Aktor Senior Ray Sahetapy Berpulang di Usia 68 Tahun
Aktor senior Ray Sahetapy meninggal dunia pada usia 68 tahun di RSPAD Gatot Subroto setelah sebelumnya menderita stroke; kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia perfilman Indonesia.

Aktor senior Indonesia, Ray Sahetapy, telah meninggal dunia pada usia 68 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Selasa, 1 April 2024, di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Kabar duka ini mengejutkan banyak pihak, mengingat kontribusi besarnya bagi dunia perfilman Indonesia selama beberapa dekade.
Sebelum meninggal, Ray Sahetapy diketahui menderita stroke pada tahun 2023 dan sedang dalam masa pemulihan. Kesehatan aktor kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 1 Januari 1957 ini terus menurun hingga akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, rekan sesama aktor, dan para penggemarnya.
Sepanjang kariernya, Ray Sahetapy telah membintangi sejumlah film, baik produksi dalam negeri maupun internasional. Perannya yang ikonik dan totalitas dalam setiap film telah mengukuhkan namanya sebagai salah satu aktor terbaik Indonesia.
Jejak Karier dan Prestasi Ray Sahetapy
Ray Sahetapy mengawali kariernya di dunia perfilman pada tahun 1980 dengan berperan sebagai Jaka dalam film 'Gadis'. Sejak saat itu, ia terus aktif membintangi berbagai judul film dan menunjukkan bakat aktingnya yang luar biasa. Salah satu pencapaiannya yang membanggakan adalah kesempatan berakting dalam film Marvel Cinematic Universe (MCU), 'Captain America: Civil War' pada tahun 2016.
Meskipun adegannya sebagai juru lelang di Indonesia awalnya tidak ditayangkan, adegan tersebut kemudian ditampilkan dalam 'Infinity Saga Collector’s Edition'. Sutradara Joe Russo bahkan memuji totalitas Ray Sahetapy dan berharap bisa kembali bekerja sama dengannya dalam proyek Marvel selanjutnya. Hal ini membuktikan kualitas akting Ray yang diakui secara internasional.
Di kancah perfilman Indonesia, Ray Sahetapy juga meraih berbagai penghargaan dan nominasi. Ia tercatat sebagai aktor dengan nominasi terbanyak dalam Festival Film Indonesia (FFI), dengan tujuh kali nominasi dan enam di antaranya untuk kategori aktor terbaik. Film-film yang membawanya masuk nominasi FFI antara lain 'Ponirah Terpidana', 'Secangkir Kopi Pahit', 'Kerikil-kerikil Tajam', 'Opera Jakarta', 'Tatkala Mimpi Berakhir', dan 'Jangan Bilang Siapa-Siapa'.
Dedikasi pada Seni Peran dan Kehidupan Pribadi
Selain berakting, Ray Sahetapy juga aktif dalam mengembangkan dunia seni peran di Indonesia. Ia mendirikan sanggar teater, membentuk komunitas seni, dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) 56. Dedikasi dan kontribusinya terhadap dunia seni peran Indonesia sangatlah besar.
Kisah hidupnya juga penuh inspirasi. Ray Sahetapy menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan yatim di Surabaya. Tekad kuatnya untuk berkarier di dunia seni peran membawanya melanjutkan pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 1977, seangkatan dengan Deddy Mizwar dan Didik Nini Thowok. Perjalanan kariernya yang penuh perjuangan ini menjadi bukti semangat dan keuletannya.
Kehidupan pribadinya juga menarik perhatian publik. Pernikahannya dengan aktris senior Dewi Yull, yang dilangsungkan pada tahun 1981 setelah keduanya membintangi film 'Gadis', sempat menjadi perbincangan karena perbedaan agama. Ray Sahetapy kemudian menjadi mualaf pada tahun 1992. Pernikahan tersebut dikaruniai empat orang anak, namun sayangnya berakhir pada tahun 2004. Ray kemudian menikah lagi dengan Sri Respatini Kusumastuti pada tahun yang sama.
Meskipun kini telah tiada, karya-karya Ray Sahetapy akan selalu dikenang dan dihargai oleh para pecinta film Indonesia. Ia telah meninggalkan warisan yang berharga bagi dunia perfilman Indonesia, dan namanya akan selalu terukir dalam sejarah perfilman Tanah Air.