BNPB Relokasi 428 Rumah di Bogor untuk Cegah Bencana Pergerakan Tanah
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan relokasi 428 rumah di Bogor, Jawa Barat, yang rawan pergerakan tanah pasca banjir bandang awal Maret 2025, guna melindungi warga.

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada awal Maret 2025 telah mengakibatkan tanah menjadi labil dan mengancam 428 rumah warga di Desa Bojong Koneng, Cijayanti, Karang Tengah, dan Kampung Pensiunan. Sebagai respons, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan relokasi rumah-rumah tersebut untuk mencegah korban jiwa akibat pergerakan tanah. Relokasi ini merupakan upaya pemerintah untuk melindungi warga dari ancaman bencana yang terus mengintai.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa relokasi ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi pergerakan tanah dan memastikan keamanan hunian bagi warga terdampak. "Relokasi ini dilakukan pemerintah guna mengantisipasi potensi pergerakan tanah dan untuk memastikan keamanan hunian bagi warga terdampak," kata Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta.
Langkah cepat relokasi ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana dan melindungi keselamatan warganya. Proses relokasi melibatkan koordinasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat setempat, untuk memastikan kelancaran dan keberhasilan program ini. Pemilihan lokasi relokasi juga mempertimbangkan aspek keamanan, aksesibilitas, dan ketersediaan infrastruktur pendukung.
Relokasi ke Lokasi yang Lebih Aman
Sebanyak 428 rumah warga akan direlokasi ke lokasi yang lebih aman. Rumah-rumah di Desa Bojong Koneng, Cijayanti, dan Karang Tengah akan dipindahkan ke Sentul City. Sementara itu, sembilan rumah di Kampung Pensiunan akan direlokasi ke wilayah Cisarua, Bogor. Keputusan relokasi ini diambil setelah dilakukan kajian dan analisis risiko bencana oleh tim ahli BNPB.
Proses relokasi ini melibatkan berbagai tahapan, mulai dari identifikasi rumah terdampak, penentuan lokasi relokasi, hingga pembangunan rumah baru bagi warga terdampak. BNPB memastikan proses ini dilakukan secara terencana dan terkoordinasi dengan baik agar tidak menimbulkan masalah baru bagi warga yang direlokasi. Pemerintah juga akan memberikan bantuan dan dukungan penuh kepada warga selama proses relokasi berlangsung.
Selain relokasi, BNPB juga memastikan bahwa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi sedang berlangsung, termasuk pemulihan infrastruktur dan permukiman yang rusak akibat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Bogor. Proses pemulihan ini diharapkan dapat mengembalikan kondisi daerah terdampak ke keadaan semula dan meningkatkan ketahanan terhadap bencana di masa mendatang.
Pemulihan Infrastruktur Terdampak
Tidak hanya fokus pada relokasi rumah warga, BNPB juga gencar melakukan pemulihan infrastruktur yang rusak akibat bencana. Dua jembatan penghubung yang rusak di Desa Leuwimalang dan Desa Jogjogan, Kecamatan Cisarua, sedang dalam proses pembangunan kembali. Proses pembangunan jembatan ini dibantu oleh personel TNI Angkatan Darat (AD).
Kepala BNPB, Suharyanto, telah memastikan langsung progres pembangunan jembatan tersebut. "Kepala BNPB Suharyanto memastikan langsung proses pembangunan jembatan telah mencapai progres 60 persen dan diperkirakan akan segera rampung dalam waktu dekat," ujar Abdul Muhari. Keterlibatan TNI AD dalam pembangunan jembatan menunjukkan sinergi antar lembaga pemerintah dalam penanggulangan bencana.
BNPB berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan percepatan pemulihan dan kesiapan menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang. Upaya ini meliputi peningkatan sistem peringatan dini, edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana, serta penguatan infrastruktur yang tahan bencana. Semua upaya ini bertujuan untuk mengurangi risiko bencana dan melindungi masyarakat dari dampaknya.
Dengan relokasi 428 rumah dan pemulihan infrastruktur yang terus berjalan, BNPB menunjukkan komitmennya dalam melindungi warga dari ancaman bencana dan membangun kembali daerah terdampak. Kerja sama dan koordinasi antar lembaga serta partisipasi masyarakat sangat penting untuk memastikan keberhasilan upaya-upaya tersebut.