Program Makan Bergizi Gratis Papua Pegunungan: 5 Kali Seminggu, Libatkan Warga Lokal
Papua Pegunungan luncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 5 kali seminggu untuk siswa, guru, ibu hamil, menyusui, dan balita, melibatkan warga lokal dan menciptakan lapangan kerja.

Wamena, 23 Maret 2024 (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Pegunungan berjalan efektif dengan pelaksanaan lima kali dalam seminggu, kecuali hari libur. Program yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya ini menjangkau siswa, guru, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di wilayah tersebut. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi kesehatan dan perkembangan generasi muda.
Ketua Kelompok Pelayanan Pemenuhan Gizi BGN Provinsi Papua, Wahyu Adi Pratama, menjelaskan rincian program MBG di Wamena. "Selama lima hari mulai Senin-Jumat, siswa, guru, ibu hamil, ibu menyusui, balita akan memperoleh MBG yang telah kami mulai di Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya," ujarnya. Program ini memberikan harapan baru bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua Pegunungan, khususnya dalam hal pemenuhan gizi.
Komposisi makanan dalam program MBG pun dirancang dengan memperhatikan keseimbangan gizi. Wahyu menjelaskan, "Dalam komposisi MBG ada kue, susu, daging sapi, ayam, telur, sayur, nasi, dan umbi-umbian. Kami pastikan setiap pemberian MBG ini nilai gizi yang sajikan terpenuhi dan seimbang, sehingga penerima manfaat dapat terpenuhi asupan gizinya." Hal ini menunjukkan komitmen BGN untuk memastikan program MBG memberikan manfaat optimal bagi kesehatan masyarakat.
Implementasi Program MBG di Wamena
Saat ini, terdapat dua dapur umum yang direncanakan untuk menyediakan MBG di Jalan Bhayangkara Wamena. Namun, baru satu dapur yang beroperasi secara penuh. "Sementara baru satu dapur yang beroperasi, karena yang satu lagi pengelolanya ada kedukaan, sehingga baru berjalan setelah Lebaran," kata Wahyu. Kendati demikian, satu dapur umum mampu menyiapkan 3.500 porsi MBG per hari. Jika kedua dapur beroperasi penuh, kapasitasnya akan meningkat menjadi 7.000 porsi per hari.
Proses memasak melibatkan 47 orang di setiap dapur, ditambah tiga orang dari BGN (kepala SPPG-BGN, ahli gizi dan akuntan). Hal ini menunjukkan skala program yang cukup besar dan membutuhkan banyak tenaga kerja. "Karyawan atau untuk yang masak campuran, ada putra daerah (OAP) hampir sebagian besar itu mewakili dari unsur pemuda, adat dan gereja," tambah Wahyu. Keterlibatan masyarakat lokal menjadi poin penting dalam keberhasilan program ini.
Program MBG tidak hanya fokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Papua Pegunungan. Wahyu menjelaskan bahwa program ini membuka kesempatan kerja bagi Orang Asli Papua (OAP). "Tujuannya ayo sama-sama, pemuda dan masyarakat asli di sini memberikan MBG, kerja dengan tulus, ikhlas bagi generasi muda ke depannya," ujarnya. Dengan demikian, program ini memiliki dampak ganda, baik untuk kesehatan maupun perekonomian lokal.
Dampak Positif Program MBG
Program MBG di Papua Pegunungan memiliki potensi besar untuk meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pemberian makanan bergizi secara rutin akan membantu mencegah kekurangan gizi dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Selain itu, program ini juga berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal dengan menciptakan lapangan kerja.
Keterlibatan masyarakat adat dan gereja dalam proses memasak menunjukkan bahwa program ini diterima dan didukung oleh masyarakat setempat. Hal ini penting untuk keberlanjutan program dan memastikan keberhasilannya dalam jangka panjang. Dengan komitmen dari BGN dan pemerintah daerah, serta partisipasi aktif masyarakat, program MBG di Papua Pegunungan diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan program ini juga dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat. Replikasi program serupa di daerah lain dengan penyesuaian konteks lokal dapat berkontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Ke depan, pemantauan dan evaluasi yang berkelanjutan sangat penting untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program MBG di Papua Pegunungan.