China Kecam Kebijakan Tarif Baru Trump: Kekeliruan yang Merusak Perdagangan Global
China mengecam keras kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump, menyebutnya sebagai kekeliruan yang merusak sistem perdagangan multilateral dan merugikan semua negara.

Beijing, 3 April 2025 - Pemerintah China dengan tegas mengecam kebijakan tarif baru yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dinilai sebagai tindakan keliru dan merusak sistem perdagangan global. Pengumuman kebijakan tersebut disampaikan Trump pada Rabu (2/4) dalam acara 'Make America Wealthy Again' di Gedung Putih, meliputi tarif universal 10 persen untuk hampir semua barang impor dan tarif timbal balik yang lebih tinggi untuk negara-negara dengan defisit perdagangan besar terhadap AS.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing menyatakan, "Kami mendesak AS untuk berhenti melakukan hal yang keliru, menyelesaikan permasalahan dagang dengan China maupun negara-negara lain melalui aturan dengan menjunjung kesetaraan, rasa hormat dan prinsip saling menguntungkan." Kebijakan ini, menurut Guo Jiakun, akan mulai berlaku pada 5 April 2025 untuk tarif universal dan 9 April 2025 untuk tarif timbal balik.
Tarif timbal balik yang diumumkan Trump akan dikenakan pada sejumlah negara, termasuk China (34 persen), Jepang (24 persen), Vietnam (46 persen), Indonesia (32 persen), dan lainnya. Guo Jiakun menegaskan bahwa kebijakan ini melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan merusak sistem perdagangan multilateral berbasis aturan. China, tegasnya, akan melakukan segala upaya untuk mempertahankan hak dan kepentingan nasionalnya.
Penolakan Keras China terhadap Kebijakan Proteksionis AS
China secara tegas menolak kebijakan proteksionis Trump yang dinilai merugikan kepentingan bersama semua negara. "Perang dagang dan tarif tidak memiliki pemenang. Proteksionisme tidak akan menghasilkan apa-apa," tegas Guo Jiakun. Ia menambahkan bahwa kebijakan sepihak AS ini hanya akan merusak kepentingan rakyat semua negara dan tidak akan menyelesaikan masalah yang dihadapi AS.
Guo Jiakun juga menekankan bahwa semakin banyak negara yang menentang kebijakan tarif dan tindakan intimidasi sepihak AS. China bukan satu-satunya negara yang merasakan dampak negatif dari kebijakan ini; banyak negara lain juga terkena dampaknya.
Meskipun Trump mengklaim kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja di dalam negeri dan menyebut hari pengumuman sebagai 'Hari Pembebasan', China melihatnya sebagai tindakan yang merusak stabilitas ekonomi global. Kebijakan ini, selain tarif universal dan timbal balik, juga mencakup tarif tambahan untuk mobil yang diproduksi di luar AS (25 persen mulai 3 April 2025), serta tarif 25 persen untuk baja dan aluminium impor.
Dampak Negatif Tarif Baru AS terhadap Ekonomi Global
Para pakar ekonomi memperingatkan bahwa kebijakan tarif baru Trump berpotensi meningkatkan harga barang dan mengurangi daya saing produk di pasar global. Ketidakpastian yang ditimbulkan juga dapat membuat perusahaan ragu untuk berinvestasi atau berekspansi, dikhawatirkan akan memicu reaksi balasan dari negara lain.
Penerapan tarif tambahan 20 persen terhadap barang-barang asal China sebelumnya juga telah memperburuk hubungan dagang kedua negara. Kebijakan terbaru ini semakin memperparah situasi dan mengancam stabilitas ekonomi global. China berharap AS akan segera mengubah kebijakannya dan kembali ke jalur negosiasi yang adil dan saling menguntungkan.
Secara keseluruhan, kebijakan tarif baru Trump menimbulkan kekhawatiran serius bagi perekonomian global. Banyak negara, termasuk China, bersiap menghadapi dampak negatifnya dan mencari cara untuk melindungi kepentingan nasional mereka. Perkembangan selanjutnya dalam hubungan perdagangan AS-China dan negara-negara lain akan sangat menentukan stabilitas ekonomi dunia.
Daftar Tarif Timbal Balik (persen):
- Jepang: 24
- Vietnam: 46
- Thailand: 36
- Indonesia: 32
- Malaysia: 24
- China: 34
- Kamboja: 49
- Korea Selatan: 25
- Inggris: 10
- India: 26
- Afrika Selatan: 30