Bukan Karena Komersial! PSSI Tunggu Kelengkapan Dokumen Pemain Naturalisasi Timnas Baru
Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengungkapkan alasan di balik kehati-hatian proses Pemain Naturalisasi Timnas baru, menunggu kelengkapan dokumen resmi.

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) saat ini tengah menanti kelengkapan dokumen resmi dari dua calon pemain naturalisasi baru untuk tim nasional Indonesia. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengonfirmasi perkembangan ini dalam sebuah jumpa pers yang diadakan di Jakarta pada Kamis lalu. Proses ini dilakukan dengan sangat hati-hati guna memastikan setiap aspek telah terpenuhi sebelum pengumuman resmi.
Erick Thohir menegaskan bahwa PSSI tidak ingin terburu-buru dalam proses naturalisasi ini. Ia menekankan bahwa pemain yang bergabung harus memiliki kecintaan yang tulus pada timnas Indonesia, bukan semata-mata didasari oleh motif komersial. Prinsip ini menjadi landasan utama bagi PSSI dalam setiap keputusan terkait naturalisasi pemain.
Meskipun identitas calon pemain belum diungkapkan ke publik, Erick menyebutkan bahwa respons dari kedua pemain dan orang tua mereka sangat positif. PSSI berharap proses ini dapat berjalan lancar seperti kasus Mauro Zijlstra, dengan target registrasi pada Agustus mendatang. Pertemuan dengan Presiden juga dijadwalkan minggu depan untuk membahas kelanjutan proses ini.
Proses Selektif dan Kerahasiaan Calon Pemain Naturalisasi
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, secara konsisten menolak untuk membocorkan identitas dua calon pemain naturalisasi yang sedang dalam proses. Ia menjelaskan bahwa kerahasiaan ini dijaga ketat karena kelengkapan surat-surat resmi masih dalam tahap menunggu. PSSI berkomitmen untuk tidak mengomentari rumor yang beredar sebelum ada kepastian dokumen.
Kehati-hatian dalam proses Pemain Naturalisasi Timnas ini menjadi prioritas utama PSSI. Erick Thohir menegaskan bahwa pengalaman sukses naturalisasi sebelumnya menunjukkan pentingnya pemain yang bergabung karena cinta pada timnas. Hal ini berbeda dengan anggapan bahwa naturalisasi hanya didasari oleh alasan komersial.
Erick Thohir juga menyoroti bahwa PSSI belajar dari prototipe naturalisasi yang telah berhasil. Hal ini memastikan bahwa setiap pemain yang akan dinaturalisasi benar-benar memiliki komitmen kuat untuk membela Merah Putih. PSSI tidak ingin sembarangan dalam memilih individu yang akan memperkuat tim nasional.
Filosofi Naturalisasi PSSI: Bukan Sekadar Grade dan Peringkat FIFA
Menanggapi kritik mengenai kualitas pemain naturalisasi yang dianggap bukan "grade A", Erick Thohir memberikan perspektif berbeda. Ia mengingatkan bahwa peringkat FIFA Indonesia saat ini masih berada di posisi 118 dunia. Oleh karena itu, pemain dan pelatih harus menyadari kondisi ini.
Erick Thohir menekankan bahwa pemain yang memilih bergabung dengan timnas Indonesia, terlepas dari peringkat FIFA yang belum optimal, patut disyukuri. Ia menambahkan bahwa jika Indonesia ingin menarik pemain dengan kualitas yang lebih tinggi, peringkat FIFA harus mencapai setidaknya 50 besar dunia. Ini menjadi target jangka panjang PSSI.
PSSI juga memiliki strategi jangka panjang dalam pengembangan talenta melalui perekrutan Simon Tahamata. Simon Tahamata direkrut untuk melihat dan mengembangkan talent pool di berbagai kelompok umur, mulai dari U-17, U-20, U-23, hingga tim senior. Hal ini menunjukkan fokus PSSI pada keberlanjutan dan pembinaan, bukan hanya naturalisasi instan.
Filosofi ini menegaskan bahwa pemilihan Pemain Naturalisasi Timnas tidak hanya didasarkan pada peringkat atau label "grade A", melainkan pada komitmen dan potensi kontribusi. PSSI berupaya membangun tim yang solid dan berkelanjutan, dengan mempertimbangkan semua aspek, termasuk peringkat FIFA dan pengembangan pemain lokal.