LIVE
  • Home
  • Hot News
  • Artis
  • Sains
  • Inspira
  • Sehat
  • Otomotif
  • Lifestyle
  • Sejarah
  • Travel
  • Sepakbola
  • Sport
  • Ngakak
LIVE
  • Hot News
  • Artis
  • Sains
  • Inspira
  • Sehat
  • Otomotif
  • Lifestyle
  • Sejarah
  • Travel
  • Sepakbola
  • Sport
  • Ngakak
HEADLINE HARI INI
  • {title}
  • {title}
  1. Hot News

Kejagung Resmi Ajukan Banding atas Vonis Tom Lembong: Selisih Kerugian Negara Jadi Sorotan Utama

Kejaksaan Agung secara resmi mengajukan banding vonis Tom Lembong terkait kasus korupsi impor gula, dengan perbedaan perhitungan kerugian negara menjadi alasan utama JPU.

Rabu, 23 Jul 2025 21:05:00
konten ai
Kejaksaan Agung secara resmi mengajukan banding vonis Tom Lembong terkait kasus korupsi impor gula, dengan perbedaan perhitungan kerugian negara menjadi alasan utama JPU. (©Planet Merdeka)
Advertisement

Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah secara resmi mengajukan banding atas vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta terhadap mantan Menteri Perdagangan periode 2015–2016, Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong. Pengajuan banding ini dilakukan setelah vonis dibacakan pada Jumat (18/7), dan dikonfirmasi oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna, pada Rabu (23/7).

Langkah banding ini diambil karena adanya perbedaan pandangan yang signifikan terkait jumlah kerugian negara yang ditimbulkan akibat kasus korupsi importasi gula tersebut. Perbedaan angka kerugian negara menjadi poin krusial yang mendasari keputusan JPU untuk menempuh jalur hukum selanjutnya.

Keputusan JPU untuk mengajukan banding menunjukkan komitmen Kejagung dalam menegakkan hukum dan memastikan keadilan terkait kasus korupsi yang merugikan keuangan negara. Proses banding ini diharapkan dapat membawa kejelasan dan keseragaman dalam penentuan besaran kerugian negara yang sebenarnya.

Advertisement

Perbedaan Perhitungan Kerugian Negara

Dalam persidangan vonis, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menetapkan kerugian negara akibat kasus korupsi importasi gula yang menjerat Tom Lembong adalah sebesar Rp194,72 miliar. Selain itu, Majelis Hakim juga menyatakan bahwa selisih pembayaran bea masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) gula kristal putih (GKP) serta gula kristal mentah (GKM) sejumlah Rp320,69 miliar tidak dapat dikategorikan sebagai kerugian keuangan negara.

Angka ini sangat berbeda dengan dakwaan JPU yang menyebutkan adanya kerugian negara sebesar Rp578,1 miliar dalam kasus yang sama. Selisih angka yang cukup besar ini menjadi salah satu alasan utama mengapa JPU merasa perlu untuk mengajukan banding.

Anang Supriatna menjelaskan bahwa perbedaan ini menjadi objek penting dalam memori banding JPU. Terlebih lagi, Kejagung telah berhasil menyita dan menerima pengembalian uang dari sembilan tersangka lain dalam kasus importasi gula tersebut sebesar Rp565 miliar pada Februari 2025, angka yang mendekati perhitungan kerugian negara versi JPU.

Advertisement

Jumlah pengembalian uang yang telah disita tersebut semakin memperkuat argumen JPU mengenai besaran kerugian negara yang sebenarnya. Oleh karena itu, JPU berharap pengadilan tingkat banding dapat mempertimbangkan bukti dan argumen yang mereka ajukan untuk mencapai putusan yang lebih sesuai dengan fakta yang ada.

Detail Kasus dan Vonis Tom Lembong

Tom Lembong sendiri telah divonis pidana 4 tahun dan 6 bulan penjara setelah terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Selain hukuman penjara, ia juga dijatuhi pidana denda sebesar Rp750 juta, dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar, maka akan diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan.

Perbuatan Tom Lembong dinyatakan melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pasal ini mengatur tentang perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Dalam dakwaan, Tom Lembong disebut merugikan keuangan negara sebesar Rp578,1 miliar, antara lain karena menerbitkan surat pengakuan impor atau persetujuan impor gula kristal mentah periode 2015–2016 kepada 10 perusahaan. Penerbitan surat tersebut dilakukan tanpa didasarkan pada rapat koordinasi antarkementerian serta tanpa disertai rekomendasi dari Kementerian Perindustrian.

Selain itu, surat persetujuan impor gula kristal mentah tersebut diduga diberikan untuk mengimpor gula kristal mentah guna diolah menjadi gula kristal putih. Padahal, Tom Lembong mengetahui bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak berhak mengolah gula kristal mentah menjadi gula kristal putih karena merupakan perusahaan gula rafinasi. Ia juga tidak menunjuk perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk pengendalian ketersediaan dan stabilisasi harga gula, melainkan menunjuk Induk Koperasi Kartika (Inkopkar), Induk Koperasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Inkoppol), Pusat Koperasi Kepolisian Republik Indonesia (Puskopol), serta Satuan Koperasi Kesejahteraan Pegawai (SKKP) TNI/Polri.

Berita Terbaru
  • Fakta Gempa Poso M 5,7: BNPB Salurkan Bantuan dan Dukungan Intensif untuk Warga Terdampak
  • Fakta Unik Gempa Poso: BNPB Salurkan Bantuan, Starlink Hadir Dukung Komunikasi
  • Fakta Unik: Patroli Dini Hari Polrestabes Surabaya Berhasil Tekan Balap Liar, Bagaimana Strateginya?
  • Patroli Keamanan Akhir Pekan: Kunci Polisi Metro Tangerang Kota Cegah Premanisme
  • 29 Tahun Peristiwa 27 Juli 1996: Mengapa PDIP Sebut Kudatuli sebagai Tonggak Reformasi?
  • banding vonis
  • hukum indonesia
  • jpu
  • kasus korupsi
  • kejaksaan agung
  • kerugian negara
  • konten ai
  • korupsi gula
  • menteri perdagangan
  • pengadilan tipikor
  • #planetantara
  • tom lembong
Artikel ini ditulis oleh
Editor Redaksi Merdeka
R
Reporter Redaksi Merdeka
Disclaimer

Artikel ini ditulis ulang menggunakan artificial intelligence (AI). Jika ada kesalahan dalam konten, mohon laporkan ke redaksi.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.