Edukasi Minim, Regulasi Belum Optimal: Kasus Penyakit Ginjal di Indonesia Meningkat
Rendahnya kesadaran masyarakat dan optimalisasi regulasi yang kurang memadai menyebabkan peningkatan kasus penyakit ginjal di Indonesia, menurut dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso.

Kasus penyakit ginjal di Indonesia meningkat pesat. Hal ini disebabkan oleh dua faktor utama: kurangnya edukasi kesehatan kepada masyarakat dan belum optimalnya regulasi terkait pencegahan dan penanganan penyakit ginjal. Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, dr. Wayan Nariata, mengungkapkan keprihatinannya mengenai masalah ini dalam siaran Kementerian Kesehatan pada Selasa, 25 Maret 2024, bertepatan dengan Hari Ginjal Sedunia.
Menurut dr. Wayan, banyak masyarakat Indonesia yang tidak memahami penyakit ginjal, gejalanya, dan cara mendeteksinya. Akibatnya, mereka baru mencari pertolongan medis ketika penyakit sudah parah. "Masyarakat kurang mengetahui tentang penyakit ginjal, cara mendeteksinya, gejalanya, sehingga mereka datang berobat ketika penyakitnya sudah parah," ujar dr. Wayan.
Selain kurangnya kesadaran masyarakat, optimalisasi regulasi dari pemerintah juga dinilai belum maksimal. Pencegahan penyakit ginjal, mulai dari deteksi dini hingga penanganan, perlu ditingkatkan secara signifikan. Dr. Wayan menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mengatasi masalah ini.
Faktor Risiko Penyakit Ginjal
Penyakit gagal ginjal dipengaruhi oleh dua jenis faktor: faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi meliputi usia dan genetik. Sementara itu, faktor yang dapat dimodifikasi meliputi tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, merokok, penggunaan obat-obatan atau suplemen tertentu, serta pola makan dan minum yang tidak sehat.
"Tetapi di satu sisi ada lagi faktor-faktor yang bisa kita modifikasi. Ini misalnya yang pertama tekanan darah, hipertensi. Kita sesuaikan kenapa ya, nanti misalnya diabetes, gula darah itu bisa kita modifikasi," jelas dr. Wayan.
Pola hidup sehat sangat penting untuk mencegah penyakit ginjal. Mengontrol tekanan darah dan kadar gula darah, menghindari merokok, serta mengonsumsi makanan dan minuman sehat dapat mengurangi risiko terkena penyakit ginjal.
Gejala Penyakit Ginjal dan Pentingnya Skrining
Sayangnya, penyakit ginjal seringkali baru menunjukkan gejala ketika sudah parah. Beberapa gejala awal yang dapat dikenali meliputi pembengkakan, kelelahan, pusing, dan berkurangnya volume urine (sekitar 400-500 cc). Pada stadium lanjut, gejala yang muncul antara lain mual, muntah, dan gatal-gatal di seluruh tubuh.
"Pada stadium lanjut, mual-mual, muntah-muntah. Kemudian, gatal-gatal seluruh tubuh. Dan itu beda dengan gatal-gatal yang kita ketahui pada penyakit kulit biasa, dan biasanya itu tidak akan membaik dengan dikasih obat-obat biasa," tambah dr. Wayan.
Untuk mendeteksi risiko penyakit ginjal sejak dini, skrining sangat penting dilakukan. Skrining dapat mendeteksi proteinuria (jumlah protein dalam urin yang melebihi batas normal) dan hematuria (adanya sel darah merah dalam urin). Pemeriksaan ini dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Frekuensi skrining disesuaikan dengan faktor risiko. Bagi individu dengan faktor risiko tinggi, skrining dianjurkan dilakukan setiap tahun, sedangkan bagi yang tidak memiliki faktor risiko tinggi, skrining dapat dilakukan setiap 2-3 tahun sekali. Jika ditemukan masalah ginjal, frekuensi pemeriksaan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan risiko.
Kesimpulannya, peningkatan kasus penyakit ginjal di Indonesia membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Peningkatan edukasi kesehatan masyarakat dan optimalisasi regulasi pemerintah sangat penting untuk mencegah dan menangani penyakit ginjal secara efektif. Deteksi dini melalui skrining juga sangat krusial untuk meningkatkan peluang kesembuhan.