Pendapatan Pertamina Tembus Rp1.246 Triliun di 2023, Pertumbuhan 15% Tiga Tahun Terakhir!
Pertamina berhasil membukukan pendapatan fantastis Rp1.246 triliun di tahun 2023, dengan pertumbuhan 15% selama tiga tahun terakhir, meskipun terjadi penurunan dari tahun sebelumnya.

PT Pertamina (Persero) berhasil mencatatkan pendapatan yang mengesankan pada tahun 2023, mencapai angka fantastis 75,8 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.246 triliun (dengan kurs Rp16.438,78). Hal ini diungkapkan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina, Wiko Migantoro, dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis (20/2). Kenaikan ini menunjukkan kinerja positif perusahaan, meskipun terjadi penurunan dibandingkan tahun 2022.
Wiko menjelaskan bahwa pendapatan Pertamina mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 15 persen selama tiga tahun terakhir. Pendapatan yang awalnya 57,5 miliar dolar AS pada tahun 2021, meningkat menjadi 84,9 miliar dolar AS pada tahun 2022, sebelum sedikit menurun menjadi 75,8 miliar dolar AS di tahun 2023. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama harga minyak dunia yang mengalami perubahan.
Lonjakan harga minyak dunia pada tahun 2022 menjadi salah satu faktor pendorong utama peningkatan pendapatan Pertamina. "Banyak faktor yang menyebabkan revenue tertinggi, terutama karena harga minyak pada saat itu 97 dolar AS per barel," ungkap Wiko. Penurunan pendapatan pada tahun 2023 mengindikasikan adanya penyesuaian terhadap dinamika pasar global yang mempengaruhi harga komoditas energi.
Kinerja Keuangan Pertamina: EBITDA dan Laba Bersih Meningkat
Selain pendapatan, Pertamina juga menunjukan kinerja keuangan positif lainnya. Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) mengalami peningkatan signifikan. Dari 9,3 miliar dolar AS pada 2021, EBITDA naik menjadi 13,6 miliar dolar AS pada 2022, dan selanjutnya meningkat lagi menjadi 14,4 miliar dolar AS pada 2023.
Peningkatan EBITDA ini menunjukkan kemampuan Pertamina dalam menghasilkan laba operasional yang kuat. Hal ini juga diikuti oleh peningkatan laba bersih perusahaan. Laba bersih Pertamina meningkat dari 2,1 miliar dolar AS pada 2021, menjadi 3,8 miliar dolar AS pada 2022, dan mencapai 4,4 miliar dolar AS pada 2023.
Pertumbuhan laba bersih ini mencerminkan efisiensi operasional dan strategi bisnis yang efektif yang dijalankan oleh Pertamina. Keberhasilan ini menunjukkan dampak positif dari restrukturisasi yang dilakukan perusahaan.
Restrukturisasi dan Efisiensi sebagai Kunci Sukses
Wiko menambahkan bahwa kinerja positif Pertamina tidak terlepas dari restrukturisasi perusahaan. Restrukturisasi ini telah berdampak positif pada kelincahan Pertamina dalam mengembangkan bisnis-bisnis baru dan meningkatkan efisiensi operasional.
Efisiensi juga tercipta melalui sinergi antar-subholding dan di dalam internal subholding itu sendiri. Hal ini menunjukkan komitmen Pertamina dalam mengoptimalkan sumber daya dan meningkatkan daya saing di pasar global.
Keberhasilan Pertamina dalam meningkatkan pendapatan dan profitabilitasnya menunjukkan kemampuan perusahaan dalam beradaptasi dengan dinamika pasar dan menerapkan strategi bisnis yang tepat. Ke depan, diharapkan Pertamina dapat terus meningkatkan kinerjanya dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia.
Kesimpulan: Kinerja keuangan Pertamina di tahun 2023 menunjukkan hasil yang mengesankan, ditandai dengan pendapatan yang tinggi dan peningkatan EBITDA serta laba bersih. Keberhasilan ini merupakan buah dari restrukturisasi dan efisiensi operasional yang dilakukan perusahaan.