Kirab Malam Selikuran: Keraton Surakarta Rayakan Malam ke-21 Ramadhan
Keraton Surakarta Hadiningrat menggelar kirab malam selikuran, memperingati malam ke-21 Ramadhan sebagai momentum memasuki malam Lailatul Qadar.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar kirab budaya dalam rangka memperingati malam Selikuran, malam ke-21 Ramadhan 1445 H. Kirab yang penuh makna ini diawali dari Keraton Surakarta menuju Kebon Rojo Sriwedari, melibatkan abdi dalem, sentono dalem, dan masyarakat Surakarta. Acara ini merupakan tradisi tahunan atas perintah Kanjeng Sinuhun Paku Buwono ke-13, yang bertujuan untuk memperingati malam ganjil di bulan Ramadhan, yang diyakini sebagai momentum mendekatnya Lailatul Qadar.
Menurut Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta Hadiningrat, KPA Dany Nur Adiningrat, kirab malam selikuran ini merupakan perwujudan dari hajat dalem. Tradisi ini menggabungkan unsur keagamaan dan budaya Jawa yang kental. Dengan adanya kirab ini, diharapkan seluruh masyarakat dapat meningkatkan intensitas ibadah dan berdoa agar amal ibadahnya diterima Allah SWT.
Acara kirab ini bukan sekadar prosesi budaya semata, melainkan juga mengandung pesan moral yang mendalam. Malam Selikuran diyakini sebagai malam yang istimewa, menandai dimulainya fase akhir Ramadhan yang penuh berkah. Oleh karena itu, momentum ini digunakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Makna Kirab Malam Selikuran
Salah satu elemen penting dalam kirab malam selikuran adalah iring-iringan tumpeng Sewu. Tumpeng Sewu melambangkan malam seribu bulan, atau Lailatul Qadar, yang memiliki keutamaan yang sangat besar. Selain tumpeng Sewu, terdapat pula ting atau cahaya yang menyimbolkan cahaya malam seribu bulan, menerangi jalan menuju kebaikan.
KPA Dany Nur Adiningrat menjelaskan bahwa kirab ini juga bertujuan untuk mengingatkan seluruh abdi dalem, sentono dalem, dan masyarakat Surakarta akan pentingnya memperbanyak ibadah di penghujung Ramadhan. Mereka didorong untuk meningkatkan intensitas sholat, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa, termasuk melaksanakan iktikaf di masjid-masjid.
Harapannya, kebaikan yang dipetik selama bulan Ramadhan dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk menjalani sebelas bulan berikutnya dengan penuh amal saleh. Kirab ini juga menjadi bukti nyata sinergitas antara Keraton Surakarta dan Pemerintah Kota Surakarta, yang telah terjalin dengan baik selama bertahun-tahun.
Rute Kirab dan Sinergitas Keraton dan Pemkot
Rute kirab dimulai dari Keraton Surakarta menuju Kebon Rojo Sriwedari. Di Sriwedari, rombongan kirab akan disambut oleh perwakilan dari Pemerintah Kota Surakarta. Kerja sama yang harmonis antara Keraton dan Pemkot ini menjadi bukti nyata dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya Jawa yang sarat makna spiritual.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai agama dan budaya dapat berjalan beriringan, saling melengkapi dan memperkuat. Malam Selikuran bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan diri dan meningkatkan kualitas spiritualitas. Dengan demikian, kirab ini memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Surakarta dan Jawa pada umumnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat semakin memahami dan menghargai warisan budaya leluhur, sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam menjalani kehidupan. Kirab malam selikuran menjadi bukti nyata bagaimana tradisi dapat menjadi media untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkokoh nilai-nilai luhur dalam masyarakat.
Semoga semangat keimanan dan kebaikan yang ditanamkan melalui kirab malam selikuran ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi generasi mendatang untuk senantiasa menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa.