1. MERDEKA.COM
  2. >
  3. PLANET MERDEKA
  4. >
  5. SEJARAH

Sejarah Pendirian PKO untuk Membendung Misionaris Kristen di Jawa Tahun 1920

Penulis : Yuli Astutik

16 September 2021 17:34

PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) adalah salah satu badan sosial milik Muhammadiyah.

Badan sosial ini lahir lantaran dua peristiwa yaitu, meletusnya Gunung Kelud dan upaya membendung misionaris Kristen di Jawa tahun 1920.

Berdasarkan sebagian penelitian, organisasi berbasis derma kasih ini lahir pada tahun 1912.

Tapi masyarakat baru mengenalnya secara resminya pada tahun 1920.

2 dari 6 halaman

Sejarah PKO dan Upaya Membendung Misionaris Kristen di Jawa Abad 20

Realita berikut yang membuktikan usaha Muhammadiyah dalam membendung misionaris Kristen di daerah Yogyakarta, dan Jawa Tengah sekitarnya.

Sejak peristiwa meletusnya gunung Kelud sekitar tahun 1912, PKO menjadi satu divisi derma Muhammadiyah yang berfungsi sebagai penolong korban bencana.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1920 terjadi fenomena kristenisasi secara besar-besaran oleh orang-orang kolonial ketika itu.

Adapun artikel ini bersumber dari Seminar Sejarah Muhammadiyah online pada 6 September 2021, dengan pembicara Dr. (Cand) Muarif, M.Si, berjudul “Muhammadiyah dan Wong Cilik: Sejarah Penolong Kesengsaraan Oemoem”.

3 dari 6 halaman

Kelahiran PKO, Sejarah yang Tersembunyi

Sebagaimana tulisan sejarah Muhammadiyah, yang mengungkapkan bahwa kelahiran PKO berawal dari letusan Gunung Kelud.

Seiring berjalannya waktu PKO juga terlibat dalam upaya membendung misionaris Kristen di Jawa.

Badan kecil dari organisasi besar Muhammadiyah ini, mulanya cuma mengurusi bagian pertolongan pada orang-orang yang sedang kesusahan, sebagaimana korban bencana alam, wabah, dan lainnya.

Kelahiran badan ini pun didorong oleh seruan K.H. Ahmad Dahlan yang kerap menomor satukan revolusi Al-Maun, atau menyantuni anak-anak yatim dan piatu di sekitarnya.

Nah seiring dengan perkembangan zaman, kepeloporan badan ini akhirnya diketahui oleh Sultan Yogyakarta.

Terutama lantaran prestasi yang memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak.

Akhirnya Sultan Yogyakarta menarik PKO sebagai satu badan pengurus amal kota resmi, dan berkewajiban menyantuni anak-anak fakir miskin yang kerap berkeliaran di Alun-Alun.

4 dari 6 halaman

Muhammadiyah Memperluas Program PKO lantaran Kristenisasi

Dr. (Cand) Muarif, M.Si mengatakan bahwa, pada tanggal 17 Juni 1920, Muhammadiyah memperluas program PKO dalam beberapa bagian.

Program-program tersebut meliputi, urusan kesehatan umum, sekolah atau pendidikan, dan dana sosial.

Apalagi kala itu sedang marak terjadi fenomena misionaris Kristen besar-besaran di pulau Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah sekitarnya.

Badan ini pun diperluas dengan tujuan menjadi kekuatan tandingan melawan kristenisasi kolonial yang kerap terjadi menggunakan motif pertolongan sosial, pendidikan, dan kesehatan.

Dengan adanya perluasan bidang pertolongan di atas, menuntut PKO mempunyai ladang sumber pendapatan yang tentu harus mencukupi dana untuk para fakir miskin.

Adapun sumber perolehan Muhammadiyah saat itu berasal dari festival pasar Ramadhan, yang digelar di sekitar kampung Kauman Yogyakarta.

Atas usahanya yang kreatif itu, akhirnya dana terkumpul dengan cepat hingga PKO mampu membangun panti-panti sosial di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
5 dari 6 halaman

Perjalanan PKO, Pernah Dibantu Oleh Orang “Kiri” bernama Tri Wongso

Sejarah misionaris Kristen di Jawa pun menulis bahwa, perjalanan panjang yang dilalui PKO, pernah dibantu oleh orang “Kiri” bernama Triwongso.

Triwongso adalah seorang radikalisme kiri yang terlibat kerusuhan buruh di Polanharjo Klaten Jawa Tengah.

Walaupun Triwongso seorang kiri radikal yang tak dekat dengan agama, namun karena ia mengerti gerakan PKO Muhammadiyah yang bersifat sosialis, akhirnya ia bergabung dengan Muhammadiyah.

Bahkan pada suatu saat ia mendekam di penjara karena kerusuhan buruh, Triwongso berkirim surat kepada pengurus Muhammadiyah untuk menjemput anak istrinya ke Sidoarjo Jawa Tengah.

Adapun penjemputan itu dijalankan untuk mendidik anak istrinya yang berasal dari kalangan orang tidak terdidik menjadi cerdas di kantor PKO cabang Jawa Timur.
6 dari 6 halaman

Badan Penolong Kesengsaraan Oemoem, Menjadi Daya Tarik Organisasi Muhammadiyah

Bukan cuma berusaha mencegat misionaris Kristen di Jawa, menurut Dr. (Cand) Muarif, M.Si, badan Penolong Kesengsaraan Oemoem pun menjadi daya magnet organisasi Muhammadiyah untuk mendapatkan anggotanya. Seperti halnya terjadi pada Triwongso.

Selain itu, ada juga peristiwa yang tak kalah penting dan menariknya dari sejarah ketokohan kiri Triwongso, yaitu K.H. Fachrodin.

Pada saat itu K.H Fachrodin telah menjadi salah satu tokoh terkenal dalam Syarikat Islam.

Bahkan ia pun menduduki salah satu jabatan penting dalam organisasi tersebut.
Tapi sebagian orang mengenal beliau juga seorang Muhammadiyah sejati yang pernah berkecimpung dalam badan PKO.

Nah pada suatu waktu, pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan yang melarang rangkap jabatan dalam organisasi. hingga K.H Fachrodin harus memilih organisasi mana yang akan ditinggalkan.

Akhirnya lantaran beliau tertarik dengan program-program PKO, maka K.H. Fachrodin pun lebih memilih organisasi Muhammadiyah untuk meneruskan perjuangannya membela ummat.

Nah begitulah sejarah Muhammadiyah yang mencoba mencegat fenomena misionaris Kristen di Jawa yang terjadi sekitar tahun 1920, ternyata PKO salah satu badan sosial untuk menyelesaikan ini.
  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : yuli-astutik

KOMENTAR ANDA

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Artikel Lainnya