Ledakan Petasan di Malang: Dua Warga Luka Bakar Serius
Dua warga Malang mengalami luka bakar serius akibat ledakan petasan yang mereka buat sendiri di malam Idul Fitri, kini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Sebuah ledakan petasan di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Senin, 31 Maret 2024 sekitar pukul 21.00 WIB, mengakibatkan dua warga mengalami luka bakar serius. Korban, A (19 tahun) dan seorang anak berusia 12 tahun, saat ini dirawat di Rumah Sakit Hasta Brata, Kota Batu. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan pembuatan dan penggunaan petasan, serta akses mudah terhadap tutorial pembuatan petasan di media online.
Kedua korban mengalami luka bakar hampir 20 persen di wajah, kaki, dan tangan. Menurut Kepala Rumah Sakit Hasta Brata, AKBP dr. Ananingati, mereka telah menjalani operasi pembersihan untuk mencegah infeksi. Kondisi mereka saat ini masih dalam tahap pemulihan pasca operasi dan membutuhkan pengawasan ketat untuk mencegah infeksi lebih lanjut. Kepolisian Resor Batu juga telah melakukan penyelidikan terkait kejadian ini.
Peristiwa ini menyoroti bahaya pembuatan petasan rumahan yang dilakukan tanpa pengetahuan dan keahlian yang memadai. Akses mudah terhadap tutorial pembuatan petasan di internet, seperti YouTube, juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Rumah korban juga mengalami kerusakan akibat ledakan tersebut, menunjukkan betapa berbahayanya kegiatan ini.
Kronologi Kejadian dan Penyelidikan Kepolisian
Berdasarkan penyelidikan Kepolisian Resor Batu, AKBP Andi Yudha Pranata menjelaskan bahwa kedua korban diduga membuat petasan sendiri dengan membeli bahan baku dari toko di sekitar lokasi kejadian. Petasan tersebut rencananya akan dimainkan sendiri, bukan untuk dijual. Proses pembuatan yang kurang tepat, diduga karena memadatkan bahan petasan dengan obeng dan palu, menyebabkan ledakan yang mengakibatkan luka bakar serius pada kedua korban.
Salah satu korban, A, mengaku belajar membuat petasan dari tutorial YouTube. Ia menyebutkan bahwa petasan tersebut meledak saat proses pembuatan, tepatnya pada petasan kedelapan yang berukuran sekitar 10 sentimeter. Mereka berencana memainkan petasan tersebut pada hari Selasa, 1 April 2024. Ini menunjukkan betapa mudahnya akses terhadap informasi pembuatan petasan yang berpotensi bahaya.
Polisi menegaskan bahwa petasan tersebut bukan untuk diperjualbelikan, melainkan untuk dimainkan sendiri oleh para korban. Namun, kejadian ini tetap menjadi peringatan akan bahaya pembuatan dan penggunaan petasan rumahan tanpa pengawasan dan keahlian yang cukup. Kejadian ini juga menekankan pentingnya edukasi dan pengawasan terhadap akses informasi pembuatan petasan di media online.
Kondisi Korban dan Perawatan Medis
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jawa Timur, Kombes Pol dr. M Khusnan Marzuki, melalui Kepala Rumah Sakit Hasta Brata, menyatakan bahwa kedua korban telah menjalani operasi pembersihan untuk mencegah infeksi. Luka bakar yang diderita cukup serius, hampir mencapai 20 persen dari tubuh mereka. Saat ini, mereka masih dalam tahap pemulihan pasca operasi dan berada di bawah pengawasan ketat tim medis.
Rumah Sakit Hasta Brata memastikan akan terus memantau perkembangan kesehatan kedua korban. Mereka baru akan diizinkan pulang setelah kondisi medis mereka benar-benar pulih dan dipastikan tidak ada risiko infeksi lebih lanjut. Proses pemulihan ini membutuhkan waktu dan pengawasan yang intensif untuk memastikan kesembuhan kedua korban.
Perawatan intensif diberikan untuk mencegah infeksi karena luka bakar yang dialami cukup parah dan robek. Pihak rumah sakit berkomitmen untuk memberikan perawatan terbaik agar kedua korban dapat pulih sepenuhnya dan kembali ke kehidupan normal.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian dalam pembuatan dan penggunaan petasan. Edukasi publik mengenai bahaya petasan dan pengawasan akses terhadap informasi pembuatan petasan di internet sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.