Indonesia Hentikan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Myanmar
Pemerintah Indonesia telah mengakhiri misi kemanusiaan untuk korban gempa di Myanmar setelah mengirimkan tiga tahap bantuan kemanusiaan, dengan total 124 ton logistik dan 157 personel.
Pemerintah Indonesia telah resmi menghentikan pengiriman bantuan kemanusiaan untuk para korban gempa bumi di Myanmar. Penghentian ini dilakukan setelah pengiriman tiga tahap bantuan kemanusiaan yang telah rampung pada tanggal 31 Maret, 1 April, dan Kamis, 6 April 2024. Bantuan tersebut meliputi logistik dan personel yang dikirimkan langsung dari Indonesia.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menyatakan bahwa pengiriman bantuan tahap terakhir telah dilakukan pada Kamis. "Pengiriman hari ini adalah tahap terakhir. Setelah hari ini, komunitas yang ingin mengirimkan donasi mereka harus menggunakan saluran mereka sendiri. Pemerintah tidak akan lagi memfasilitasinya," tegas Suharyanto di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Misi kemanusiaan Indonesia ke Myanmar melibatkan total 157 personel dari berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, BNPB, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Sebanyak 92 personel telah tiba di Myanmar untuk menjalankan berbagai misi penanggulangan bencana.
Bantuan Logistik dan Personel yang Dikirim
Total bantuan logistik yang dikirimkan pemerintah Indonesia mencapai 124 ton. Sebagian besar bantuan, sekitar 105 ton, dikirim dalam pengiriman tahap ketiga menggunakan dua pesawat, yaitu satu pesawat Garuda 747-800 dan satu pesawat kargo. Bantuan ini mencakup obat-obatan dari Kementerian Kesehatan, serta donasi dari Kementerian Pertanian, Basarnas, BNPB, dan sektor swasta.
Bantuan dari sektor swasta berasal dari berbagai lembaga, antara lain Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Human Initiative, AGP, Budha Tzu Chi, dan lainnya. Sementara itu, sekitar 24 ton bantuan telah tiba di Myanmar lebih dulu, yang berasal dari Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kementerian Pertahanan.
Suharyanto juga menjelaskan bahwa beberapa peralatan dari Basarnas, termasuk dua truk, generator, dan peralatan lainnya, telah tiba di Myanmar, sedangkan sisanya termasuk dalam pengiriman tahap terakhir. Semua bantuan ini didasarkan pada kebutuhan korban gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang melanda Myanmar pada 28 Maret 2024.
Koordinasi Antar Lembaga dan Penempatan Personel
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, turut menegaskan bahwa seluruh bantuan yang dikirimkan disesuaikan dengan kebutuhan para korban gempa di Myanmar. Ia juga menjelaskan bahwa logistik dan personel kemanusiaan diterbangkan dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Kota Naypyidaw, Myanmar.
Keberhasilan misi kemanusiaan ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam membantu negara-negara yang terdampak bencana. Meskipun misi resmi telah berakhir, diharapkan bantuan dari sektor swasta dapat terus mengalir untuk membantu pemulihan Myanmar pasca gempa.
Meskipun bantuan pemerintah telah berakhir, masyarakat Indonesia yang masih ingin memberikan bantuan dapat melakukannya melalui jalur swasta. Hal ini menandai berakhirnya misi kemanusiaan pemerintah Indonesia untuk korban gempa di Myanmar, namun semangat kemanusiaan tetap diharapkan terus berlanjut.
Dengan berakhirnya misi ini, pemerintah Indonesia berharap agar Myanmar dapat segera pulih dari dampak gempa bumi yang telah terjadi. Semoga bantuan yang telah diberikan dapat meringankan beban para korban dan membantu proses pemulihan.