Kekhawatiran Sekutu AS di Asia: Dukungan untuk Taiwan di Tengah Ketegangan dengan China?
Sekutu AS di Asia khawatir atas kemungkinan Amerika Serikat tidak akan mendukung Taiwan jika konflik dengan China meningkat, menimbulkan pertanyaan besar atas komitmen keamanan AS di kawasan tersebut.

Kekhawatiran muncul di kalangan sekutu Amerika Serikat (AS) di Asia terkait kemungkinan Washington tidak akan memberikan dukungan penuh kepada Taiwan jika terjadi peningkatan ketegangan dengan China. Hal ini mengemuka setelah laporan NBC News yang mengutip sejumlah mantan pejabat AS. Laporan tersebut menyoroti sikap AS terhadap konflik Ukraina yang memicu kekhawatiran bahwa AS mungkin akan ragu untuk membantu Taiwan jika China menggunakan kekerasan atau paksaan untuk menguasai pulau tersebut.
Pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada awal Februari lalu semakin memperkuat kekhawatiran ini. Hegseth menyatakan bahwa Washington memprioritaskan pencegahan perang dengan China di kawasan Indo-Pasifik, mengingat ancaman yang diyakini terhadap kepentingan nasional AS. Pernyataan ini diinterpretasikan oleh sejumlah pihak sebagai indikasi bahwa AS mungkin akan lebih memilih untuk menghindari konfrontasi langsung dengan China, bahkan jika hal itu berarti mengorbankan Taiwan.
Ketegangan di sekitar Taiwan memang meningkat tajam pada Agustus 2022, ketika Ketua DPR AS saat itu, Nancy Pelosi, melakukan kunjungan ke pulau tersebut. Kunjungan ini memicu reaksi keras dari Beijing yang menganggapnya sebagai bentuk dukungan AS terhadap separatisme Taiwan. Sebagai balasan, China melakukan latihan militer skala besar di sekitar Taiwan, menunjukkan keseriusan ancamannya.
Sejarah Hubungan Taiwan-China
Penting untuk memahami konteks hubungan antara pemerintah pusat China dan Taiwan. Hubungan resmi antara keduanya terputus pada tahun 1949 setelah berakhirnya perang saudara antara Kuomintang dan Partai Komunis China. Pasukan Kuomintang yang kalah kemudian mundur ke Taiwan.
Meskipun demikian, kontak bisnis dan informal antara Taiwan dan China daratan kembali terjalin pada akhir tahun 1980-an. Sejak awal tahun 1990-an, kedua belah pihak juga telah melakukan kontak melalui berbagai organisasi non-pemerintah. Namun, hubungan ini tetap rapuh dan selalu dibayangi oleh klaim kedaulatan China atas Taiwan.
Situasi ini menciptakan dilema bagi AS. Di satu sisi, AS memiliki kepentingan strategis untuk menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik dan mencegah dominasi China. Di sisi lain, AS juga harus mempertimbangkan konsekuensi dari intervensi militer langsung dalam konflik Taiwan-China, yang berpotensi memicu perang besar-besaran.
Implikasi bagi Kawasan Asia
Kekhawatiran sekutu AS di Asia sangat beralasan. Ketidakpastian atas komitmen AS untuk membela Taiwan dapat memicu ketidakstabilan regional dan mendorong negara-negara lain di kawasan tersebut untuk mencari perlindungan atau keseimbangan kekuatan di luar AS. Hal ini dapat berdampak signifikan pada tatanan keamanan dan politik di Asia.
Kejelasan dan konsistensi kebijakan AS terkait Taiwan sangat penting untuk menjaga kepercayaan sekutu dan mencegah eskalasi konflik. Keengganan AS untuk secara tegas menyatakan dukungannya bagi Taiwan dapat ditafsirkan sebagai kelemahan dan mendorong China untuk bertindak lebih agresif.
Oleh karena itu, AS perlu mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap Taiwan dan berkomunikasi secara lebih efektif dengan sekutunya di Asia untuk mengatasi kekhawatiran mereka dan memastikan stabilitas regional.
Ke depan, transparansi dan komunikasi yang lebih baik antara AS dan sekutunya di Asia sangat krusial. Kejelasan posisi AS mengenai dukungan untuk Taiwan akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi konflik di kawasan yang rawan ini.