Harga Cabai Tembus Rp70.000/kg, Petani Temanggung Raup Untung?
Harga cabai rawit merah di Temanggung, Jawa Tengah, mencapai Rp70.000 per kilogram, namun produksi turun akibat hama dan penyakit.

Temanggung, Jawa Tengah, 26 Maret 2024 - Harga cabai rawit merah di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, melonjak hingga Rp70.000 per kilogram di tingkat petani. Lonjakan harga ini terjadi di tengah penurunan produksi akibat serangan hama dan penyakit. Komariyah, seorang petani di Desa Kataan, Kecamatan Ngadirejo, merasakan dampak langsung dari kenaikan harga ini. Kenaikan harga tersebut berdampak signifikan pada pendapatan para petani di wilayah tersebut.
Kenaikan harga cabai rawit ini terjadi secara bertahap. "Awal puasa harganya Rp65.000 per kilogram, kemudian sekarang ini Rp70.000 per kilogram," ungkap Komariyah. Namun, di balik keuntungan yang didapatkan, para petani juga menghadapi tantangan berupa penurunan hasil panen hingga 20 persen akibat cuaca dan serangan hama penyakit.
Penurunan hasil panen ini disebabkan oleh berbagai faktor, terutama serangan hama dan penyakit seperti patek, busuk buah, dan busuk akar. Meskipun patek dan busuk buah dapat dikendalikan dengan pestisida dan insektisida, penyakit busuk akar terbukti lebih sulit diatasi, menyebabkan tanaman layu dan mati secara tiba-tiba. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi para petani cabai di Temanggung.
Ancaman Hama dan Penyakit Menyerang Tanaman Cabai
Serangan hama dan penyakit menjadi tantangan utama bagi para petani cabai di Temanggung. Komariyah menjelaskan, "Kalau untuk patek dan busuk buah masih bisa dikendalikan menggunakan obat-obatan pestisida dan insektisida, tetapi untuk busuk akar sangat sulit, tiba-tiba tanaman layu dan kemudian mati." Hal ini menunjukkan betapa pentingnya upaya pencegahan dan pengendalian hama penyakit secara intensif.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Joko Budi Nuryanto, memberikan imbauan kepada para petani untuk meningkatkan perawatan tanaman cabai. Ia menekankan pentingnya penyemprotan dan pemupukan secara rutin. "Karena cuaca kayak gini ini kan lebih hangat, lebih lembab, jamur akan lebih cepat menyerang, terkadang ada hama tikus juga, jadi petani harus ekstra di sisi pengolahan, pemeliharaan dan sebagainya," jelas Joko Budi Nuryanto.
Langkah antisipatif juga perlu dilakukan untuk menghadapi potensi serangan hama dan penyakit di masa mendatang. Petani perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola tanaman cabai agar tetap produktif meskipun menghadapi tantangan cuaca dan hama penyakit. Pemantauan secara berkala juga penting untuk mendeteksi dini serangan hama dan penyakit.
Luas Tanaman Cabai dan Upaya Stabilisasi Harga
Pemerintah Kabupaten Temanggung telah berupaya untuk menjaga ketahanan pangan dan menstabilkan harga cabai di pasaran. Pada bulan Agustus dan Oktober 2024, luas tanaman cabai mencapai 10 ribu hektare, terdiri dari 2 ribu hektare cabai keriting dan 8 ribu hektare cabai rawit, dengan produktivitas 7-8 ton per hektare. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung sektor pertanian.
Untuk menjaga pasokan cabai di pasaran, pemerintah juga melakukan perluasan lahan tanam. "Di bulan Januari 2025 ini ada penambahan luas tanaman cabai sebanyak 1.500 hektare yang tersebar di lereng Gunung Sumbing, Sindoro dan Prahu. Perluasan ini untuk menjaga ketahanan pangan, serta menstabilkan harga cabai di pasaran," tambah Joko Budi Nuryanto. Perluasan lahan tanam ini diharapkan dapat meningkatkan produksi dan menstabilkan harga cabai di masa mendatang.
Meskipun harga cabai rawit saat ini tinggi, para petani tetap dihadapkan pada tantangan berupa penurunan produksi akibat hama dan penyakit. Oleh karena itu, upaya peningkatan produktivitas dan pengendalian hama penyakit menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan.
Pemerintah dan petani perlu bekerja sama untuk mengatasi tantangan ini. Dengan perawatan yang intensif dan strategi pengendalian hama penyakit yang tepat, diharapkan produksi cabai dapat meningkat dan harga di pasaran dapat tetap stabil. Hal ini penting untuk menjamin ketersediaan cabai bagi masyarakat dan kesejahteraan para petani.