Bank Emas: Pilar Transformasi Ekonomi Indonesia?
Ekonom Josua Pardede optimis bank emas akan menjadi pilar penting transformasi ekonomi Indonesia, meningkatkan ketahanan ekonomi, dan mengoptimalkan potensi emas domestik.

Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, pada Selasa, 25 Februari 2025, menyatakan keyakinannya bahwa bank emas atau bullion bank memiliki potensi besar untuk mentransformasi perekonomian Indonesia. Hal ini disampaikannya menyusul rencana peresmian bank emas pertama di Indonesia pada 26 Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Pembentukan bank emas ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi emas dalam negeri yang selama ini diekspor tanpa penyimpanan khusus di Indonesia, sehingga diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Indonesia, sebagai salah satu dari 10 produsen emas terbesar dunia, memiliki sekitar 1.800 ton emas yang belum dimonetisasi di masyarakat dan cadangan emas sekitar 7,6 ton. Potensi besar ini mendorong pengembangan bank emas sebagai solusi untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya alam tersebut dan mengurangi ketergantungan pada impor emas.
Kehadiran bank emas diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan investasi dalam negeri, mengurangi impor emas, serta meningkatkan inklusi dan pendalaman keuangan. Dengan adanya bank emas, masyarakat memiliki akses yang lebih mudah terhadap layanan keuangan berbasis emas, seperti tabungan emas dan pembiayaan berbasis emas, yang dapat menjadi alternatif investasi yang menarik dan stabil.
Potensi Bank Emas dalam Transformasi Ekonomi RI
Josua Pardede menjelaskan bahwa bank emas akan memperkuat sektor jasa keuangan berbasis emas dengan menyediakan berbagai layanan, termasuk tabungan emas, pembiayaan berbasis emas, perdagangan emas, dan kustodian emas. Hal ini akan menciptakan instrumen safe haven yang stabil dan tahan terhadap inflasi, menarik minat investor untuk menempatkan dana dalam bentuk emas.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa bank emas dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor emas. Dengan memonetisasi emas domestik, neraca perdagangan Indonesia akan semakin kuat. Ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi defisit neraca perdagangan dan meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di kancah global.
Peningkatan inklusi dan pendalaman keuangan juga menjadi dampak positif lainnya. Bank emas akan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis emas, khususnya bagi mereka yang belum terjangkau oleh layanan keuangan konvensional. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Regulasi dan Dukungan Pemerintah
Pemerintah Indonesia, melalui Presiden Prabowo Subianto, telah menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan bank emas. Hal ini ditandai dengan rencana peresmian bank emas pertama di Indonesia pada 26 Februari 2025. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengoptimalkan potensi emas dalam negeri.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah berperan aktif dalam mendukung pengembangan bank emas dengan menerbitkan Peraturan OJK (POJK) Nomor 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion. POJK ini mengatur kegiatan usaha bulion, termasuk simpanan emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, dan penitipan emas.
Selain itu, OJK telah memberikan izin kepada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dan PT Pegadaian (Persero) untuk menjalankan kegiatan usaha bulion. Langkah ini menunjukkan dukungan nyata dari regulator terhadap pengembangan sektor keuangan berbasis emas di Indonesia.
Dengan adanya regulasi yang jelas dan dukungan dari pemerintah serta otoritas terkait, diharapkan bank emas dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat, sehingga dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap transformasi ekonomi Indonesia.
Kesimpulan: Bank emas memiliki potensi besar untuk menjadi pilar penting dalam transformasi ekonomi Indonesia. Dengan dukungan regulasi yang kuat dan komitmen pemerintah, bank emas dapat meningkatkan ketahanan ekonomi, mengoptimalkan potensi emas domestik, dan meningkatkan inklusi keuangan.