Indonesia Atasi Kekurangan Dokter Spesialis Lewat Program PPDS
Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis, khususnya di bidang jantung dan paru, dan mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dari 10 tahun menjadi.

JAKARTA, 16 Februari 2024 - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit menjadi strategi kunci dalam mengatasi kekurangan dokter spesialis di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di acara Konferensi Kerja Nasional Ikatan Ahli Bedah Toraks dan Kardiovaskular Indonesia 2025 di Jakarta.
"Kekurangan dokter spesialis di Indonesia sangat besar, dan kita atasi dengan sistem PPDS berbasis rumah sakit," tegas Menkes Budi.
Kekurangan Dokter Spesialis: Fokus pada Bedah Toraks dan Kardiovaskular
Indonesia menghadapi kekurangan signifikan dokter spesialis, termasuk ahli bedah toraks dan kardiovaskular. Dokter spesialis ini menangani penyakit pada organ di rongga dada, terutama jantung dan paru-paru. Mereka ahli dalam mendiagnosis, memberikan pengobatan, dan melakukan operasi.
Menkes Budi menekankan pentingnya peningkatan jumlah dokter dengan menyebarluaskan pengetahuan. "Saya meminta pihak terkait untuk meningkatkan jumlah dokter dengan menurunkan dan menyebarkan pengetahuan. Kita tidak akan kehabisan pasien," ujarnya.
Program PPDS Berbasis Rumah Sakit: Solusi Jangka Pendek dan Panjang
Sebelumnya, Menkes Budi menjelaskan bahwa program PPDS berbasis rumah sakit akan memprioritaskan dokter lokal. Pemenuhan dokter spesialis di seluruh daerah akan dilakukan secara terpadu, melalui pendidikan di universitas dan pendidikan berbasis rumah sakit.
Enam rumah sakit pendidikan telah disiapkan untuk program ini, yaitu Rumah Sakit Mata Cicendo, Rumah Sakit Ortopedi Soeharso, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON), Rumah Sakit Kanker Dharmais, Rumah Sakit Harapan Kita, dan RSJPD Harapan Kita.
Program ini diharapkan dapat memangkas waktu pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia dari 10 tahun menjadi sekitar 5 tahun. Sebuah lompatan signifikan dalam upaya meningkatkan layanan kesehatan di Indonesia.
Menangani Kekurangan Dokter Umum
Selain dokter spesialis, Indonesia juga menghadapi kekurangan dokter umum. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono pada tahun 2024 menyoroti kekurangan sekitar 120 ribu dokter umum di Indonesia. Rata-rata, fakultas kedokteran di Indonesia hanya menghasilkan 12 ribu dokter umum per tahun.
"Oleh karena itu, kita membuka kuota pendidikan dokter umum seluas mungkin. Kedua, membuka fakultas kedokteran baru dengan sistem survei kesehatan akademik," kata Wakil Menkes Dante.
Visi Indonesia Emas 2045
Pemenuhan kebutuhan dokter merupakan langkah krusial dalam mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi prioritas utama. Program PPDS berbasis rumah sakit diharapkan menjadi salah satu solusi efektif untuk mencapai tujuan tersebut.
Dengan strategi yang komprehensif dan kolaboratif, pemerintah Indonesia berupaya untuk mengatasi kekurangan dokter dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. Langkah-langkah ini menunjukan komitmen pemerintah untuk menyediakan layanan kesehatan yang lebih baik dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.