Fenomena Rojali di Pusat Perbelanjaan: Hippindo Sebut Bukan Masalah, Ini Alasannya!
Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menyikapi santai fenomena Rojali. Mengapa kehadiran Rojali di pusat perbelanjaan justru dianggap penting?

Fenomena "Rojali" atau rombongan jarang beli di pusat perbelanjaan kerap menjadi sorotan publik dan pelaku bisnis retail. Namun, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) justru memiliki pandangan yang berbeda dan lebih optimis. Mereka secara tegas menganggap kehadiran kelompok ini bukan sebuah masalah besar yang perlu dikhawatirkan.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, menegaskan bahwa yang terpenting saat ini adalah bagaimana menarik minat konsumen untuk kembali datang ke pusat perbelanjaan. Kehadiran pengunjung, meskipun tidak langsung melakukan transaksi pembelian, dinilai sebagai langkah awal yang krusial. Ini merupakan upaya strategis untuk membangun kembali gairah dan aktivitas di mal pasca-pandemi COVID-19 yang sempat melumpuhkan sektor ini.
Senada dengan pandangan tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso juga melihat fenomena "Rojali" sebagai hal yang wajar dalam dinamika pasar modern. Ia bahkan menawarkan solusi inovatif berupa strategi omnichannel sebagai pendekatan yang efektif. Integrasi antara pengalaman belanja daring dan luring ini diharapkan dapat menjembatani kebiasaan belanja konsumen yang semakin beragam.
Pentingnya Kehadiran Pengunjung di Pusat Perbelanjaan
Budihardjo Iduansjah dari Hippindo secara lugas menyatakan, "Rojali itu nggak apa-apa. Yang penting datang dulu, kita sepakat itu." Pernyataan ini secara jelas menggarisbawahi prioritas utama bagi pengelola pusat perbelanjaan saat ini, yaitu fokus pada upaya membangun kembali daya tarik dan meningkatkan angka kunjungan. Kehadiran fisik pengunjung dianggap sebagai fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis retail.
Menurutnya, tugas untuk mengubah kunjungan semata menjadi transaksi pembelian sepenuhnya berada di tangan para peritel. Hal ini dapat dicapai melalui berbagai strategi pemasaran yang kreatif dan inovatif. Mulai dari penawaran promosi yang menarik, pemberian diskon yang menggiurkan, hingga menciptakan pengalaman berbelanja yang unik dan tak terlupakan bagi setiap pengunjung yang datang.
Para pengusaha retail juga sangat memahami bahwa saat ini masyarakat cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Oleh karena itu, Budihardjo menekankan pentingnya adanya kerja sama atau kolaborasi yang erat antar seluruh sektor terkait. Tujuannya adalah untuk secara kolektif mendorong peningkatan transaksi, bahkan sekadar pembelian kecil seperti minuman atau makanan ringan, yang dapat berkontribusi pada perputaran ekonomi di mal.
Situasi pasca-COVID-19 memang membuat tantangan dalam menarik orang ke pusat perbelanjaan menjadi lebih besar. Namun, dengan pendekatan yang tepat, kehadiran pengunjung, terlepas dari intensi belanjanya, tetap menjadi indikator positif bagi pemulihan dan vitalitas ekonomi di sektor retail.
Strategi Omnichannel sebagai Solusi Modern
Menteri Perdagangan Budi Santoso menawarkan perspektif yang serupa namun dengan solusi yang lebih berorientasi teknologi mengenai fenomena "Rojali". Ia secara spesifik mengidentifikasi strategi omnichannel sebagai salah satu pendekatan inovatif yang dapat secara efektif mengatasi tantangan ini. Pendekatan ini berfokus pada integrasi pengalaman belanja luring dan daring secara mulus, menciptakan ekosistem belanja yang terhubung.
Budi Santoso menjelaskan bahwa dalam era digital saat ini, konsumen memiliki kebebasan penuh untuk memilih platform belanja yang paling sesuai dengan preferensi mereka. Baik itu melalui kunjungan langsung ke toko fisik tradisional maupun melalui platform niaga elektronik (e-commerce) yang semakin berkembang pesat. Fenomena "Rojali", di mana konsumen mungkin melihat produk secara langsung di toko namun kemudian melakukan pembelian melalui niaga elektronik, dianggap sebagai hal yang sangat wajar dan lumrah dalam perilaku konsumen modern.
Dengan demikian, toko fisik diharapkan tidak hanya berfungsi semata sebagai tempat penjualan langsung. Namun juga dapat berperan sebagai etalase atau "showroom" bagi produk-produk yang ditawarkan. Konsep ini memungkinkan peritel untuk tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan drastis dalam kebiasaan berbelanja konsumen, sekaligus memanfaatkan potensi pasar online yang luas.
Implementasi strategi omnichannel memungkinkan peritel untuk memberikan pengalaman belanja yang konsisten dan terintegrasi, baik saat konsumen berinteraksi secara fisik maupun digital. Ini adalah langkah maju untuk memastikan bahwa setiap kunjungan ke pusat perbelanjaan, baik untuk melihat-lihat maupun berbelanja, dapat dikonversi menjadi nilai tambah bagi ekosistem retail secara keseluruhan.