Era Baru Timnas Indonesia di Bawah Patrick Kluivert: Tantangan dan Harapan
Patrick Kluivert resmi melatih Timnas Indonesia, menggantikan Shin Tae-yong, dengan target besar Piala Dunia 2026, namun langkah ini penuh tantangan dan risiko mengingat rekam jejak kepelatihan Kluivert yang kurang meyakinkan.

Pengangkatan Patrick Kluivert sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 11 Januari 2024 menandai babak baru bagi sepak bola Indonesia. Setelah lima tahun di bawah arahan Shin Tae-yong, kini legenda sepak bola Belanda ini memegang kendali, membawa harapan dan tantangan sekaligus bagi skuat Garuda.
Pengenalan Kluivert kepada publik Indonesia dilakukan pada 12 Januari di Hotel Mulia, Jakarta. Acara tersebut dihadiri sekitar 200 awak media, yang mengajukan berbagai pertanyaan kepada Kluivert, mulai dari strategi hingga bagaimana ia akan menyatukan tim dan memenangkan hati suporter yang sudah terikat dengan Shin Tae-yong. Kluivert datang bersama asisten pelatih Denny Landzaat, sementara asisten lainnya, Alex Pastoor, menyusul kemudian.
Sebagai bagian dari adaptasi, Kluivert bertemu dengan lima pemain Timnas Indonesia: Rizky Ridho, Muhammad Ferarri, Witan Sulaeman (Persija), Egy Maulana Vikry, dan Ricky Kambuaya (Dewa United). Ia juga meninjau fasilitas latihan, termasuk Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), dan bertemu dengan Menpora Dito Ariotedjo.
Kontrak Kluivert berdurasi dua tahun dengan opsi perpanjangan. Target utamanya, tentu saja, adalah membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026. Namun, rekam jejak kepelatihan Kluivert kurang mengesankan, dengan pengalaman sebagai pelatih utama di Adana Demirspor (Turki) dan Curacao yang kurang berhasil.
Tim Kepelatihan Kluivert: Kolaborasi untuk Sukses
Untuk mengatasi tantangan ini, Kluivert menggandeng Alex Pastoor dan Denny Landzaat sebagai asisten pelatih. Ketiga pelatih, sama-sama berasal dari Amsterdam, diharapkan dapat saling melengkapi dan mewujudkan mimpi Indonesia di Piala Dunia 2026. PSSI menilai kombinasi ini ideal, dengan Kluivert diharapkan mampu membangun atmosfer positif di tim, sementara Pastoor, dengan pengalaman kepelatihannya yang luas, akan merancang strategi permainan.
Alex Pastoor, dengan lebih dari 20 tahun pengalaman dan rekor impresif 1,3 poin per pertandingan, dianggap sebagai otak taktikal tim. Ia pernah membawa tiga klub promosi ke Eredivisie dan menjuarai Eerste Divisie bersama Sparta Rotterdam. Fleksibel dalam strategi, Pastoor tidak terpaku pada satu formasi, contohnya formasi 4-3-3, tetapi mampu beradaptasi sesuai dengan kekuatan pemain.
Denny Landzaat, yang berpengalaman sebagai asisten pelatih di berbagai klub internasional, memiliki keunggulan tambahan yaitu kemampuan berbahasa Indonesia, sehingga memudahkan komunikasi dan pendekatan dengan pemain lokal.
PSSI Bertaruh Besar pada Kluivert
Keputusan PSSI mengganti Shin Tae-yong, yang masih terikat kontrak hingga Juni 2027, merupakan langkah yang berisiko. Meskipun Indonesia berada di posisi ketiga klasemen sementara kualifikasi Piala Dunia 2026 Grup C, PSSI memutuskan untuk berganti pelatih. Hal ini dilakukan setelah Indonesia gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2024.
Meskipun Erick Thohir, Ketua Umum PSSI, menyebut adanya ‘dinamika’ internal tim di bawah Shin Tae-yong, pergantian pelatih ini tetap berisiko. Nama besar Kluivert bukan jaminan kesuksesan, seperti yang terlihat dari contoh-contoh sebelumnya, seperti kegagalan Jurgen Klinsmann bersama Korea Selatan dan Roberto Mancini bersama Arab Saudi.
Perubahan pelatih juga berpotensi mengganggu kekompakan tim, mengingat sebagian besar pemain telah terbiasa dengan sistem tiga bek di bawah Shin Tae-yong. Perbedaan filosofi permainan—Kluivert menganut sepak bola menyerang dengan penguasaan bola, sementara Shin lebih pragmatis dan defensif—juga menjadi tantangan.
Dalam 2,5 bulan ke depan, kepemimpinan Kluivert akan diuji dalam pertandingan melawan Australia dan Bahrain. Sukses atau tidaknya Kluivert akan menentukan apakah keputusan PSSI ini tepat atau sebaliknya. Hanya waktu yang akan menjawabnya.