Menghadapi Pemimpin Ambisius: Pelajaran dari Napoleon dan Trump
Artikel ini menganalisis kepemimpinan Donald Trump, membandingkannya dengan Napoleon Bonaparte, dan mengkaji strategi menghadapi pemimpin berambisi tinggi yang cenderung mengabaikan nasihat dan opini orang lain.
Siapa, apa, kapan, di mana? John Bolton, mantan penasihat keamanan nasional AS, menggambarkan Donald Trump sebagai pemimpin yang yakin akan kebenarannya sendiri, bahkan sebelum memahami konteksnya. Pernyataan ini muncul dalam wawancara Bolton dengan media Inggris, LBC, dan relevan dengan konteks kepemimpinan Trump dan implikasinya bagi AS dan dunia.
Mengapa dan bagaimana? Bolton, yang berselisih dengan Trump dan menulis buku memoar yang mengkritiknya, menilai Trump mengutamakan kepentingan pribadi, meringankan negara lawan seperti Rusia dan China, sementara menghukum lawan politiknya. Ambisi Trump terlihat jelas sejak pelantikan, mendeklarasikan akhir kemerosotan AS dan dimulainya 'Zaman Keemasan Amerika'. Ambisi ini diwujudkan melalui sejumlah kebijakan, seperti penetapan darurat nasional di perbatasan selatan, peningkatan produksi minyak dan gas, serta penerapan tarif impor.
Perbandingan dengan Napoleon: Ambisi Trump mengingatkan kita pada Napoleon Bonaparte. Keduanya memimpin negara adidaya (AS dan Prancis), menghadapi rival utama (China dan Inggris), dan menerapkan kebijakan ekonomi agresif. Trump menggunakan tarif tinggi, sementara Napoleon menerapkan Sistem Kontinental, sebuah blokade ekonomi terhadap Inggris.
Sistem Kontinental dan dampaknya: Sistem Kontinental, meskipun dimaksudkan untuk melemahkan Inggris, justru merugikan negara-negara Eropa yang menerapkannya. Kebijakan ini memicu kesulitan ekonomi, kerusuhan, dan perlawanan, akhirnya melemahkan Napoleon. Hal ini menjadi pelajaran berharga terkait kebijakan proteksionis dan konsekuensinya.
Kebijakan Trump: senjata makan tuan? Kebijakan tarif Trump berpotensi menjadi 'senjata makan tuan', meningkatkan harga barang di AS dan mengabaikan aliansi ekonomi China seperti BRICS, yang juga beranggotakan Indonesia. Sikap hati-hati banyak negara terhadap kebijakan Trump mencerminkan situasi serupa pada era Napoleon, di mana negara-negara Eropa secara diam-diam membentuk aliansi melawan Prancis.
Pelajaran dari Napoleon: Perlawanan terhadap Napoleon menunjukkan bahwa strategi diplomasi hati-hati, menunggu momentum tepat, dan membangun aliansi terselubung dapat efektif melawan pemimpin ambisius. Sikap pragmatis banyak negara terhadap Trump menunjukkan kemungkinan skenario serupa.
Ambisi: pedang bermata dua: Ambisi Napoleon, diiringi sifat narsistiknya, berkontribusi pada kejatuhannya. Meskipun AS memiliki sistem yang lebih demokratis daripada Prancis era Napoleon, ambisi Trump dan kecenderungan mengabaikan opini lain menimbulkan risiko serupa. Contohnya, gugatan 22 negara bagian AS terhadap perintah eksekutif Trump terkait hak kewarganegaraan menunjukkan adanya perlawanan terhadap kebijakannya.
Kesimpulan: Baik Napoleon maupun Trump, sebagai pemimpin dengan ambisi tinggi dan kepercayaan diri yang kuat, menunjukkan bahwa pengambilan keputusan yang hanya berpusat pada diri sendiri tanpa mempertimbangkan konteks dan opini lain bisa berujung pada kegagalan. Pemimpin seperti ini perlu memperhatikan konsekuensi jangka panjang dari kebijakan mereka dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum bertindak.