Tantangan dan Prospek BEV di Masa Depan
Munculnya berbagai merek mobil listrik baru yang menawarkan BEV dengan harga lebih terjangkau, serta peningkatan jangkauan baterai yang kini rata-rata mencapai 400 km, secara bertahap mengurangi kekhawatiran mengenai jarak tempuh (range anxiety). Hal ini menunjukkan prospek BEV yang semakin cerah di masa depan.
Kesimpulannya, meskipun harga beli awal BEV lebih tinggi, efisiensi energi yang jauh lebih baik dan biaya perawatan yang lebih rendah menjadikan BEV pilihan yang lebih hemat biaya dalam jangka panjang. Namun, perlu diingat bahwa perkembangan infrastruktur pengisian daya tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.