Gunung Ruang di Sulawesi Utara: Aktivitas Vulkanik Menurun, Status Waspada
Gunung Ruang di Sulawesi Utara menunjukkan penurunan aktivitas vulkanik, meskipun masih berstatus waspada setelah erupsi April 2024, dengan aktivitas gempa vulkanik dalam yang terekam.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan telah merekam 11 kali gempa vulkanik dalam di Gunung Ruang, Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, periode 1-15 Februari 2025. Gempa ini menunjukkan adanya suplai atau migrasi magma dari kedalaman ke permukaan, menurut Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid. Selain itu, tercatat 27 gempa embusan, satu gempa vulkanik dangkal, tiga gempa tektonik lokal, dan 81 gempa tektonik jauh. Satu kali gempa terasa dengan skala II MMI dan satu kali gempa getaran banjir juga tercatat.
Pasca erupsi besar pada April 2024, asap kawah masih teramati, dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang, mencapai ketinggian 50-100 meter dari puncak. Meskipun aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Ruang cenderung rendah dan didominasi gempa tektonik akibat subduksi di Sulawesi Utara dan Laut Maluku, aktivitas gunung api ini belum sepenuhnya kembali normal.
Meskipun jumlah gempa vulkanik telah menurun signifikan dibandingkan bulan April-Mei 2024 (sekitar 1-3 per hari), status Gunung Ruang tetap pada Level II (Waspada) sejak 18 Mei 2024 pukul 09.00 WITA. Penurunan status ini menunjukkan adanya tren penurunan aktivitas vulkanik, namun kewaspadaan tetap diperlukan.
Aktivitas Gempa dan Asap Kawah Gunung Ruang
Data yang diperoleh Badan Geologi menunjukkan variasi aktivitas seismik di Gunung Ruang. Jumlah gempa vulkanik dalam yang tercatat sebanyak 11 kali mengindikasikan adanya pergerakan magma di bawah permukaan. Namun, jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan periode pasca erupsi. Keberadaan gempa embusan juga menunjukkan adanya pelepasan gas dari dalam gunung api.
Pengamatan visual menunjukkan asap kawah berwarna putih dengan intensitas yang bervariasi. Hal ini menunjukkan adanya pelepasan uap air dan gas vulkanik. Tinggi asap yang teramati berkisar antara 50 hingga 100 meter, menunjukkan tekanan gas yang relatif lemah.
Dominasi gempa tektonik menunjukkan pengaruh dari aktivitas tektonik regional, khususnya subduksi di wilayah Sulawesi Utara dan Laut Maluku. Aktivitas tektonik ini tidak secara langsung terkait dengan aktivitas vulkanik Gunung Ruang, namun dapat mempengaruhi stabilitas lereng dan potensi terjadinya longsoran.
Penurunan Status Aktivitas dan Rekomendasi
Penurunan status Gunung Ruang dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam aktivitas vulkanik. Meskipun demikian, masyarakat di sekitar Gunung Ruang dan pengunjung tetap diimbau untuk waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Meskipun aktivitas kegempaan telah menurun, perlu diingat bahwa gunung api tetap aktif dan berpotensi untuk mengalami peningkatan aktivitas kembali. Pemantauan secara intensif terus dilakukan oleh Badan Geologi untuk mendeteksi perubahan aktivitas vulkanik.
Rekomendasi yang diberikan kepada masyarakat adalah untuk tetap tenang, namun tetap waspada terhadap potensi bahaya. Masyarakat di sekitar Gunung Ruang perlu mengikuti arahan dari pihak berwenang dan selalu memperbarui informasi terkait aktivitas gunung api.
Kesimpulannya, meskipun aktivitas Gunung Ruang telah menurun dan statusnya diturunkan menjadi Waspada, pemantauan dan kewaspadaan tetap penting untuk memastikan keselamatan masyarakat sekitar. Data seismik dan visual terus dipantau untuk mendeteksi perubahan aktivitas yang signifikan.