Polisi Sita 14 Ribu Ekstasi di Jakarta, Jaringan Pekanbaru Terungkap
Pengungkapan kasus peredaran gelap narkoba antar provinsi berhasil dilakukan Polres Metro Jakarta Barat dengan menyita 14.000 butir ekstasi dan menangkap dua tersangka dari jaringan Pekanbaru.

Polres Metro Jakarta Barat berhasil mengungkap jaringan peredaran gelap narkoba antar provinsi yang berpusat di Pekanbaru, Riau. Dalam pengungkapan yang dilakukan pada awal Februari 2024 ini, polisi menyita barang bukti berupa 14.000 butir pil ekstasi dan menangkap dua tersangka. Pengungkapan ini bermula dari laporan masyarakat tentang aktivitas mencurigakan di sebuah rumah kontrakan di Cengkareng Barat, Jakarta Barat.
Dua tersangka yang berhasil ditangkap berinisial WI (30) dan AS (45). Penangkapan WI dilakukan di rumah kontrakan tersebut, di mana polisi menemukan 5.000 butir ekstasi berlogo Rolex. Dari tersangka WI, polisi juga menemukan resi pengiriman yang mengarah ke Palembang, yang kemudian menjadi petunjuk penting dalam pengembangan kasus.
Pengembangan kasus tersebut membuahkan hasil signifikan. Polisi berhasil menemukan 9.000 butir ekstasi tambahan yang disembunyikan di dalam sebuah amplifier di sebuah kantor jasa pengiriman di Peta Selatan. Ekstasi tersebut dikemas dalam plastik hitam dan peti kayu. Total barang bukti yang berhasil disita mencapai 14.000 butir ekstasi, terdiri dari 13.000 butir berlogo Rolex dan 1.000 butir berlogo Kenzo.
Pengungkapan Kasus dan Penangkapan Tersangka
Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Twedi Aditya Bennyhadi, menjelaskan kronologi penangkapan dan penyitaan barang bukti. "Dari pengungkapan ini, kami menyita 14.000 butir ekstasi dengan rincian 13.000 butir berlogo Rolex dan 1.000 butir berlogo Kenzo," ungkap Kombes Pol Twedi Aditya Bennyhadi saat dikonfirmasi di Jakarta.
Penangkapan WI dipicu oleh laporan masyarakat tentang aktivitas mencurigakan di rumah kontrakan tersebut. Polisi kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap WI serta menyita 5.000 butir ekstasi. Dari pengembangan kasus, polisi berhasil menangkap AS di sebuah kamar kos di Kapuk Kebon Jahe, Cengkareng. AS mengakui perannya dalam mengambil narkotika dari Pekanbaru untuk dikirim ke Jakarta atas perintah seseorang yang bernama MB.
Saat ini, polisi masih memburu tiga tersangka lainnya yang berinisial MA, RT, dan FL. Ketiga tersangka tersebut diduga memiliki peran penting dalam jaringan peredaran gelap narkoba ini. Polisi berkomitmen untuk terus mengembangkan kasus ini hingga seluruh jaringan terungkap dan dibawa ke proses hukum.
Jaringan Peredaran Narkoba Antar Provinsi
Pengungkapan ini menunjukkan adanya jaringan peredaran gelap narkoba yang terorganisir dan beroperasi antar provinsi. Barang bukti berupa 14.000 butir ekstasi menunjukkan skala operasi yang cukup besar. Asal muasal ekstasi tersebut adalah Pekanbaru, Riau, dan diedarkan ke berbagai wilayah, termasuk Jakarta. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak kepolisian untuk memberantas peredaran gelap narkoba di Indonesia.
Modus operandi yang digunakan cukup canggih, dengan menyembunyikan ekstasi di dalam amplifier dan menggunakan jasa pengiriman untuk mengelabui petugas. Hal ini menunjukkan bahwa jaringan ini telah terorganisir dengan baik dan memiliki strategi untuk menghindari penangkapan. Kepolisian akan terus meningkatkan pengawasan dan penyelidikan untuk mencegah peredaran gelap narkoba.
Polisi berharap dengan terungkapnya kasus ini, dapat memberikan efek jera bagi para pelaku dan memutus mata rantai peredaran gelap narkoba di Indonesia. Kerja sama masyarakat sangat penting dalam memberantas peredaran gelap narkoba, karena informasi dari masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan pengungkapan kasus ini.
Ancaman Hukuman Bagi Tersangka
Kedua tersangka, WI dan AS, dijerat dengan pasal 114 ayat (2) sub 112 ayat (2) Jo. pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya adalah seumur hidup. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memberantas peredaran gelap narkoba dan memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelakunya. Proses hukum akan terus berjalan dan diharapkan dapat memberikan keadilan bagi masyarakat.
Kasus ini menjadi bukti nyata komitmen kepolisian dalam memberantas peredaran gelap narkoba. Polisi akan terus berupaya untuk mengungkap jaringan-jaringan lainnya dan menindak tegas para pelakunya. Kerja sama antar instansi dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan Indonesia yang bebas dari narkoba.