Tradisi Ramadhan di Keraton Surakarta: Zakat Fitrah dan Kirab Malam Selikuran
Keraton Surakarta Hadiningrat menggelar tradisi Ramadhan, termasuk pembagian zakat fitrah kepada abdi dalem dan kirab Malam Selikuran, sebagai wujud syukur dan menjaga kelestarian budaya.

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar sejumlah tradisi unik dan penuh makna selama bulan Ramadhan tahun ini. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian penting dari kehidupan keraton, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas yang ingin menyaksikan kearifan lokal Jawa yang tetap lestari. Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah pembagian zakat fitrah dan pemberian uang kepada para abdi dalem dan sentono dalem.
Pembagian zakat fitrah ini berlangsung pada tanggal 27 Maret di Solo, Jawa Tengah. Ratusan abdi dalem tampak duduk tertib menerima zakat dan pepancen (uang) langsung dari Raja Paku Buwono XIII. Acara ini menjadi bukti nyata kepedulian dan penghargaan Raja kepada mereka yang telah setia mengabdi dan menjaga kelangsungan Keraton Surakarta.
KGPH Adipati Dipokusumo, perwakilan Keraton Surakarta, menjelaskan bahwa pemberian zakat fitrah dan uang tersebut merupakan bentuk ucapan terima kasih atas loyalitas tinggi para abdi dalem dan sentono dalem. Sebanyak 400 orang menerima bantuan tersebut, baik dari dalam keraton maupun yang berkaitan dengan wilayah sekitar keraton. Zakat fitrah yang diberikan berupa sembako dan makanan ringan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tradisi Zakat Fitrah di Keraton Surakarta
Pembagian zakat fitrah di Keraton Surakarta merupakan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Acara ini bukan sekadar pembagian bantuan sosial, melainkan juga simbol dari hubungan erat antara raja dan abdi dalemnya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan masih sangat dijunjung tinggi di lingkungan keraton.
Tradisi ini juga menjadi bukti nyata komitmen Keraton Surakarta dalam menjaga kesejahteraan dan kelangsungan hidup abdi dalemnya. Dengan memberikan bantuan berupa sembako dan uang, keraton membantu meringankan beban ekonomi para abdi dalem, terutama selama bulan Ramadhan.
Lebih dari itu, acara ini menjadi momen penting untuk memperkuat ikatan silaturahmi antara raja, abdi dalem, dan sentono dalem. Suasana penuh kekeluargaan dan rasa hormat terpancar dari setiap rangkaian acara pembagian zakat fitrah ini.
Kirab Malam Selikuran: Suasana Spiritual di Bulan Ramadhan
Selain pembagian zakat fitrah, Keraton Surakarta juga menggelar kirab Malam Selikuran pada tanggal 20 Maret. Kirab ini merupakan tradisi tahunan yang dilakukan atas perintah Kanjeng Sinuhun Paku Buwono ke-13. Malam Selikuran atau malam ke-21 Ramadhan memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Jawa.
Menurut Juru Bicara Keraton Surakarta Hadiningrat, KPA Dany Nur Adiningrat, kirab Malam Selikuran tahun ini diiringi dengan tumpeng Sewu. Tumpeng Sewu, yang bermakna malam seribu bulan, melambangkan harapan agar kebaikan di bulan Ramadhan dapat menginspirasi sebelas bulan berikutnya. Kirab ini menjadi simbol permohonan berkah dan keselamatan bagi seluruh masyarakat.
Kirab Malam Selikuran juga menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik minat banyak pengunjung. Acara ini menampilkan keindahan budaya Jawa, mulai dari iring-iringan gamelan, pakaian adat, hingga tumpeng Sewu yang megah. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga melestarikan dan mempromosikan budaya Jawa kepada generasi muda.
Melalui kedua tradisi ini, Keraton Surakarta menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya Jawa dan menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pembagian zakat fitrah dan Kirab Malam Selikuran menjadi bukti nyata bahwa tradisi keraton tetap hidup dan relevan di tengah modernisasi.