China Kecam Ancaman AS terhadap Iran, Tekankan Diplomasi sebagai Solusi Nuklir
China mengecam ancaman AS terhadap Iran dan menekankan pentingnya diplomasi untuk menyelesaikan krisis nuklir, berbeda dengan pendekatan AS yang agresif.
Beijing, 2 April 2025 - Ketegangan seputar program nuklir Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan membombardir Iran. Ancaman ini dilayangkan menyusul surat yang dikirim Trump ke Iran melalui Uni Emirat Arab, menawarkan pembicaraan namun tetap bersikap keras. Sebagai tanggapan, China menegaskan pendekatannya yang berbeda, menekankan pentingnya diplomasi dan negosiasi untuk menyelesaikan krisis ini.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan dalam konferensi pers di Beijing bahwa China akan terus mempromosikan dialog perdamaian dan bekerja untuk memulai kembali negosiasi guna mencapai solusi yang adil dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons langsung terhadap ancaman militer yang dilontarkan oleh Presiden Trump. Sikap tegas China ini menunjukkan perbedaan mendasar dalam strategi penanganan krisis nuklir Iran antara kedua negara adidaya tersebut.
Perbedaan pendekatan ini semakin jelas terlihat dengan pernyataan Guo Jiakun yang menekankan bahwa menyelesaikan masalah nuklir Iran melalui jalur politik dan diplomasi adalah satu-satunya pilihan yang tepat. China bahkan baru-baru ini menjadi tuan rumah pertemuan di Beijing yang menghasilkan lima poin usulan untuk penyelesaian masalah ini, menunjukkan komitmen nyata Beijing terhadap jalur diplomasi.
Perbedaan Pendekatan China dan AS dalam Menangani Krisis Nuklir Iran
China secara konsisten mengkritik pendekatan AS yang agresif dan menekankan pentingnya kembali ke kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA). Guo Jiakun menegaskan bahwa implementasi JCPOA terganggu oleh keputusan AS untuk menarik diri dari perjanjian tersebut. Ia mendesak AS untuk menunjukkan ketulusan politik dan melanjutkan pembicaraan sesegera mungkin untuk mencapai konsensus baru.
Sebaliknya, Presiden Trump, sejak kembali menjabat, memberlakukan kembali kebijakan 'tekanan maksimum' yang meliputi sanksi luas terhadap Iran. Kebijakan ini telah menyebabkan Iran melampaui batasan pengayaan uranium yang ditetapkan dalam JCPOA. China berpendapat bahwa sanksi, tekanan, dan ancaman penggunaan kekuatan tidak akan menghasilkan solusi yang efektif.
Menurut Guo Jiakun, prioritas saat ini adalah agar semua pihak terkait memiliki sikap yang konstruktif dan memperluas upaya diplomatik untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan dimulainya kembali negosiasi. Hal ini penting untuk mengakomodasi kekhawatiran semua pihak, menegakkan rezim nonproliferasi nuklir internasional, dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
Meskipun Iran telah menyatakan kesediaan untuk melakukan pembicaraan tidak langsung melalui Oman, ancaman militer dari AS tetap menjadi penghalang utama dalam proses tersebut. Ancaman tersebut, menurut China, justru akan memperkeruh situasi dan menghambat upaya diplomasi.
Tanggapan Iran terhadap Ancaman AS
Meskipun ancaman Trump cukup keras, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa Iran ‘tidak terlalu khawatir’ dengan kata-kata tersebut. Khamenei menganggap tidak mungkin bahaya seperti itu akan datang dari luar. Namun, ia menegaskan bahwa jika ada tindakan jahat yang terjadi, maka akan ada tanggapan yang tegas dan menentukan.
Tidak jelas apakah ancaman Trump merupakan ancaman serangan AS secara tunggal atau operasi yang dikoordinasikan dengan negara lain, seperti Israel. Ketidakjelasan ini semakin meningkatkan ketegangan dan menggarisbawahi pentingnya pendekatan diplomatik yang diusulkan oleh China.
Kesimpulannya, perbedaan pendekatan China dan AS dalam menangani krisis nuklir Iran sangat mencolok. China menekankan pentingnya diplomasi dan negosiasi, sementara AS cenderung menggunakan pendekatan yang lebih agresif dan berbasis tekanan. Situasi ini membutuhkan solusi diplomatik yang komprehensif untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.