RTH Tubagus Angke Bakal Diperbaiki, Atasi Maraknya Prostitusi Ilegal
Pemkot Jakbar akan membenahi RTH Tubagus Angke untuk mengatasi prostitusi ilegal yang kembali merebak, dengan cara memangkas pohon dan menambah lampu penerangan.

Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto, telah mengumumkan rencana pembenahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jalan Tubagus Angke di kawasan Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap merebaknya kembali aktivitas prostitusi ilegal di lokasi tersebut. Pembenahan ini melibatkan koordinasi dengan beberapa instansi terkait untuk memastikan efektivitasnya.
Langkah-langkah yang akan diambil meliputi pemangkasan pohon-pohon di RTH agar tampilan lebih rapi dan mengurangi tempat persembunyian. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa para pelaku prostitusi sering mendirikan tenda-tenda darurat di balik rimbunnya pepohonan. Selain itu, penambahan lampu penerangan juga akan dilakukan untuk meningkatkan visibilitas di area tersebut.
Sebelumnya, pada Selasa (11/3), Satpol PP Jakarta Barat melakukan sidak dan mengamankan sejumlah pekerja seks komersial (PSK) yang tengah menunggu pelanggan. Keberadaan tenda-tenda darurat yang terbuat dari terpal dan kayu juga ditemukan, menyamarkan aktivitas ilegal tersebut di balik minimnya penerangan dan pepohonan yang rindang. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya pembenahan RTH Tubagus Angke.
Pembenahan RTH Tubagus Angke: Fokus Perbaikan Infrastruktur dan Penerangan
Pembenahan RTH Tubagus Angke difokuskan pada dua hal utama: penataan vegetasi dan peningkatan penerangan. Sudin Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Barat akan memangkas pohon-pohon agar area tersebut lebih terbuka dan mengurangi potensi tempat persembunyian. "Dari Sudin Tamhut bakal ada penopingan biar lebih rapi," jelas Uus Kuswanto.
Selain itu, penambahan lampu penerangan menjadi langkah krusial. Lampu-lampu tembak akan dipasang untuk memastikan seluruh area RTH dapat terlihat jelas, sehingga aktivitas ilegal lebih sulit dilakukan. Koordinasi dengan Sudin Bina Marga juga dilakukan untuk mendukung proses penambahan penerangan ini. "Kemudian nanti bakal diusahakan lagi lampu tembak, biar tidak ada yang tersembunyi di RTH itu. Intinya sudah saya koordinasi dengan Sudin Tamhut dan Sudin Bina Marga," tambah Uus.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tertib di RTH Tubagus Angke. Dengan mengurangi tempat persembunyian dan meningkatkan visibilitas, diharapkan praktik prostitusi ilegal dapat ditekan secara efektif.
Sebelumnya, RTH Tubagus Angke sempat viral di media sosial pada pertengahan 2024 karena ditemukannya kondom berserakan. Hal ini menjadi indikasi kuat adanya aktivitas prostitusi di lokasi tersebut. Penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP Jakarta Barat menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah ini.
Reaksi Masyarakat dan Dampak Sosial
Penindakan terhadap praktik prostitusi di RTH Tubagus Angke telah menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Beberapa warga mengapresiasi langkah pemerintah dalam menertibkan area tersebut dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif. Namun, ada juga yang menyoroti aspek sosial dari para pekerja seks komersial yang terjaring razia.
Salah satu PSK yang diamankan bahkan sempat menangis histeris dan berteriak, "Saya udah punya dua anak Pak, udah punya anak." Pernyataan ini menyoroti kondisi sosial ekonomi yang mungkin mendorong mereka untuk terlibat dalam praktik prostitusi. Oleh karena itu, pembenahan RTH Tubagus Angke tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga perlu diimbangi dengan program-program sosial yang mendukung para pekerja seks komersial untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Keberadaan tenda-tenda darurat yang digunakan sebagai tempat transaksi juga menunjukkan betapa terorganisirnya praktik prostitusi di lokasi tersebut. Pembongkaran tenda-tenda ini merupakan langkah penting untuk mencegah aktivitas tersebut kembali muncul di masa mendatang. Namun, perlu diingat bahwa penindakan hukum saja tidak cukup. Program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat juga diperlukan untuk menciptakan solusi jangka panjang.
Pembenahan RTH Tubagus Angke diharapkan dapat menjadi solusi komprehensif yang tidak hanya mengatasi masalah prostitusi ilegal, tetapi juga menciptakan ruang publik yang lebih aman, nyaman, dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
Dengan adanya perbaikan infrastruktur dan peningkatan penerangan, diharapkan RTH Tubagus Angke dapat kembali berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang sesungguhnya, tempat masyarakat dapat menikmati keindahan alam dan bersosialisasi tanpa terganggu oleh aktivitas ilegal.