Orang Kepercayaan Cor Jasad Pemilik Ruko di Jakarta Timur, Terancam 15 Tahun Penjara
Pelaku pembunuhan JS (69), pemilik ruko di Jakarta Timur, yang jasadnya dicor, ternyata adalah orang kepercayaannya sendiri yang diberi akses ATM dan berbagai tanggung jawab keuangan.

Jakarta, 27 Februari 2024 - Sebuah kasus pembunuhan yang menggemparkan terjadi di Jakarta Timur. Korban, JS (69), pemilik ruko, ditemukan tewas dengan jasadnya dicor di saluran air belakang rukonya. Pelaku yang berhasil ditangkap, ZA (35), ternyata merupakan orang kepercayaan korban sendiri. Kejadian ini mengungkap sisi gelap dari kepercayaan dan menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana seseorang yang dipercaya bisa tega melakukan tindakan keji tersebut.
Penangkapan ZA di Cipete, Jakarta Selatan, pada Rabu (26/2) lalu, menjadi titik terang dalam kasus yang telah membuat keluarga korban dan masyarakat sekitar bertanya-tanya selama satu minggu. Hilangnya JS selama sepekan akhirnya terungkap dengan penemuan jasadnya yang mengenaskan. Proses pembongkaran jasad yang melibatkan petugas pemadam kebakaran dan laboratorium forensik RS Polri Kramat Jati pun dilakukan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Polres Metro Jakarta Timur, melalui Kapolres Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly, menjelaskan kronologi kejadian. ZA, yang bekerja untuk korban sejak tahun 2023, diberi kepercayaan penuh oleh JS untuk mengawasi pekerja proyek dan mengelola keuangan, termasuk mengakses ATM korban untuk membeli bahan bangunan.
Pelaku adalah Orang Kepercayaan Korban
Kepercayaan yang diberikan JS kepada ZA ternyata disalahgunakan. ZA, yang kesehariannya mengelola keuangan proyek, memiliki akses penuh terhadap ATM korban. "Korban bertemu dengan tersangka ZA dan kebetulan dia ini dipercaya korban untuk mengawasi pekerja yang ada di proyek tersebut. Jadi, ZA ini orang kepercayaan dari korban," jelas Kapolres Nicolas Ary Lilipaly. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan antara korban dan pelaku sebelum peristiwa tragis ini terjadi.
Keluarga JS berada di luar negeri, sementara JS sendiri tinggal bersama istri keduanya di Jakarta. Sementara itu, ZA yang berkeluarga di Papua, tinggal sendiri di Jakarta untuk mencari nafkah. Situasi ini mungkin memberikan kesempatan kepada ZA untuk melancarkan aksinya tanpa diketahui oleh orang lain.
Kapolres menambahkan, "Sampai ATM pun, nomor pin dikasih diberitahukan oleh korban kepada tersangka untuk membelikan bahan yang dibutuhkan oleh para tukang." Akses terhadap ATM korban ini menjadi salah satu faktor yang mempermudah ZA dalam menjalankan aksinya.
Motif Pembunuhan dan Proses Penangkapan
Meskipun motif pastinya masih dalam penyelidikan, kepercayaan yang diberikan JS kepada ZA telah disalahgunakan secara fatal. Penangkapan ZA dilakukan setelah polisi melakukan penyelidikan dan memancing pelaku. "Ditangkap di Cipete Jakarta Selatan. Jadi, kita pancing terduga pelaku sebelum kita tangkap," ungkap Kapolres Nicolas.
Proses autopsi akan dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian JS. Namun, penemuan jasad yang dicor menunjukkan betapa kejamnya tindakan yang dilakukan ZA. Atas perbuatannya, ZA dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dan/atau Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan Berat, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kehati-hatian dalam memberikan kepercayaan kepada orang lain, terutama dalam hal keuangan dan pekerjaan. Kepercayaan yang salah tempat dapat berakibat fatal, seperti yang dialami oleh JS dalam kasus ini.
Proses hukum akan terus berjalan untuk mengungkap seluruh fakta dan motif di balik pembunuhan tersebut. Semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.