Surplus Telur Ayam: Indonesia Siap Ekspor 1,6 Juta Butir ke AS!
Produksi telur ayam Indonesia surplus, membuka peluang ekspor 1,6 juta butir per bulan ke Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan negara tersebut yang sedang mengalami defisit.

Jakarta, 29 Maret 2024 - Kementerian Pertanian (Kementan) mengumumkan kesiapannya memfasilitasi ekspor 1,6 juta butir telur ayam konsumsi ke Amerika Serikat (AS). Langkah ini diambil setelah Indonesia mengalami surplus produksi telur ayam hingga 288,7 ribu ton atau setara 5 miliar butir per bulan. Ekspor ini diharapkan dapat membantu AS yang tengah menghadapi defisit telur dan harga yang melambung tinggi.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menjelaskan potensi besar Indonesia dalam memasok telur ayam ke negara-negara yang mengalami gangguan produksi, termasuk AS yang dilaporkan mengalami defisit signifikan dan harga telur mencapai 4,11 dolar AS (sekitar Rp68.000). "Kami terus mendorong peningkatan ekspor dengan memastikan standar kualitas, keamanan pangan, dan persyaratan negara tujuan terpenuhi," tegas Agung.
Kementan optimis ekspor tahap awal sebanyak 1,6 juta butir per bulan dapat terealisasi. Saat ini, proses penjajakan dan pemenuhan protokol ekspor tengah dilakukan secara intensif. Langkah ini juga didorong oleh keberhasilan ekspor telur sebelumnya ke Singapura dan Uni Emirat Arab (UEA).
Ekspor Telur ke AS: Standar Ketat dan Jaminan Kualitas
Agung menekankan pentingnya memenuhi ketentuan ketat dari otoritas keamanan pangan AS, yaitu Food and Drug Administration (FDA). "Telur yang akan diekspor harus berkualitas tinggi, bebas Salmonella, serta tidak mengandung residu antibiotik," jelasnya. Hal ini untuk memastikan keamanan pangan dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh FDA.
Pemerintah memastikan ekspor ini tidak akan mengganggu kebutuhan dalam negeri. Prioritas tetap diberikan pada pemenuhan kebutuhan domestik. "Ekspor dilakukan tanpa mengganggu pasokan dan stabilitas harga di pasar dalam negeri," ujar Agung. Proyeksi produksi telur nasional tahun 2025 mencapai 6,5 juta ton, sementara kebutuhan domestik diperkirakan 6,2 juta ton, sehingga surplus mencapai 288,7 ribu ton.
Kementan berkomitmen untuk terus memfasilitasi pelaku usaha dalam memenuhi standar ekspor, mulai dari kualitas, keamanan, hingga ketelusuran produk. "Kami siap bekerja sama dengan berbagai pihak agar ekspor telur ini berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi peternak, pelaku usaha, serta perekonomian nasional," tambah Agung. Potensi surplus ini dinilai masih dapat ditingkatkan lagi di masa mendatang.
Dukungan dari GPPU dan Tantangan Ekspor
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPU), Ahmad Dawami, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana ekspor ke AS. Ia bahkan optimis kapasitas produksi nasional mampu memenuhi hingga 160 juta butir telur per bulan tanpa mengganggu pasokan dalam negeri. "Indonesia sangat bisa ekspor 1,6 juta butir per bulan. Kalau bisa 16 juta atau 160 juta butir malah bagus, ya," kata Dawami.
Namun, Dawami mengingatkan bahwa ekspor telur ke negara yang mengalami 'eggflation' seperti AS tidaklah mudah. "Memang kalau lihat peluang, pasti peluang untuk ekspor dan sebagainya. Tapi kan ekspor juga tidak segampang itu. Karena ekspor itu kan perlu beberapa persyaratan," jelasnya. Hal ini menunjukkan perlunya persiapan yang matang dan pemenuhan persyaratan ekspor yang ketat.
Secara keseluruhan, rencana ekspor telur ayam ke AS ini menandai langkah strategis Indonesia dalam memanfaatkan surplus produksi dan memperkuat posisi di pasar internasional. Komitmen pemerintah dalam menjaga kualitas, keamanan pangan, dan stabilitas harga dalam negeri menjadi kunci keberhasilan program ini.
Pemerintah juga akan terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas telur ayam nasional untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor di masa mendatang. Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha dan lembaga internasional, akan terus ditingkatkan untuk memastikan keberhasilan ekspor ini.