Mengapa Gibran Ganti Dasi? Pengamat Ungkap Makna Dasi Biru Gibran Ikuti Gaya Politik Jokowi
Pergantian warna dasi Gibran dari merah ke biru saat Sidang Tahunan MPR RI menjadi sorotan. Pengamat menilai dasi biru Gibran cerminkan gaya politik Jokowi.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi sorotan publik setelah terlihat mengganti warna dasinya dari merah ke biru saat Sidang Tahunan MPR RI. Peristiwa ini terjadi di Gedung DPR/MPR, Jakarta, pada Jumat (15/8), memicu berbagai spekulasi mengenai makna di baliknya. Pengamat Mikroekspresi dan Komunikasi dari Narapatih Institute, Kirdi Putra, memberikan pandangannya terkait perubahan ini.
Menurut Kirdi Putra, pergantian warna dasi oleh Gibran ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan sebuah gestur politik. Ia menilai langkah ini sangat mencerminkan gaya berpolitik ayahnya, Presiden Joko Widodo. Kirdi menambahkan bahwa strategi komunikasi politik yang dilakukan Gibran memiliki kemiripan kuat dengan pendekatan yang sering digunakan Jokowi.
Perubahan warna dasi Gibran Rakabuming Raka ini dianggap sebagai bagian dari strategi komunikasi politik yang mendalam. Kirdi Putra menyebutkan bahwa tindakan ini merupakan cara untuk menyampaikan pesan tanpa harus diucapkan secara langsung. Hal ini sesuai dengan filosofi politik Jawa yang sering mengandalkan simbol dan isyarat.
Makna Simbolik Dasi Biru Gibran
Kirdi Putra menjelaskan bahwa penggantian warna dasi oleh Gibran memiliki dua interpretasi utama yang saling berkaitan. Pertama, dasi biru tersebut dapat diartikan sebagai bentuk penghormatan Gibran kepada Presiden Prabowo Subianto. Hal ini juga menunjukkan bahwa Gibran merasa menjadi bagian integral dari pemerintahan yang sedang berjalan, mendukung penuh kepemimpinan Prabowo.
Interpretasi kedua, yang tidak kalah penting, adalah keinginan Gibran untuk menunjukkan posisinya yang sejajar. Dasi biru ini bisa menjadi simbol bahwa Gibran merasa layak untuk mendampingi Prabowo dalam berbagai kapasitas. Hal ini juga dapat diartikan sebagai penegasan bahwa Gibran memiliki kapabilitas untuk memimpin, bahkan jika ada situasi yang mengharuskan dirinya menjadi Presiden.
Kirdi menegaskan bahwa penafsiran terhadap simbol ini sangat tergantung pada sudut pandang masing-masing individu. Namun, secara umum, perubahan dasi ini mengirimkan pesan kuat mengenai posisi dan ambisi politik Gibran. Ini adalah bagian dari strategi komunikasi yang halus namun efektif dalam kancah politik nasional.
Gaya Komunikasi Politik Ala Jokowi dan Gibran
Pengamat Kirdi Putra menggarisbawahi bahwa gaya komunikasi politik yang diterapkan oleh Gibran sangat mirip dengan pendekatan Joko Widodo. Kirdi menyebutkan tiga elemen utama dalam komunikasi politik ala Solo, Jawa Tengah, yaitu penggunaan simbol, "sanepan" atau perkataan tidak langsung, dan bergerak dalam senyap. Pergantian dasi ini adalah contoh nyata dari penggunaan simbol.
Meskipun menunjukkan kematangan dalam strategi, Kirdi juga mencatat adanya momen-momen di mana Gibran terlihat canggung atau gugup. Hal ini terlihat jelas saat Sidang Tahunan MPR RI atau ketika Gibran menjalankan tugas terpisah dari Presiden Prabowo Subianto. Keadaan ini menunjukkan bahwa Gibran masih dalam proses adaptasi terhadap peran barunya sebagai Wakil Presiden.
Kecanggungan ini, menurut Kirdi, adalah hal yang wajar mengingat skala dan pentingnya acara kenegaraan yang dihadiri Gibran. Terlebih lagi, dalam acara seperti Sidang Tahunan, hampir seluruh pejabat tinggi negara hadir. Pengamatan ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang dinamika komunikasi dan adaptasi Gibran dalam panggung politik nasional.
Konteks Sidang Tahunan MPR RI
Peristiwa pergantian dasi Gibran terjadi dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025. Acara penting ini diselenggarakan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta. Sidang ini merupakan agenda tahunan yang selalu menarik perhatian publik dan media massa.
Dalam Sidang Tahunan tersebut, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan pidato mengenai laporan kinerja lembaga-lembaga negara. Selain itu, Presiden juga akan menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan RI. Sidang ini menjadi platform penting bagi pemerintah untuk menyampaikan capaian dan rencana ke depan.
Sidang Tahunan dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2025 mengusung tema "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju". Tema ini mencerminkan semangat kebersamaan dan optimisme untuk kemajuan bangsa. Kehadiran para pejabat tinggi negara, termasuk Gibran, dalam acara ini menjadi bagian integral dari proses demokrasi dan kenegaraan.