Mudik Lebaran: Bus Tetap Jadi Raja Jalanan bagi Pemudik Berdompet Tipis
Tingginya harga tiket pesawat membuat bus tetap menjadi pilihan utama bagi pemudik kelas menengah-bawah untuk merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman, meskipun waktu tempuh lebih lama.

Mudik Lebaran tahun ini kembali menunjukkan tren yang menarik. Di tengah melonjaknya harga tiket pesawat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, bus tetap menjadi primadona bagi sebagian besar masyarakat, khususnya mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Hal ini dikarenakan harga tiket bus yang jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan pesawat terbang, meskipun harus rela menghabiskan waktu perjalanan yang lebih panjang.
Najmi Nabila (30), salah satu pemudik yang ditemui di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Sabtu lalu, mengungkapkan alasannya memilih bus lintas Sumatera menuju Padang. "(Harga) tiket pesawat naik dan kami telat pesan, seharusnya pesan sejak awal (jauh-jauh hari sebelum mendekati Lebaran sehingga lebih murah), sekarang sudah Rp3 jutaan. Ini (bus lintas Sumatera) hanya Rp800-an. Karena harga sih, harganya lebih terjangkau," ujarnya. Pernyataan ini menggambarkan realita ekonomi yang dihadapi banyak pemudik di Indonesia.
Perjalanan dengan bus memang membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra. Waktu tempuh normal perjalanan darat dari Jakarta ke Padang bisa mencapai 24 jam, dan bisa lebih lama lagi jika terjadi kemacetan, terutama di Pelabuhan Merak. Bahkan, Najmi harus rela menghadapi penundaan keberangkatan bus yang sedianya pukul 08.30 WIB, namun baru berangkat sore hari. "Nggak tahu kami dapat Lebaran atau tidak, kayaknya nggak dapat juga (Shalat Id di kampung halaman)," candanya.
Kendala dan Tantangan Perjalanan Mudik
Kisah Najmi bukan satu-satunya. Yuliati (55), yang membawa tujuh anggota keluarganya menuju Palembang, juga mengalami hal serupa. Keluarga ini terpaksa menggunakan bus karena faktor biaya. "(Kami) bisanya (menggunakan) bus. Kalau pesawat, kami nggak sanggup, mahal. Ini (bus) juga mahal (menurut kami), ini saja sudah kena Rp600 ribu," tutur Yuliati. Bagi keluarga ini, perjalanan mudik dengan bus lintas Sumatera merupakan pengalaman pertama. Biasanya, mereka menggunakan mobil pribadi dan penyeberangan kapal melalui Pelabuhan Merak.
Pengalaman Yuliati dan keluarganya menggambarkan betapa pentingnya akses transportasi yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Meskipun harus menghadapi kemungkinan keterlambatan dan waktu tempuh yang panjang, pilihan bus tetap menjadi solusi yang paling realistis. Harapan mereka untuk tiba di kampung halaman sebelum Lebaran pun diwarnai dengan kekhawatiran akan keterlambatan keberangkatan bus.
Tidak hanya penumpang, para operator bus pun menghadapi tantangan tersendiri. Pengendali Terminal Kampung Rambutan, Mulyono, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan operator bus AKAP untuk memastikan pelayanan yang cepat dan efisien. "Untuk mengatasi delay, kami siapkan juga bus bantuan atau tambahan. Untuk tidak memberi rasa kecemasan pada penumpang, setiap beberapa menit sekali kami akan memberikan informasi bahwa kendaraan yang akan dinaiki penumpang misalnya mengalami keterlambatan," jelasnya.
Data Keberangkatan Pemudik di Terminal Kampung Rambutan
Data keberangkatan pemudik dari Terminal Kampung Rambutan menunjukkan peningkatan yang signifikan menjelang Lebaran. Pada H-2 Lebaran (Sabtu, 29 Maret), sebanyak 1.188 pemudik diberangkatkan dengan 57 bus (pukul 06.00-14.00 WIB). Angka ini meningkat drastis dibandingkan H-3 Lebaran (Jumat, 28 Maret) yang mencapai 3.324 pemudik dengan 165 bus. Sejak H-10 Lebaran (21 Maret), jumlah penumpang terus meningkat secara bertahap, dari 744 orang menjadi 1.250 orang pada H-9 Lebaran, dan melonjak signifikan menjadi 3.324 orang pada H-3 Lebaran.
Data ini menunjukkan tingginya animo masyarakat untuk mudik Lebaran, dan bus tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian besar pemudik. Meskipun ada kendala seperti keterlambatan dan waktu tempuh yang panjang, kenyataannya bus masih menjadi andalan bagi pemudik kelas menengah-bawah yang ingin merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman.
Tingginya angka pemudik yang menggunakan bus menunjukkan pentingnya peran transportasi darat dalam mendukung mobilitas masyarakat Indonesia, khususnya selama periode mudik Lebaran. Pemerintah perlu terus berupaya meningkatkan kualitas dan pelayanan transportasi bus agar lebih nyaman dan efisien, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.